Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Hiburan & Gaya Hidup Fun

Toxic Productivity Tingkatkan Risiko Stres

Ananda Dimas Prasetya - Sabtu, 06 Juli 2024

Merahputih.com - Bagi beberapa orang setiap waktu adalah hal berharga, sehingga tak ingin membuangnya dengan sia-sia dan mendorong untuk melakukan banyak hal supaya selalu produktif. Namun, perilaku tersebut jika berlebihan akan berubah menjadi toxic productivity.

Produktivitas berlebih bisa menjadi hal yang tidak baik, seperti memaksakan diri melakukan banyak hal alias multitasking, memberikan tekanan berlebih untuk melakukan pencapaian dalam waktu bersamaan.

Laman Healthline melansir, orang yang produktif namun disertai tekanan berisiko mengalami tingkat stres hingga kematian lebih tinggi.

Lebih jauh, laporan yang dirilis oleh Organisasi Kesehatan Dunia dan Organisasi Perburuhan Internasional menemukan, bekerja lebih dari 55 jam seminggu dikaitkan dengan risiko kematian yang lebih tinggi.

Baca juga:

4 Zodiak ini Selalu Produktif Meski di Waktu Senggang

Pelatih bisnis dan penulis buku Joy of Business Simone Milasas mengatakan, orang yang terperangkap dalam toxic productivity tidak ada habisnya menyelesaikan tugas. Namun, masalah akan muncul ketika mereka tidak dapat menyelesaikan satu saja pekerjaannya. Hal ini berkaitan langsung dengan perasaan menderita dan bersalah.

"Merasa bersalah karena tidak berbuat lebih banyak. Bagi mereka yang menderita, terlalu banyak tidak pernah cukup," kata Milasas seperti yang dikutip dari laman huffpost, Jumat (5/7).

Baca juga:

Power Nap untuk Lebih Produktif

Will Cole, penulis Gut Feelings: Healing the Shame-Fueled Relationship Between What You Eat and How You Feel, mengatakan produktif yang berkedok tekanan justru menimbulkan tubuh tidak dapat bekerja dengan maksimal.

“Jika kamu tidak meluangkan waktu untuk istirahat, tubuhmu akan memilih waktu di mana kamu tidak dapat bekerja," jelas Cole.

Baca juga:

Lampiaskan Kemarahan dengan Cara Sehat dan Produktif

Di lain sisi, penulis Toxic Positivity Whitney Goodman menyebut, jarang sekali kita merasa bermanfaat jika seluruh harga diri terikat pada sesuatu yang mengatakan, untuk apa melakukan banyak hal namun sampai menyakiti kesehatan mental dan hasil pekerjaan produktif itu tidak berhasil maksimal.

"Bersifat eksternal, bahkan sesuatu yang tampak positif seperti 'kesuksesan'. Jika seseorang terlalu fokus pada produktivitas, mereka mungkin akan melewatkan waktu istirahat atau bentuk lain dari merawat diri mereka sendiri. Hal ini pasti dapat mengakibatkan masalah kesehatan. Tidak mengherankan, ketika produktivitas ini mulai mengganggu kesejahteraan, hubungan dan performa kerja kamu juga bisa terganggu," ujar Goodman. (tka)

Baca Artikel Asli