MerahPutih.com - Pemprov DKI menyampaikan perkembangan terkini kasus COVID-19 di Jakarta Jumat (23/4). Dengan positivity rate 9,4 persen, penambahan kasus positif hari ini mencapai 884 jiwa.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta Dwi Oktavia memaparkan, pihaknya telah melakukan tes PCR sebanyak 10.202 spesimen. Dari jumlah tes tersebut, sebanyak 8.671 orang dites PCR hari ini untuk mendiagnosis kasus baru dengan hasil 884 positif dan 7.787 negatif.
Selain itu, dilakukan pula tes antigen hari ini sebanyak 3.843 orang dites, dengan hasil 69 positif dan 3.774 negatif. Hasil tes antigen positif di Jakarta tidak masuk dalam total kasus positif karena semua dikonfirmasi ulang dengan PCR.
Baca Juga:
Tak Ingin Seperti India, Wagub DKI Minta Semua Pihak Bantu Lawan COVID-19
Rate test PCR total per 1 juta penduduk sebanyak 344.251. Jumlah orang yang dites PCR sepekan terakhir sebanyak 65.362.
"Adapun jumlah kasus aktif di Jakarta naik sejumlah 158 kasus, sehingga jumlah kasus aktif sampai hari ini sebanyak 7.203 (orang yang masih dirawat/isolasi)," ungkap Dwi di Jakarta, Jumat (23/4).
Sedangkan jumlah kasus konfirmasi secara total di Jakarta sampai hari ini sebanyak 403.260 kasus. Dari jumlah tersebut, total orang dinyatakan telah sembuh sebanyak 389.445 dengan tingkat kesembuhan 96,6 persen,
Kemudian pasien yang meninggal dunia sebanyak 6.612 orang meninggal dunia dengan tingkat kematian 1,6 persen, sedangkan tingkat kematian Indonesia sebesar 2,7 persen.
Positivity rate atau persentase kasus positif sepekan terakhir di Jakarta sebesar 9,4 persen, sedangkan persentase kasus positif secara total sebesar 11 persen.
Baca Juga:
Warga India Positif COVID-19 'Kabur' ke Indonesia, Wagub DKI: Sudah Dikarantina
Positivity rate DKI ini melebihi standar kasus positif yang ditetapkan organisasi kesehatan dunia atau WHO yang hanya 5 persen.
"WHO juga menetapkan standar persentase kasus positif tidak lebih dari 5 persen," tuturnya.
Pemprov DKI terus memasifkan tes PCR untuk menemukan kasus baru secara cepat, agar dapat segera melakukan tindakan isolasi atau perawatan secara tepat. Sehingga, memperkecil potensi penularan COVID-19. (Asp)
Baca Juga:
Lonjakan Kasus COVID-19 di India Jadi Pelajaran Berharga Bagi Warga Indonesia