MerahPutih.com - Tokoh disabilitas Indonesia, Senny Marbun resmi terpilih sebagai presiden federasi olahraga disabilitas Asia Tenggara, APSF, untuk periode kepengurusan 2026-2030.
Senny Marbun unggul dalam voting yang melibatkan perwakilan dari sebelas negara anggota APSF di Grand Ballroom Hotel Alila Solo, Sabtu (6/6).
Senny mendapatkan tujuh suara, sementara calon lain dari Thailand, Maitree Kongruang, hanya mendapatkan empat suara.
Senny Marbun pun akan memimpin era baru APSF, menggantikan Osoth Bhavilai dari Thailand, yang telah menjabat sebagai presiden selama sepuluh tahun.
Baca juga:
Taman Puring Bakal jadi Ruang Ramah Disabilitas, Ditetapkan sebagai Prioritas Pemprov DKI
Dalam menjalankan roda organisasi, Senny akan dibantu jajaran komite eksekutif terbaru, yakni Teo-Koh Sock Miang (Singapura), Y.E. Yi Veasna (Kamboja), Michael Barredo (Filipina) dan Than Than Htay (Myanmar). Empat figur tersebut menjabat sebagai wakil presiden di empat bidang yang berbeda.
Kemudian Ali Yusri Abdul Ghafur dari Brunei Darussalam yang menempati jabatan sebagai bendahara serta Sukanti Rahardjo Bintoro dari Indonesia yang menjabat sebagai sekretaris jenderal.
Senny Marbun bukan orang baru di olahraga disabilitas kawasan Asia Tenggara, pria kelahiran Siborongborong, 9 April 1954 ini sebelumnya menjabat wakil presiden APSF Media and Communications Committee periode 2022-2026.
Mantan atlet lempar para atletik ini, adalah tokoh penting yang menginiasiasi terselenggaranya ASEAN Para Games Solo 2022 setelah sebelumnya batal terselenggara di Filipina 2019 dan Vietnam 2021.
"Saya ingin prestasi negara-negara di Asia Tenggara lebih maju lagi kedepannya. Karena kalau melihat (prestasi) Indonesia, sebenarnya sudah melampaui batas ya. Kita sudah pernah juara tiga kali berturut-turut di ASEAN Para Games, dan capaian medali Indonesia juga bagus di Paralympic. Sekarang saya ingin negara-negara Asia Tenggara mengikuti jejak Indonesia agar bisa terus melangkah kedepan," kata Senny, Minggu (7/6).
Senny akan menjadikan pengalaman panjangnya membesarkan NPC Indonesia sebagai bekal memajukan negara-negara anggota APSF. Salah satu hal yang masih dilihat Senny ketika mengikuti kegiatan di kawasan Asia Tenggara adalah perbedaan perhatian dari pemerintah-pemerintah sebelas negara anggota APSF.
"Negara-negara di ASEAN itu masih banyak yang memarjinalkan masyarakat difabel. Itu yang perlu kita bangkitkan semangat negara-negara tersebut agar bisa seperti Indonesia, karena kita dahulu juga sama-sama termarjinalkan, tetapi kemudian Indonesia sudah luar biasa,” kata dia.
Ia menyebut kepengurusan APSF periode 2026-2030 memiliki tugas untuk mendampingi anggotanya yang akan bertarung dalam ajang ASIAN Para Games 2026 di Nagoya, Jepang, pada bulan Oktober mendatang. Dan, yang paling dinantikan adalah pesta olahraga disabilitas Asia Tenggara, yakni ASEAN Para Games 2027 yang akan dilangsungkan di Malaysia.
Teo-Koh Sock Miang selaku wakil presiden bidang olahraga dan teknis mengungkapkan rencana APSF, berkaitan dengan program jangka pendek dan jangka panjang. Salah satu hal yang coba dilakukan adalah menyelenggarakan single event di negara-negara yang olahraga disabilitasnya belum berkembang.
"Kita harus mengakui bahwa masih ada negara-negara yang belum siap dan belum mampu menyelenggarakan kompetisi multievent yang mencakup banyak cabang olahraga. Kita akan mendorong negara-negara tersebut untuk menggelar single event, agar bidang-bidang yang lain ikut terangkat,” kata Miang.
Ia menambahkan terobosan lain yang juga coba untuk dilakukan kepengurusan baru APSF, yakni menyelenggarakan multievent olahraga khusus untuk generasi muda. Keberadaan kompetisi ini memungkinkan setiap negara anggota APSF melakukan regenerasi atlet.
"Kita harus sadar untuk mulai memperhatikan generasi berikutnya, agar tidak terjadi generation gap. Kita mulai memikirkan untuk bisa menyelenggarakan youth games,” pungkasnya. (Ismail/Jawa Tengah).