MerahPutih, Keuangan-Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS terpuruk di level terendah sejak krisis tahun 1998 silam. Rupiah menyentuh Rp13.500 per dollar AS hari ini.
Bank Indonesia (BI) berpendapat pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS dalam beberapa pekan terakhir merupakan dampak perbaikan ekonomi AS. "Kelihatannya ekonomi AS tumbuh lebih baik 2,3 persen, ada perbaikan diemployment (ketenagakerjaan). Kalau kondisi AS baik, orang menduga Fed Fund Rate akan naik," kata Gubernur BI Agus Martowardojo di Jakarta, Jumat (31/7).
Mantan Menteri Keuangan ini menambahkan melemahnya rupiah juga disebabkan pada akhir Juli ini ada permintaan dolar AS yang cukup tinggi untuk pembayaran utang.
Agus mengatakan saat ini kondisi rupiah sangat dipengaruhi oleh perkembangan ekonomi dunia. Menurutnya, depresiasi rupiah masih relatif lebih baik dibandingkan negara berkembang lainnya di regional dan dunia.
Sementara itu, Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro menegaskan belum ada tanda-tanda yang mengindikasikan Indonesia dalam krisis finansial. "Inflasi saat ini terkendali. Ketika rupiah melemah tajam, inflasi luar biasa pada 1998. Waktu 1998, rupiah melemah, pertumbuhan ekonomi juga negatif minus 14 persen. Kalau sekarang pertumbuhan aman meski melambat," ujarnya.
Pelemahan rupiah, menurut Menkeu, terjadi akibat penguatan dolar AS karena rencana normalisasi kebijakan moneter The Fed (Bank Sentral AS) yang terus menimbulkan spekulasi dan ketidakpastian perekonomian global.
Namun, ia memastikan bahwa pemerintah dan para investor telah mengantisipasi (price in) apabila suku bunga acuan The Fed benar-benar mengalami kenaikan karena hal tersebut telah menjadi proyeksi berbagai pihak sejak awal. (Luh)
Baca Juga:
Menkeu Pelajari Status Dana Talangan
Rupiah Makin Lemah, Gubernur BI Minta Rakyat Tidak Khawatir