MerahPutih.com - Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, menegaskan bahwa Jakarta harus menjadi wadah bagi masyarakat untuk berkumpul, berdiskusi, dan menyampaikan pendapat secara bebas.
Pernyataan tersebut disampaikan Rano saat menghadiri kuliah umum bertajuk Jalan Buntu Reformasi di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (18/7).
Menurutnya, sebagai kota metropolitan, Jakarta perlu didukung oleh ekosistem ruang publik yang inklusif serta mampu mendorong tumbuhnya budaya dialog di tengah masyarakat.
Jakarta harus tetap menjadi kota tempat masyarakat bebas berkumpul, berpendapat, dan berdiskusi tanpa rasa takut. Taman Ismail Marzuki, kampus-kampus, serta ruang publik lainnya harus selalu terbuka bagi forum-forum diskusi ilmiah dan kritis,
Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno.
Kisah Si Doel Jadi Cerminan Perubahan Sosial Jakarta
Selain menyoroti pentingnya keterbukaan ruang publik, Rano juga merefleksikan transformasi sosial Jakarta melalui analogi budaya populer Si Doel.
Menurutnya, kisah tersebut bukan sekadar hiburan, melainkan representasi perjuangan masyarakat dalam menghadapi tantangan modernisasi, penataan kota, dan pemenuhan kebutuhan hunian.
Karena itu, ia menilai perjuangan masyarakat untuk memperoleh akses pendidikan, lapangan pekerjaan, dan hunian yang layak harus menjadi pijakan dalam penyusunan maupun pelaksanaan kebijakan pembangunan di Jakarta.
"Semangat kepedulian sosial harus hadir secara nyata dalam bentuk kebijakan, bukan sekadar pidato formal. Indikator keberhasilan setiap kebijakan di Jakarta adalah sejauh mana kebijakan tersebut mampu mempermudah dan memanusiakan kehidupan warga, terutama dalam aspek hunian, penataan kota, serta akses terhadap layanan dasar," tegasnya.
Baca juga:
Rano Karno Menangis di Paripurna HUT ke-499 Jakarta, Soroti Masa Depan Menuju Kota Global
Ajak Warga Tetap Optimistis Hadapi Tantangan Pembangunan
Menanggapi dinamika pembangunan dan tantangan reformasi yang dipaparkan Guru Besar Studi Asia University of Melbourne, Profesor Vedi R. Hadiz, Rano mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tetap optimistis menghadapi berbagai tantangan pembangunan.
Ia kemudian mengutip filosofi masyarakat Betawi yang menggambarkan pentingnya mencari jalan keluar dalam setiap persoalan.
"Orang Betawi memiliki ungkapan, 'Kalau jalan buntu jangan berhenti, cari gang, cari lorong'. Jakarta adalah kota seribu gang. Melalui ruang-ruang kecil yang humanis, warga berinteraksi dan berdiskusi. Dari sanalah solusi-solusi pragmatis untuk memajukan kota kerap lahir," pungkasnya. (Asp)