Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Indonesiaku

Naskah Hikayat Aceh Telah Diakui UNESCO sebagai Warisan Dunia

Ananda Dimas Prasetya - Sabtu, 03 Agustus 2024

MerahPutih.com - Setelah melalui kajian akademik yang cukup panjang, naskah Hikayat Aceh secara resmi ditetapkan sebagai Memory of The World (MoW) atau warisan dunia oleh Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB (UNESCO).

Penetapan ini secara koordinasi sebelumnya diusulkan oleh Universitas Leiden (Belanda), Perpustakaan RI, dan Pemerintah Aceh. Usulan pengajuan naskah Hikayat Aceh mulai tercetus sejak 2018, lalu dinominasikan dalam MoW UNESCO pada 2021 hingga pada Mei 2023 secara resmi ditetapkan warisan dunia.

Baca juga:

Mengenal Bubur Memek, Kudapan Khas Aceh dan Cara Membuatnya

Mengacu pada Arsip Nasional Republik Indonesia, Hikayat Aceh diakui sebagai warisan dunia UNESCO karena beberapa alasan, antara lain karena bercerita tentang kehidupan Sultan Iskandar Muda dan memberikan gambaran tentang sejarah dan budaya Aceh yang kaya dan bernilai.

Selain itu, naskah Hikayat Aceh juga mengajarkan nilai-nilai toleransi di antara pejabat, pemimpin agama, dan masyarakat.

Baca juga:

Mengenal Upacara Tani 'Kenduri Ule Lhueng' dari Suku Kluet Aceh

Hikayat Aceh menanamkan pola hidup dan budaya multikultural dan berinteraksi antara satu dengan lainnya antara Sultan dengan rakyat dan antara pendatang dengan pribumi. Hikayat Aceh adalah sebuah manuskrip (naskah) kuno yang ditulis dalam Bahasa Melayu dengan aksara Arab pada abad 17.

“Bercerita tentang kehidupan Sultan Iskandar Muda yang kuat dan megah pada masa Kesultanan Aceh dan tentang toleransi yang dibangun dari beberapa unsur, di antaranya sultan/pejabat negara, ulama, rakyat, adat dan agama,” bunyi penjelasan seperti dikutip dari Arsip Nasional Republik Indonesia.

Baca juga:

Tradisi Reuhab, Upacara Adat Kematian Masyarakat Alue Tuho Aceh

Lebih lanjut, naskah Hikayat Aceh juga bercerita tentang hubungan kenegaraan dengan Portugal, Cina dan Turki, persaingan internal, perang, dan agama (Islam). Selain kaya isi, UNESCO juga menyebut gaya penulisan Hikayat Aceh suatu karya yang unik, karena menggunakan gaya sastra Melayu tradisional dan kaya akan pengaruh Persia. (far)

Baca Artikel Asli