Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Berita Dunia Indonesia

WMO PBB: Karhutla Ancam Kualitas Udara Global

Wisnu Cipto - Selasa, 08 September 2026

MerahPutih.com - Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla), serta gelombang panas kini bukan sekadar isu lokal, melainkan ancaman serius bagi kualitas udara dunia.

Baca juga:

Kronologi Tragis Orangutan Sempurna Mati Akibat Kabut Asap, Sempat Kritis di Kebun Sawit

Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) PBB dalam Buletin Kualitas Udara dan Iklim terbaru memperingatkan bahwa polusi akibat karhutla berisiko menghambat upaya global memperbaiki kualitas udara serta melindungi kesehatan manusia dan ekosistem.

Memenuhi pedoman kualitas udara Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) akan menjadi semakin sulit, mengingat cuaca ekstrem yang memicu kebakaran diperkirakan akan meningkat di masa depan,

tulis laporan WMO, dikutip Selasa (8/9)

Baca juga:

Polri Tetapkan 113 Tersangka Karhutla, Tak Ada Satupun Korporasi Terjerat

Erupsi Asap Perparah Polusi

WMO menyoroti keterkaitan erat antara perubahan iklim dan polusi udara. Data menunjukkan kejadian asap kebakaran ekstrem meningkat tiga kali lipat sejak 1990-an, dengan studi memperkirakan kontribusi terhadap hampir 100.000 kematian tambahan setiap tahun antara 2010–2018.

Lebih mengkhawatirkan, model risiko konvensional disebut meremehkan angka kematian akibat karhutla hingga 93 persen, karena gagal memperhitungkan toksisitas tinggi dari partikel halus PM2.5 yang dihasilkan kebakaran.

Selain itu, gelombang panas memperparah polusi ozon di permukaan tanah. Dilansir Antara, suhu tinggi, udara stagnan, dan sinar matahari terik memicu pembentukan ozon yang berpotensi menyebabkan puluhan ribu kematian dini tambahan.

Baca juga:

Orangutan Hamil Selamat dari Kebakaran Hutan Kalimantan

Seruan Kebijakan Terpadu Lintas Negara

Buletin WMO menyerukan kebijakan terpadu untuk mengatasi perubahan iklim dan polusi udara secara bersamaan.

Badan PBB itu juga menekankan perlunya peningkatan pemantauan terhadap berbagai polutan baru, termasuk karbon hitam dan mikroplastik di atmosfer.

Baca Artikel Asli