Sejarah Perjalanan Gedung Pancasila Melintasi Tiga Zaman

Kamis, 01 Juni 2017 - Luhung Sapto

Gedung Pancasila yang digunakan sebagai tempat upacara peringatan Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2017 menjadi saksi perjalanan bangsa Indonesia mulai dari masa kolonial, penjajahan Jepang dan pascakemerdekaan.

Beberapa literatur menunjukkan bangunan ini berdiri sejak kira-kira pada tahun 1830. Tapi tidak ada catatan resmi kapan tepatnya Gedung Pancasila tersebut mulai dibangun.

Mengutip dari laman resmi Kementerian Luar Negeri, awalnya gedung tersebut dibangun sebagai rumah kediaman Panglima Angkatan Perang Kerajaan Belanda di Hindia Belanda, yang juga merangkap sebagai Letnan Gubernur Jenderal. Rumah itu kemudian dijual karena Departemen Urusan Peperangan Hindia Belanda dipindahkan ke Bandung, pada tahun 1914-1917 yang diikuti juga dengan kepindahan Panglima ke kota tersebut.

Fungsi rumah itu kemudian diubah menjadi Gedung Volksraad (Dewan Perwakilan Rakyat) dan diresmikan oleh Gubernur Jenderal Limburg Stirum pada Mei 1918.

Saat Jepang mulai terdesak, Saiko Syikikan (Penguasa Tertinggi Pemerintah Militer Jepang) mengumumkan pembentukan Dokuritsu Zyunbi Tjoosakai atau Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPK) pada tanggal 1 Maret 1945.

Pembentukan BPUPK tersebut ialah agar rakyat Indonesia tetap memberikan dukungan kepada Jepang di saat kedudukan militer Jepang di front Pasifik mulai goyah.

Badan mempelajari soal-soal yang berhubungan dengan segi-segi politik, ekonomi, dan tata-pemerintahan yang diperlukan dalam usaha pembentukan Indonesia yang merdeka "di kelak kemudian hari".

Di masa pendudukan Jepang, gedung yang terletak di Jalan Pejambon No 6 Jakarta Pusat ini menjadi tempat berlangsungnya sidang BPUPK. diadakan dari tanggal 29 Mei 1945 sampai 1 Juni 1945 dan dilanjutkan mulai tanggal 10-17 Juli 1945. Pada masa itu gedung ini dinamakan Gedung Tyuuoo Sangi-In.

Pada tanggal 1 Juni 1945, Presiden pertama RI Ir Sukarno yang saat itu merupakan anggota BPUPK, membacakan kelima sila dalam Pancasila dalam sebuah pidato untuk menjawab pertanyaan Ketua BPUPK, Dr. KRT Radjiman Wedyodiningra mengenai dasar negara Indonesia.

Di penghujung tahun 1965 dan awal 1966, Gedung Pancasila menjadi sasaran demonstrasi Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) yang menentang komunis. Beberapa sisi bangunan dirusak oleh massa pendemo.

Kemudian, Departemen Luar Negeri melakukan pemugaran teerhadap Gedung Pancasila pada tahun 1973 sampai 1975. Pemugaran selesai bertepatan dengan Hari Ulang Tahun Departemen Luar Negeri ke-30 pada tanggal 19 Agustus 1975 dan diresmikan oleh Presiden kedua RI Soeharto serta diberi nama Gedung Pancasila.

Sejak Januari 2002 hingga saat ini Gedung Pancasila juga menjadi tuan rumah untuk acara jamuan makan pagi Foreign Policy Breakfast, dimana Menteri Luar Negeri mengundang para pemimpin dan tokoh dari kelompok-kelompok masyarakat untuk mendiskusikan kebijakan luar negeri dan masalah-masalah hubungan internasional.

Bagikan

Baca Original Artikel
Bagikan