MerahPutih Internasional- Sejak tahun 2011, telat tercatat sebanyak 19 negara merekrut anak-anak sebagai gerilyawan militernya. UNICEF memperkirakan bahwa ada sekitar 250.000 anak-anak yang diikutsertakan dalam kelompok bersenjata untuk ikut berperang, bom bunuh diri, mata-mata, dan bahkan turut melakukan tugas-tugas rumah tangga seperti memasak.
Human Rights Watch mengungkapkan bahwa alasan negara-negara tersebut merekrut anak-anak adalah karena mereka dianggap mudah diintimidasi dan dimanipulasi.
Seperti yang dikutip News.com.au, berikut adalah negara-negara yang merekrut anak-anak sebagai pasukan militer mereka:
1. Afganistan

Negara ini merekrut anak-anak sebagai kelompok pemberontak bagi pasukan Taliban. Menurut Human Rights Watch, mereka digunakan untuk bom bunuh diri, mata-mata dan sebagainya. Polisi Nasional Afganistan juga memakai anak-anak sebagai bagian dari mereka.
2. Kolumbia

Beberapa dari ribuan anak laki-laki dan perempuan dipaksa dan sukarela untuk ikut kelompok oposisi bersenjata. Mereka digunakan sebagai gerilyawan untuk meletakkan ranjau dan bahan peledak dan tugas militer lainnya. Banyak gadis yang mengalami pelecehan seksual termasuk perkosaan dan aborsi paksa.
3. Kongo

Pada puncak perang di Kongo, PBB mencatat ada lebih dari 30.000 anak-anak yang berjuang dengan angkatan bersenjata pemerintah. Sebagian besar memang sudah ada yang ditarik namun perekrutan masih tetap ada akibat konflik bar di sana menurut laporan Human Rights Watch.
4. Uganda

PBB memperkirakan ada 2 juta anak-anak tewas sejak tahun 1987 dii Uganda. Selain itu 6 juta lainnya juga dikabarkan terluka parah atau cacat permanen.
Baik pemerintah dan tentara pemberontak memaksa anak-anak untuk bergabung dengan mereka. Beberapa lainnya ikut secara sukarela karena mereka ingin keluar dari kondisi kelaparan dan kemiskinan.