Papiledema, Ketahui Penyebab hingga Pengobatannya

Ananda Dimas PrasetyaAnanda Dimas Prasetya - Kamis, 04 April 2024
Papiledema, Ketahui Penyebab hingga Pengobatannya

Papiledema pada beberapa kasus menyebabkan kurangnya kemampuan mata. (Foto: Unsplash/Ion Fet)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MerahPutih.com - Papiledema adalah pembengkakan pada saraf optik mata yang disebabkan oleh peningkatan tekanan di bagian intrakranial atau rongga kepala. Kondisi ini dikatakan dokter dapat menyebabkan terganggunya pengelihatan.

"Peningkatan itu bisa disebabkan ada tumor di otak kita atau ada hambatan dari pengeluaran cairan di otak," terang Dokter spesialis kesehatan mata Dr. dr Syntia Nusanti, SpM(K), M.Pd.Ked dalam diskusi medis seperti dilansir Antara, Rabu (3/4).

Selain itu, Syntia menyebutkan papiledema juga bisa disebabkan oleh infeksi di bagian otak seperti meningitis hingga tekanan darah tinggi yang membuat saraf mata mengalami pembengkakan.

Baca juga:

Mitos Menyesatkan Kesehatan Mata

Menurut Syntia, papiledema juga ada yang bersifat idiopatik, umumnya ditemui pada perempuan obesitas berusia 30-40 tahun.

"Ada juga yang kita sebut sebagai idiopatik. Nah, idiopatik ini terjadi peningkatan tekanan intrakranial tanpa sebab khusus," ujar Syntia.

Lebih lanjut Syntia menjelaskan gejala-gejala yang dikeluhkan pengidap papiledema, seperti sakit kepala hebat hingga menimbulkan mual dan muntah. Kemudian, terjadi penurunan kemampuan penglihatan yang terjadi secara bertahap dan bersifat sementara.

"Biasanya pertama mungkin kehilangan kemampuan melihat warna atau kemudian kontras, jadi terang gelap itu akan jadi sulit dan lama-lama akan terjadi penurunan terhadap penglihatan. Kadang-kadang ini disertai juga dengan penglihatan ganda," tutur Syntia.

Baca juga:

Jurus Ampuh Menjaga Kesehatan Mata bagi Penggila Gadget

Dia mengatakan pengidap papiledema umumnya merasakan penurunan daya penglihatan saat melakukan aktivitas tertentu seperti bangun dari jongkok, batuk, dan mengejan ketika buang air besar.

Pengobatan papiledema, terang Syntia, bergantung pada penyebabnya misalnya apabila disebabkan oleh penyumbatan cairan otak maka dilakukan prosedur pengeluaran cairan berlebih di dalam otak. Sedangkan pada pasien obesitas, proses pengobatan yakni dengan terapi gizi untuk menurunkan berat badan.

Terapi papiledema dapat berlangsung dalam jangka waktu 1 sampai 3 bulan namun apabila tidak menunjukkan tanda-tanda pemulihan maka akan dilakukan tindakan operasi.

"Kalau dari awal kita tidak menemukan perbaikan dengan segala upaya yang sudah kita kerjakan, baru kita mulai berpikir ada tindakan operasi," kata Syntia. (*)

Baca juga:

Dokter Mata: Etanol dalam Miras Oplosan Bisa Sebabkan Kebutaan

#Kesehatan
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Ananda Dimas Prasetya

Penulis, editor, dan praktisi konten digital dengan latar belakang akademis di bidang jurnalistik serta pengalaman dalam penyusunan artikel berita, konten informatif, dan optimasi mesin pencari (SEO). Lulusan Fakultas Ilmu Komunikasi, Jurusan Jurnalistik, Universitas Padjadjaran (2007–2014) dengan pemahaman mendalam mengenai kaidah jurnalistik, etika media, verifikasi informasi, dan teknik penulisan profesional. Berfokus pada pengembangan konten yang mengutamakan akurasi, relevansi, dan nilai informasi bagi pembaca. Memastikan artikel disusun melalui proses riset, verifikasi sumber, dan pengolahan data cermat guna menjamin kualitas informasi yang disajikan. Berbagai topik yang menjadi perhatian meliputi pemerintahan, ekonomi, pendidikan, teknologi, budaya, hiburan (musik & film), gaya hidup, motorsports, hingga isu-isu sosial yang berkembang di masyarakat.
Show More
Follow Me

Berita Terkait

Lifestyle
Seorang Pria tak Sengaja Telan Earbud, Bunyinya Muncul dalam Perutnya
Pria ini membutuhkan prosedur kolonoskopi untuk mengeluarkan perangkat tersebut.
Dwi Astarini - Jumat, 30 Oktober 2026
Seorang Pria tak Sengaja Telan Earbud, Bunyinya Muncul dalam Perutnya
Lifestyle
Dokter Citra Poerwa Ungkap Dampak Stres Finansial bagi Kesehatan hingga Sandwich Generation
Dokter Citra Poerwa menjelaskan kaitan stres finansial dengan kesehatan mental dan fisik serta pentingnya skala prioritas bagi sandwich generation.
Soffi Amira - Minggu, 25 Oktober 2026
Dokter Citra Poerwa Ungkap Dampak Stres Finansial bagi Kesehatan hingga Sandwich Generation
Indonesia
Rabu Pagi, Kualitas Udara Jakarta tidak Sehat
Kualitas udara Jakarta berada pada poin 162 dengan tingkat konsentrasi polutan PM 2,5 sebesar 71 mikrogram per meter kubik.
Dwi Astarini - Rabu, 21 Oktober 2026
Rabu Pagi, Kualitas Udara Jakarta tidak Sehat
Fun
We Pause We Rise Ajak Perempuan Kenali Perimenopause, Ahli Ingatkan Gejala Brain Fog
We Pause We Rise menggelar Rose & Bloom untuk mengedukasi perempuan tentang perimenopause dan menopause, termasuk brain fog, kesehatan tulang, dan hipertensi.
Ananda Dimas Prasetya - Senin, 19 Oktober 2026
We Pause We Rise Ajak Perempuan Kenali Perimenopause, Ahli Ingatkan Gejala Brain Fog
Indonesia
Jakarta Catat 58 Kasus DBD per Oktober 2026
Secara kumulatif, jumlah kasus selama Januari hingga Oktober 2026 juga lebih rendah jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Dwi Astarini - Sabtu, 17 Oktober 2026
Jakarta Catat 58 Kasus DBD per Oktober 2026
Lifestyle
Inspirasi Pit Stop F1 Menyelamatkan Nyawa Pasien Rumah Sakit
Inovasi F1 telah memberikan dampak yang jauh melampaui lintasan balap.
Dwi Astarini - Kamis, 15 Oktober 2026
 Inspirasi Pit Stop F1 Menyelamatkan Nyawa Pasien Rumah Sakit
Berita Foto
Pantau Gaya Hidup Makin Personal, U by Prodia Hadirkan U-Buddy
SPG menunjukkan tampilan antarmuka (user interface/UI) aplikasi U-Buddy saat peluncurannya di Jakarta, Rabu (7/10/2026).
Didik Setiawan - Rabu, 07 Oktober 2026
Pantau Gaya Hidup Makin Personal, U by Prodia Hadirkan U-Buddy
Indonesia
Insiden Lab di Rusia, Kemenkes Tingkatkan Kesiapsiagaan
bandara dan pelabuhan internasional di Bali menerapkan peningkatan pengawasan pelaku perjalanan melalui pengawasan deklarasi kesehatan (All Indonesia - SSHP).
Dwi Astarini - Selasa, 06 Oktober 2026
Insiden Lab di Rusia, Kemenkes Tingkatkan Kesiapsiagaan
Lifestyle
Berbagi Cocolan Setara Ciuman Bibir, Rentan Menyebarkan Virus dan Bakteri
Berapa kali celupan yang dibutuhkan untuk memindahkan jumlah bakteri yang kira-kira sama banyaknya dengan ciuman berdurasi 10 detik?
Dwi Astarini - Senin, 05 Oktober 2026
 Berbagi Cocolan Setara Ciuman Bibir, Rentan Menyebarkan Virus dan Bakteri
Indonesia
Jangan Sepelekan Influenza Tipe A, Anak Batuk Demam Tinggi Segera Bawa ke Faskes!
Anak demam tinggi dan sesak napas? Peringatkan bahaya virus influenza tipe A pada anak. Segera bawa ke faskes rujukan terdekat!
Wisnu Cipto - Jumat, 02 Oktober 2026
Jangan Sepelekan Influenza Tipe A, Anak Batuk Demam Tinggi Segera Bawa ke Faskes!
Bagikan