Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Hiburan & Gaya Hidup ShowBiz

Dari Rhoma Irama hingga Hipdut, Perjalanan Dangdut yang Terus Berevolusi

Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 29 Oktober 2026

MerahPutih.com - Dangdut telah melewati perjalanan panjang sebelum menjadi salah satu genre musik yang lekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia. Berawal dari akar musik Melayu, genre ini berkembang melalui sentuhan rock, pop, elektronik, hingga hip-hop yang kini melahirkan warna baru bernama hipdut.

Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa dangdut bukan sekadar musik untuk hiburan atau mengiringi perayaan. Di dalamnya terdapat perubahan selera pendengar, kreativitas para musisi, serta kemampuan beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan budaya populer.

Momentum untuk kembali menelusuri perjalanan dangdut hadir setelah pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kebudayaan meluncurkan kampanye Dangdut Goes to UNESCO pada 18 Oktober 2026. Kampanye ini merupakan bagian dari upaya mendorong dangdut agar diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda dunia oleh UNESCO, dengan target pengusulan pada 2027.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon menekankan pentingnya keterlibatan musisi, komunitas, seniman, dan pegiat budaya untuk menjaga keberlangsungan dangdut sekaligus memperkenalkannya kepada masyarakat internasional.

Dari orkes Melayu dan dangdut klasik yang dipopulerkan Rhoma Irama, gelombang dangdut koplo yang mengguncang panggung hiburan, hingga hipdut yang dekat dengan generasi digital, setiap era membawa perubahan tersendiri. Namun, dangdut tetap memiliki benang merah berupa ritme yang khas dan kedekatan dengan pengalaman sehari-hari masyarakat.

Akar Musik Melayu dan Lahirnya Dangdut Klasik

Rhoma

Sebelum istilah dangdut dikenal luas, musik Melayu telah menjadi bagian penting dari hiburan masyarakat Indonesia. Pada dekade 1950-an hingga 1960-an, musik Melayu Deli berkembang melalui orkes-orkes yang memainkan melodi khas Melayu dengan menyerap pengaruh musik India dan Timur Tengah.

Salah satu kelompok yang berperan dalam perkembangan awal tersebut adalah Orkes Melayu (OM) Bukit Siguntang. Pada masa itu, musik Melayu mulai mengalami perubahan melalui penggunaan instrumen modern serta pengaruh film-film India yang populer di Indonesia.

Perpaduan berbagai unsur musikal tersebut menjadi bagian dari proses terbentuknya dangdut. Istilah dangdut sendiri diyakini berasal dari tiruan bunyi gendang yang menjadi salah satu ciri khas ritmenya.

Memasuki dekade 1970-an, dangdut berkembang menjadi genre musik populer dengan karakter yang semakin kuat. Rhoma Irama menjadi salah satu figur paling berpengaruh pada periode ini. Bersama Soneta Group, ia memadukan unsur Melayu dengan rock, gitar listrik, organ, serta permainan ritmis yang lebih bertenaga.

Baca juga:

Indonesia Usulkan Tari Zapin ke UNESCO, Gandeng Malaysia, Brunei, dan Singapura

Pengaruh Rhoma tidak hanya terlihat dari sisi musikal. Melalui lagu-lagunya, ia turut mengangkat tema sosial, kritik terhadap ketimpangan, nilai keagamaan, hingga persoalan kehidupan sehari-hari. Pengaruhnya yang besar membuat Rhoma Irama dikenal luas dengan julukan Raja Dangdut.

Di sisi lain, Elvy Sukaesih menjadi salah satu penyanyi perempuan paling berpengaruh pada era dangdut klasik. Karakter vokalnya yang kuat menempatkannya sebagai figur penting dalam perkembangan genre ini. A. Rafiq juga memperkaya lanskap dangdut melalui gaya panggung yang energik dan pengaruh musik India dalam sejumlah karyanya.

Pada masa tersebut, dangdut semakin menempati posisi penting dalam industri hiburan nasional. Musik ini hadir di berbagai ruang, mulai dari panggung rakyat dan hajatan hingga radio, televisi, serta layar lebar.

Era 1980-an: Dangdut Merangkul Pop dan Musik Elektronik

Memasuki dekade 1980-an, dangdut mulai menyesuaikan diri dengan selera pasar yang semakin beragam. Musik ini tidak lagi hanya mengandalkan pola klasik, tetapi juga merangkul unsur pop dengan melodi yang lebih mudah diterima pendengar arus utama.

Rita Sugiarto, Mansyur S., Meggy Z, dan Evie Tamala menjadi bagian penting dari perkembangan dangdut pada periode tersebut. Lagu-lagu bertema asmara, pengkhianatan, dan kesedihan semakin memperkuat kedekatan dangdut dengan pengalaman sehari-hari masyarakat.

Pada periode berikutnya, dangdut juga mulai bersentuhan dengan musik disko dan elektronik. Perkembangan perangkat musik modern membuka peluang bagi para musisi untuk menghadirkan aransemen yang lebih dinamis.

Perubahan tersebut memperluas ruang eksplorasi dangdut sekaligus membuka jalan bagi genre ini untuk menjangkau lingkungan hiburan yang lebih luas, termasuk kalangan anak muda.

Dangdut Koplo Mengubah Panggung Hiburan

Arsip

Salah satu perubahan paling signifikan dalam perjalanan dangdut terjadi melalui kemunculan dangdut koplo yang berkembang di Jawa Timur pada akhir 1990-an hingga awal 2000-an.

Berbeda dari dangdut klasik, koplo mengandalkan permainan kendang yang lebih cepat, hentakan ritmis yang kuat, serta aransemen yang dirancang untuk menghidupkan suasana panggung. Musik ini tumbuh melalui kelompok-kelompok orkes Melayu, termasuk OM Monata dan OM New Pallapa.

Pada awal 2000-an, Inul Daratista menjadi salah satu figur yang membawa fenomena koplo ke perhatian nasional. Goyang ngebor yang menjadi ciri khasnya memicu perdebatan, sekaligus memperlihatkan besarnya pengaruh dangdut dalam budaya populer Indonesia.

Perkembangan koplo berlanjut melalui kehadiran penyanyi seperti Via Vallen dan Nella Kharisma. Keduanya ikut memperluas jangkauan musik ini melalui pendekatan pop yang lebih modern.

Peredaran video melalui YouTube dan media sosial kemudian membantu lagu-lagu koplo menjangkau pendengar di luar basis penggemar tradisionalnya. Panggung daerah tidak lagi menjadi satu-satunya ruang bagi musik ini untuk berkembang, karena distribusi digital membuka peluang bagi lagu-lagu koplo dikenal lebih luas.

Baca juga:

Dangdut Goes to UNESCO: Kenali 13 Musisi yang Membentuk Wajah Dangdut Indonesia

Hipdut, Pertemuan Dangdut dan Hip-Hop di Era Digital

Trio

Memasuki era digital, batas antara dangdut dan genre musik lain semakin terbuka. Salah satu perkembangan terbaru adalah hipdut, perpaduan unsur dangdut dengan hip-hop, trap, serta musik elektronik.

Eksperimen yang mempertemukan dangdut dan hip-hop sebenarnya telah muncul sebelum istilah hipdut populer. Saykoji dan NDX AKA merupakan beberapa nama yang memperlihatkan pertemuan kedua pendekatan tersebut dalam perkembangan musik Indonesia.

Hipdut kemudian memperoleh momentum besar melalui lagu Garam dan Madu (Sakit Dadaku) yang dirilis Tenxi, Naykilla, dan Jemsii pada Desember 2024.

Perpaduan vokal bernuansa rap, produksi modern, dan elemen ritmis yang dekat dengan dangdut membuat lagu tersebut menarik perhatian generasi muda. Popularitasnya turut memperkenalkan hipdut kepada pendengar yang sebelumnya mungkin tidak terlalu akrab dengan dangdut.

TikTok dan platform streaming juga berperan dalam memperluas jangkauan lagu tersebut. Perkembangan ini memperlihatkan bagaimana distribusi musik digital dapat membantu sebuah gaya bermusik tumbuh menjadi fenomena nasional.

Meski demikian, hipdut bukanlah genre yang lahir dari satu musisi saja. Perkembangannya merupakan bagian dari perjalanan panjang eksperimen musik Indonesia, mulai dari dangdut klasik hingga perpaduan hip-hop dan produksi digital masa kini.

Baca juga:

Dari King Nassar hingga NDX AKA, Catat nih Agenda Musik Dangdut November 2026

Dangdut Berubah, tetapi Tetap Dekat dengan Masyarakat

Perjalanan dangdut memperlihatkan bahwa genre ini tidak pernah berhenti pada satu bentuk. Rhoma Irama memperkuat identitas dangdut melalui perpaduan musik Melayu dan rock. Inul Daratista menjadi salah satu simbol perubahan koplo di panggung nasional, sedangkan Tenxi, Naykilla, dan Jemsii menunjukkan bagaimana dangdut dapat beradaptasi dengan selera generasi digital.

Setiap generasi menghadirkan cara baru untuk memainkan, memproduksi, dan menikmati dangdut. Perubahan itu berlangsung seiring perkembangan teknologi, pergeseran selera pendengar, serta keberanian musisi untuk mengeksplorasi unsur musik yang berbeda.

Dari panggung orkes Melayu hingga layar ponsel, dangdut terus menemukan pendengar baru. Kemampuannya untuk menyerap pengaruh dari berbagai genre sekaligus mempertahankan kedekatannya dengan kehidupan masyarakat menjadi bagian penting dari perjalanan musik ini. (Far)

Baca Artikel Asli