Perayaan Hari Raya Nyepi dan Penurunan Gas-gas Polutan Sampai 80 Persen
Jumat, 16 Maret 2018 -
MerahPutih.com - Perayaan Hari Raya Nyepi di Bali, Sabtu (17/3) membuat semua aktivitas warga seluruh Bali hampir berhenti total. Momentum ini digunakan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), untuk mengukur parameter cuaca dan kualitas udara saat Hari Raya Nyepi.
Ada dua komponen yang diukur oleh BMKG, gas rumah kaca (GRK) dan partikulat atau debu. Hal ini, bertujuan untuk mengetahui seberapa besar aktivitas manusia secara nyata berkontribusi kepada kenaikan gas rumah kaca dan zat-zat tercemar.
Untuk mengetahui atau menganalisa hal tersebut, ada beberapa alat yang di pasang oleh BMKG. Seperti alat Sensync, Sinyei, MetOne, dan Gray Wolfb yang mengidentifikasi beberapa jenis gas-gas polutan, partikel debu dan GRK.
"Alat itu, kami pasang di lima titik di kawasan Bali. Di antaranya Denpasar, Bedugul Tabanan, Singaraja, Karangasem, dan Jembrana. Kemudian, satu di Banyuwangi," ucap Peneliti Muda di Bidang Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG Pusat Radyan Putra Pradana, Kamis (15/3) sore.
Pradana juga menjelaskan, pemasangan alat di luar Bali yaitu Banyuwangi, tujuannya adalah untuk mengetahui apakah ada kenaikan dari kualitas udara ambien di sekitar wilayah Banyuwangi. Karena, saat Hari Raya Nyepi, biasanya banyak terjadi perpindahan manusia keluar pulau Bali. "Maksud kami, memasang peralatan di Banyuwangi itu, untuk melihat sejauah mana pengaruh Nyepi di luar Bali. Atau aktivitas di Banyuwangi," imbuhnya.
Pemasangan alat tersebut, sudah dilakukan sejak tanggal (11/3) sampai Hari Raya Nyepi usai pada pada tanggal (18/3) mendatang. Kemudian, baru bisa mengetahui hasil dari seberapa besar turunnya gas-gas polutan, partikel debu dan GRK di Bali. "Kita nantinya menganalisa, hasil dari sensor alat-alat itu.Sejauh mana turunnya sepanjang nyepi itu berjalan, " ujar Pradana.
Namun, dari hasil data yang didapat dari tahun 2013 sampai 2017 penurunan gas-gas polutan, partikel debu dan GRK di Bali sangat signifikan. Tercatat, di tahun 2015 gas CO2 turun 75 persen dan di tahun 2017 sekitar 87 persen. "Artinya di beberapa parameter misalkan seperti CO2, SO2 dan NO2 itu menujukan penurunan yang sangat signifikan," papar Pradana.
Menurut Pradana, setiap Hari Raya Nyepi di Bali tentunya akan mengalami penurunan yang sangat signifikan. Seperti di Denpasar, yang memang terbesar portikulatnya karena mewakili daerah Kota dengan aktivitas jumlah penduduk yang banyak, akan mengalami penurunan tersebut. "Kalau dari angka statistik untuk partikulatnya di Kota Denpasar. Jika dibandingkan wilayah lain di Bali. Namun saat nyepi bisa menurun sampai 70 atau 80 persen," tutupnya. (MKF)