Merahputih.com - Penumpang berjalan di Jembatan Penyebrangan Orang (JPO) Terminal Manggarai, Jakarta, Selasa (25/8/2026).
Di tengah hiruk-pikuk lalu lintas Ibu Kota, Terminal Manggarai di Jalan Sultan Agung, Jakarta Selatan, selama bertahun-tahun tampak lengang setelah aktivitas bus Kopaja dan Metromini berkurang. Kini, kawasan tersebut diarahkan menjadi simpul integrasi transportasi yang mempertemukan TransJakarta, LRT Jakarta, dan KRL Commuter Line melalui pengembangan Terminal Manggarai. Terminal yang direvitalisasi pada 2013 dan diresmikan kembali sekitar 2014 itu juga menjadi bagian dari pengembangan kawasan berorientasi transit atau Transit-Oriented Development (TOD) Manggarai.
PT Kereta Api Indonesia (Persero) mengembangkan kawasan TOD Manggarai dengan memperkuat integrasi antara Stasiun Manggarai, Terminal Manggarai, konektivitas pejalan kaki, perpindahan antarmoda, ruang publik, hunian, dan aktivitas perkotaan. Stasiun Manggarai saat ini melayani sekitar 162 ribu pelanggan per hari dengan 700–750 perjalanan kereta api. Tingginya mobilitas tersebut mendorong KAI menata kawasan secara terpadu agar perpindahan antarmoda semakin mudah dan efisien.
Kawasan TOD Manggarai memiliki delineasi sekitar 129 hektare, dengan sekitar 64 hektare merupakan lahan KAI. Pengembangannya dilakukan secara bertahap dengan mengintegrasikan KRL Commuter Line, Commuter Line Bandara Soekarno-Hatta, TransJakarta, Terminal Manggarai, serta LRT Jakarta. Penataan ini diharapkan menghidupkan kembali kawasan yang sempat mati suri sekaligus menjadikan Manggarai sebagai salah satu pusat konektivitas dan aktivitas baru di Jakarta Selatan. (Foto: MP/Didik Setiawan).