Lembaga survei Alvara Research Center merilis hasil survei elektabilitas tiga kontestan Pilkada DKI Jakarta 2017 jelang pencoblosan.
Berdasarkan survei yang dilakukan 6-8 Februari 2017 tersebut, elektabilitas Ahok-Djarot tertinggi yakni mencapai 38,3 persen kemudian disusul pasangan nomor 3 Anies-Sandi dengan elektabilitas 32,6 persen dan pasangan Agus-Sylvi dengan elektabilitas 20,1 persen.
CEO Alvara Hasanuddin Ali menuturkan survei yang dilakukan berbarengan sidang kesembilan terdakwa penista agama Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok menempatkan Ahok tetap unggul. Dengan kenaikan 3 persen. Uniknya, terjadi pergeseran suara terjadi antara pasangan nomor 1 dan 3.
"Ada pergeseran suara pertama ada penurunan cukup tajam di paslon 1, 11 persen lebih. Kemudian kalau kita lihat sebaliknya di paslon nomor 3 ada kenaikan cukup signifikan. Jadi terlihat ada pergeseran suara dari nomor 1 ke nomor 3," katanya di Cikini, Jakarta Pusat, Jumat (10/2).
Sementara itu, terkait perseteruan Ahok dengan Ketua MUI KH Ma'ruf Amin, membuat elektabilitas Ahok turun.
"Yang kedua terkait dengan polemik sidang antara Pak Ahok dan Pak Ma'ruf Amin. Ahok agak turun cuma nggak terlalu signifikan dan ternyata suara paslon 1 di kalangan Nahdliyin juga turun. Ini menunjukkan respon yang dilakukan oleh Pak SBY yang dilakukan di medsos ternyata berpengaruh di kalangan Nahdliyin juga," ujarnya.
Di sisi lain, lanjut Hasanuddin, elektabilitas Anies-Sandiaga meningkat.
"Dalam kasus Ahok dan Ma'ruf Amin kemarin Pak Anies nggak terlalu banyak merespon. Itu ternyata positif artinya publik sudah capek dengan debat yang tidak polemik yang banyak memusingkan publik," ujar Hasanuddin.
Hasanuddin memperkirakan Pilgub DKI Jakarta akan berlangsung 2 putaran.
Survei ini metodologi multistage random sampling. Ada 811 responden yang disurvei di 105 kelurahan. Margin of error kurang lebih 3,4 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen. Sementara jumlah responden yang belum menentukan yakni 9 persen.