MerahPutih.com - Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) menilai perubahan iklim terbukti membawa dampak besar mulai dari bencana kelaparan, ketidakstabilan ekonomi, hingga peningkatan suhu yang melampaui batas 1,5 derajat Celsius dalam beberapa tahun ke depan.
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres menegaskan, pentingnya peran Indonesia sebagai penghasil emisi gas rumah kaca terbesar keenam di dunia dalam mendorong transisi menuju energi terbarukan.
Saya mengapresiasi keinginan Presiden Prabowo Subianto atas proyek pembangkit listrik tenaga surya 100 gigawatt serta target swasembada energi Indonesia untuk percepatan transisi,
tambahnya.
Guterres mengatakan, percepatan transisi energi bersih dapat membawa keuntungan ekonomi dalam bentuk industrialisasi, penciptaan lapangan kerja, ketahanan energi, dan peningkatan daya saing.
Baca juga:
Perang Jalur Energi Bikin Pasar Keok! IHSG Kompak Memerah Masuk ke Area Gap
Sekjen PBB menekankan pentingnya peran serta bantuan negara-negara maju untuk mendukung negara-negara berkembang dalam memajukan transisi serta ketahanan energi.
Selain itu, mengingatkan sejumlah negara maju memiliki janji untuk menyediakan 300 miliar dolar AS per tahun guna mendukung transisi di negara-negara berkembang serta melipatgandakan pembiayaan adaptasi iklim.
PBB menegaskan, mineral kritis yang menjadi komoditas kunci dalam transisi energi harus membawa timbal balik yang bermanfaat bagi negara berkembang pemiliknya.
“Kita harus memastikan bahwa negara-negara yang kaya akan mineral memperoleh porsi nilai ekonomi yang jauh lebih besar sambil membangun industri lokal, dan menciptakan pekerjaan yang layak,” kata Sekjen PBB dalam pernyataan yang disampaikan pada agenda “Foreign Policy Circle Talks” di Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI di Jakarta pada Senin.
Guterres menyoroti Indonesia, bersama sejumlah negara berkembang lainnya, memiliki kandungan mineral kritis yang begitu kaya dan berperan besar dalam menggerakkan revolusi energi terbarukan di tingkat global.
Indonesia bersama negara-negara senasib harus bisa mendapat manfaat ekonomi yang semakin besar dari komoditas mineral kritis yang mereka miliki.
“Tak ada lagi penjarahan, tak ada lagi eksploitasi,” katanya, menyoroti masa lalu kelam yang dihadapi Indonesia dan negara-negara berkembang akibat kolonialisme.