Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Berita Indonesia

Undecided Voters Masih Tinggi, Persaingan Kedua Capres Masih Ketat

Eddy Flo - Rabu, 06 Maret 2019

MerahPutih.Com - Persaingan elektabilitas antara pasangan Jokowi-Ma'ruf dan Prabowo-Sandi pada Pilpres 2019 masih ketat dan sengit. Hal ini disebabkan adanya 'undecided voters' atau pemilih yang belum tentukan pilihan yang masih tinggi.

Menurut lembaga survei Polmark Indonesia, menjelang pencoblosan tanggal 17 April nanti, jumlah undecided voters mencapai 33,8 persen. Artinya baik Jokowi-Ma'ruf maupun Prabowo-Sandi sama-sama masih berpeluang menang.

"Sampai saat ini, kedua pasangan capres-cawapres sama-sama berpeluang menang," ujar CEO PolMark Indonesia Eep Saefulloh Fatah saat memaparkan hasil survei PolMark Indonesia, di sela Forum Pikiran, Akal dan Nalar, di Surabaya, Selasa (5/3).

Pasangan Jokowi-Ma'ruf
Jokowi-Ma'ruf Amin. Foto: ANTARA

Menurut Eep yang juga konsultan politik itu, ketat persaingan kedua pasangan dilihat dari hasil survei tingkat elektabilitas, yakni capres nomor urut 01 Jokowi-Ma'ruf hingga Februari 2019 cenderung stagnan karena hanya 40,4 persen, sedangkan capres nomor urut 02 Prabowo-Sandiaga mencapai 25,8 persen.

Tingginya undecided voters menurut Eep Saefulloh Fatah menunjukan pertarungan Pilpres belum selesai.

"Ini berarti, pertarungan Pemilihan Presiden 2019 masih sangat ketat, karena masing-masing pasangan punya peluang untuk menang," ujarnya lagi.

Tingkat elektabilitas 40,4 persen bagi Jokowi yang merupakan capres petahana, kata dia, dinilai sangat berbahaya karena berdasarkan pengalamannya melakukan survei pilpres maupun pilkada selama 10 tahun, jika elektabilitas petahana jauh di bawah 50 persen maka membahayakan.

Pasangan Prabowo-Sandi
Sandiaga Uno dan Prabowo Subianto. Foto: @sandiuno

Indikator posisi Jokowi sangat rawan, lanjut Eep, juga bisa dilihat dari tingkat kesetiaan pemilih, yaitu pemilih Jokowi yang sudah mantap atau tidak berpindah hanya 31,5 persen, sedangkan pemilih Prabowo yang mantap 33,8 persen.

Sementara itu, survei PolMark dilakukan pada kurun waktu Oktober 2018 hingga Februari 2019 meliputi 73 daerah pemilihan (dapil) dari total 80 dapil di seluruh Indonesia atau jumlahnya hingga 92,9 persen dari pemilih pada pemilu mendatang.

Eep juga menyampaikan bahwa survei merupakan ikhtiar akademik yang bisa diuji dan layak jadi bahan perdebatan.

"Survei juga bukan vonis karena dilakukan dalam rentang waktu tertentu untuk memotret suatu keadaan saat itu. Jadi, pertarungan sesungguhnya baru akan terjadi pada hari H pemungutan suara," Eep Saefulloh Fatah sebagaimana dilansir Antara.

Pemilihan umum serentak digelar 17 April 2019, yakni memilih anggota DPRD II, DPRD I, DPR RI, DPD serta presiden dan wakil presiden periode 2019-2024.(*)

Baca berita menarik lainnya dalam artikel: Peneliti Bongkar Pendapatan Buzzer Politik Setara dengan UMR DKI Jakarta

Baca Artikel Asli