Merahputih.com - Arus kecokelatan Sungai Ciliwung di kawasan Kalibata, Jakarta Selatan menyimpan misteri tentang ketangguhan mahluk bersisik keras penghuni dasar air. Di balik keruhnya riak sungai, jutaan ikan sapu-sapu terus membangun koloni raksasa sembari menggerus dinding tanggul ibu kota.
Meskipun Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menjadwalkan operasi pembersihan besar-besaran, suara pesimistis justru terdengar dari bibir para pemburu sungai.
"Memang bagus dibersihkan karena hama, tapi enggak bakal bisa habis. Pencari ikan biasa saja tidak sanggup bersihkan semuanya," tutur Ajum (39), nelayan ikan sapu-sapu dikutip Antara, Kamis (16/4).
Baca juga:
Jadwal dan Lokasi Pembasmian Massal Ikan Sapu-Sapu di Jakarta, Gubernur Pramono Ikut Turun
Ancaman Tanggul dan Koloni Ribuan Telur
Sulitnya mengendalikan populasi ikan tersebut berakar pada kemampuan reproduksi luar biasa cepat. Satu induk mampu menghasilkan ratusan bahkan ribuan bibit baru dalam sekali masa penetasan.
Keberadaan hama ini memicu kekhawatiran karena perilaku merusak tanggul serta kebiasaan memangsa telur ikan jenis lain.
Ajum mengibaratkan perang melawan ikan sapu-sapu serupa upaya membasmi serangga terbang di pemukiman. "Seperti nyamuk, dibasmi tetap ada lagi," ucapnya.
Penangkapan rutin setiap hari terbukti belum mampu menekan angka populasi secara signifikan.
Antara Perusak Lingkungan dan Sumber Cuan
Di balik status sebagai musuh lingkungan, mahluk ini menyimpan nilai ekonomi bagi sebagian warga. Para pengepul mengolah hasil tangkapan nelayan menjadi berbagai produk pangan seperti cilok, nugget, otak-otak, hingga kerupuk. Namun, bangkai ikan tak terpakai tetap berisiko mencemari kualitas air sungai jika terbiar begitu saja.
Baca juga:
“Penting menjaga lingkungan tetap bersih, tapi ikan ini juga ada manfaat ekonominya,” kata Ajum.
Aksi pembersihan serentak saluran air serta sungai di penjuru ibu kota rencananya berlangsung Jumat (17/4).
Selain menargetkan pengurangan hama, kegiatan tersebut bertujuan memperlancar aliran air melalui pengerukan lumpur guna menghadapi musim hujan periode September 2026 mendatang.