Toxic Productivity Tingkatkan Risiko Stres

Ananda Dimas PrasetyaAnanda Dimas Prasetya - Sabtu, 06 Juli 2024
Toxic Productivity Tingkatkan Risiko Stres

Produktif juga ada batasnya. (Foto: Pexels/Cottonbro Studio)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

Merahputih.com - Bagi beberapa orang setiap waktu adalah hal berharga, sehingga tak ingin membuangnya dengan sia-sia dan mendorong untuk melakukan banyak hal supaya selalu produktif. Namun, perilaku tersebut jika berlebihan akan berubah menjadi toxic productivity.

Produktivitas berlebih bisa menjadi hal yang tidak baik, seperti memaksakan diri melakukan banyak hal alias multitasking, memberikan tekanan berlebih untuk melakukan pencapaian dalam waktu bersamaan.

Laman Healthline melansir, orang yang produktif namun disertai tekanan berisiko mengalami tingkat stres hingga kematian lebih tinggi.

Lebih jauh, laporan yang dirilis oleh Organisasi Kesehatan Dunia dan Organisasi Perburuhan Internasional menemukan, bekerja lebih dari 55 jam seminggu dikaitkan dengan risiko kematian yang lebih tinggi.

Baca juga:

4 Zodiak ini Selalu Produktif Meski di Waktu Senggang

Pelatih bisnis dan penulis buku Joy of Business Simone Milasas mengatakan, orang yang terperangkap dalam toxic productivity tidak ada habisnya menyelesaikan tugas. Namun, masalah akan muncul ketika mereka tidak dapat menyelesaikan satu saja pekerjaannya. Hal ini berkaitan langsung dengan perasaan menderita dan bersalah.

"Merasa bersalah karena tidak berbuat lebih banyak. Bagi mereka yang menderita, terlalu banyak tidak pernah cukup," kata Milasas seperti yang dikutip dari laman huffpost, Jumat (5/7).

Baca juga:

Power Nap untuk Lebih Produktif

Will Cole, penulis Gut Feelings: Healing the Shame-Fueled Relationship Between What You Eat and How You Feel, mengatakan produktif yang berkedok tekanan justru menimbulkan tubuh tidak dapat bekerja dengan maksimal.

“Jika kamu tidak meluangkan waktu untuk istirahat, tubuhmu akan memilih waktu di mana kamu tidak dapat bekerja," jelas Cole.

Baca juga:

Lampiaskan Kemarahan dengan Cara Sehat dan Produktif

Di lain sisi, penulis Toxic Positivity Whitney Goodman menyebut, jarang sekali kita merasa bermanfaat jika seluruh harga diri terikat pada sesuatu yang mengatakan, untuk apa melakukan banyak hal namun sampai menyakiti kesehatan mental dan hasil pekerjaan produktif itu tidak berhasil maksimal.

"Bersifat eksternal, bahkan sesuatu yang tampak positif seperti 'kesuksesan'. Jika seseorang terlalu fokus pada produktivitas, mereka mungkin akan melewatkan waktu istirahat atau bentuk lain dari merawat diri mereka sendiri. Hal ini pasti dapat mengakibatkan masalah kesehatan. Tidak mengherankan, ketika produktivitas ini mulai mengganggu kesejahteraan, hubungan dan performa kerja kamu juga bisa terganggu," ujar Goodman. (tka)

#Kesehatan Mental
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Berita Terkait

ShowBiz
Britney Spears Kenang 15 Tahun Bekerja Tanpa Henti, Ungkap Kepahitan soal Kebebasan Pribadi
Britney Spears mengenang 15 tahun bekerja tanpa henti, masa konservatori, dan keinginannya menjalani hidup dengan lebih bebas.
Ananda Dimas Prasetya - Rabu, 14 Oktober 2026
Britney Spears Kenang 15 Tahun Bekerja Tanpa Henti, Ungkap Kepahitan soal Kebebasan Pribadi
Lifestyle
Anak Sering Main Roblox? Begini Cara Cegah Kecanduan dan Jaga Kewarasan Mentalnya
Khawatir anak kecanduan atau kena cyberbullying? Simak panduan lengkap dan fitur pengawasan orang tua dari Roblox untuk menjaga kesehatan mental anak saat main gim online.
Angga Yudha Pratama - Sabtu, 10 Oktober 2026
Anak Sering Main Roblox? Begini Cara Cegah Kecanduan dan Jaga Kewarasan Mentalnya
Fun
Mindfulness Jadi Sorotan Usai Konten Maudy Ayunda, Ini Makna dan Cara Menerapkannya
Konten Maudy Ayunda tentang mindfulness dan berita buruk menuai perdebatan. Lantas, apa sebenarnya arti mindfulness dan bagaimana menerapkannya?
Ananda Dimas Prasetya - Selasa, 15 September 2026
Mindfulness Jadi Sorotan Usai Konten Maudy Ayunda, Ini Makna dan Cara Menerapkannya
Indonesia
Makin Banyak Warga Jakarta Cek Kesehatan Jiwa, Kesehatan Mental Jadi Penting
Selama ini, kesehatan mental masih belum ditempatkan sebagai salah satu prioritas dalam sistem membangun kesehatan daera
Alwan Ridha Ramdani - Kamis, 02 Juli 2026
Makin Banyak Warga Jakarta Cek Kesehatan Jiwa, Kesehatan Mental Jadi Penting
ShowBiz
Yacko Rilis 'Unbreakable Me', Jadi Anthem Perempuan Bangkit dan Lawan Trauma
Yacko merilis 'Unbreakable Me', anthem tentang pemulihan kesehatan mental perempuan. Lagu ini juga jadi bagian kampanye di Sydney Marathon 2026.
Ananda Dimas Prasetya - Rabu, 29 April 2026
Yacko Rilis 'Unbreakable Me', Jadi Anthem Perempuan Bangkit dan Lawan Trauma
Lifestyle
Jangan Dianggap Sepele, Stigma Menstruasi Bisa Ganggu Kesehatan Mental
Psikiater mengungkap stigma dan ejekan saat menstruasi bisa memicu tekanan mental. Perempuan didorong berani membela diri dan memahami kondisi.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 23 April 2026
Jangan Dianggap Sepele, Stigma Menstruasi Bisa Ganggu Kesehatan Mental
Lifestyle
Bukan Sekadar PMS, PMDD Bisa Berdampak Serius hingga Picu Depresi Berat
PMDD adalah gangguan menjelang haid yang lebih berat dari PMS. Psikiater ingatkan gejalanya bisa picu depresi hingga butuh penanganan serius.
Ananda Dimas Prasetya - Selasa, 21 April 2026
Bukan Sekadar PMS, PMDD Bisa Berdampak Serius hingga Picu Depresi Berat
Indonesia
Kemenkes Kritik Film ‘Aku Harus Mati’, Khawatirkan Perilaku Meniru
Menurut pihak Kemenkes, baliho itu berpotensi memicu peniruan tindakan bunuh diri, terutama di tengah tren kenaikan signifikan angka kematian di Indonesia.
Dwi Astarini - Selasa, 07 April 2026
Kemenkes Kritik Film ‘Aku Harus Mati’, Khawatirkan Perilaku Meniru
Indonesia
Promosi Film Horor "Aku Harus Mati" Dinilai Berdampak Buruk Bagi Kesehatan Mental Anak dan Remaja P
Sekitar 10 persen remaja mengalami gangguan kesehatan mental. Pada remaja dengan kerentanan psikologis seperti mereka, baliho film semacam "Aku Harus Mati" bisa memunculkan gagasan yang membahayakan.
Alwan Ridha Ramdani - Selasa, 07 April 2026
Promosi Film Horor
Indonesia
Hasil CKG, Ratusan Ribu Anak Diketahui Alami Cemas dan Depresi
Saat ini pemerintah juga mempercepat pemenuhan tenaga psikolog klinis di Puskesmas yang jumlahnya masih terbatas,
Alwan Ridha Ramdani - Senin, 09 Maret 2026
Hasil CKG, Ratusan Ribu Anak Diketahui Alami Cemas dan Depresi
Bagikan