Pembangunan PSEL Masuk Proyek Hilirisasi Strategis Pemerintah, Investasi Capai Rp 600 Triliun
Rabu, 07 Januari 2026 -
MerahPutih.com - Pemerintah akan segera memulai pembangunan proyek pengolahan sampah menjadi energi listrik (PSEL) atau waste to energy pada awal 2026. Proyek ini akan dibangun di 34 titik yang tersebar di 34 kabupaten/kota di Indonesia.
PSEL diprioritaskan untuk daerah dengan volume timbunan sampah harian mencapai rata-rata 1.000 ton per hari, yang selama ini menjadi persoalan serius bagi lingkungan dan kesehatan masyarakat.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengatakan, pembangunan PSEL diharapkan mampu mengurangi beban lingkungan sekaligus menekan risiko kesehatan akibat penumpukan sampah.
“Ini memerlukan penanganan sesegera mungkin untuk diolah sehingga sampah-sampah tersebut tidak menggunung dan menimbulkan banyak masalah,” ujar Prasetyo dalam konferensi pers usai Taklimat Awal Tahun 2026 di Hambalang, Bogor, Selasa (6/1).
Baca juga:
Prasetyo menjelaskan, proyek PSEL merupakan salah satu dari 18 proyek hilirisasi strategis yang akan mulai dikerjakan pada periode Januari hingga Maret 2026.
Sebelumnya, pemerintah menyampaikan bahwa 18 proyek hilirisasi tersebut telah melewati tahap prastudi kelayakan dan diperkirakan memiliki nilai investasi mencapai Rp 600 triliun. Realisasi investasi proyek-proyek strategis ini akan dipimpin langsung oleh Danantara Indonesia.
PSEL sendiri merupakan proses pengolahan sampah yang tidak dapat didaur ulang melalui teknologi tertentu untuk menghasilkan energi, seperti panas, listrik, atau bahan bakar alternatif.
Teknologi ini diharapkan dapat mendukung kemandirian energi nasional, mengurangi volume sampah terbuka, serta menekan ketergantungan terhadap energi konvensional seperti batu bara.
Baca juga:
Selain proyek waste to energy, Prasetyo juga mengungkapkan bahwa pemerintah akan segera melakukan groundbreaking proyek gasifikasi batu bara menjadi Dimethyl Ether (DME).
DME merupakan bagian dari hilirisasi batu bara, di mana batu bara berkalori rendah diolah menjadi gas alternatif. Program ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap gas LPG.
“Kemudian juga ada beberapa program yang berkenaan dengan energi, program-program di bidang pertanian juga,” tutup Prasetyo. (Asp)