MerahPutih.com - Papiledema adalah pembengkakan pada saraf optik mata yang disebabkan oleh peningkatan tekanan di bagian intrakranial atau rongga kepala. Kondisi ini dikatakan dokter dapat menyebabkan terganggunya pengelihatan.
"Peningkatan itu bisa disebabkan ada tumor di otak kita atau ada hambatan dari pengeluaran cairan di otak," terang Dokter spesialis kesehatan mata Dr. dr Syntia Nusanti, SpM(K), M.Pd.Ked dalam diskusi medis seperti dilansir Antara, Rabu (3/4).
Selain itu, Syntia menyebutkan papiledema juga bisa disebabkan oleh infeksi di bagian otak seperti meningitis hingga tekanan darah tinggi yang membuat saraf mata mengalami pembengkakan.
Baca juga:
Menurut Syntia, papiledema juga ada yang bersifat idiopatik, umumnya ditemui pada perempuan obesitas berusia 30-40 tahun.
"Ada juga yang kita sebut sebagai idiopatik. Nah, idiopatik ini terjadi peningkatan tekanan intrakranial tanpa sebab khusus," ujar Syntia.
Lebih lanjut Syntia menjelaskan gejala-gejala yang dikeluhkan pengidap papiledema, seperti sakit kepala hebat hingga menimbulkan mual dan muntah. Kemudian, terjadi penurunan kemampuan penglihatan yang terjadi secara bertahap dan bersifat sementara.
"Biasanya pertama mungkin kehilangan kemampuan melihat warna atau kemudian kontras, jadi terang gelap itu akan jadi sulit dan lama-lama akan terjadi penurunan terhadap penglihatan. Kadang-kadang ini disertai juga dengan penglihatan ganda," tutur Syntia.
Baca juga:
Dia mengatakan pengidap papiledema umumnya merasakan penurunan daya penglihatan saat melakukan aktivitas tertentu seperti bangun dari jongkok, batuk, dan mengejan ketika buang air besar.
Pengobatan papiledema, terang Syntia, bergantung pada penyebabnya misalnya apabila disebabkan oleh penyumbatan cairan otak maka dilakukan prosedur pengeluaran cairan berlebih di dalam otak. Sedangkan pada pasien obesitas, proses pengobatan yakni dengan terapi gizi untuk menurunkan berat badan.
Terapi papiledema dapat berlangsung dalam jangka waktu 1 sampai 3 bulan namun apabila tidak menunjukkan tanda-tanda pemulihan maka akan dilakukan tindakan operasi.
"Kalau dari awal kita tidak menemukan perbaikan dengan segala upaya yang sudah kita kerjakan, baru kita mulai berpikir ada tindakan operasi," kata Syntia. (*)
Baca juga:
Dokter Mata: Etanol dalam Miras Oplosan Bisa Sebabkan Kebutaan