Merahputih.com - Ketegangan di Muktamar Ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, sempat memuncak ketika massa aksi turun ke lokasi persidangan untuk menolak penggunaan Peraturan Perkumpulan (Perkum) sebagai alat menjegal pencalonan Gus Yusuf Chudlori.
Menanggapi situasi ini, Ketua Umum PBNU Gus Yahya langsung turun tangan dan meminta massa tetap tenang, sembari berjanji ikut mencari jalan tengah yang bijaksana agar suasana muktamar kembali kondusif.
Gus Yahya bahkan menegaskan bahwa Gus Yusuf Chudlori adalah kader unggul yang layak diperhitungkan serius dalam bursa Ketua Umum PBNU periode mendatang.
Baca juga:
Calon Ketum PBNU Setujui Perubahan Pemilihan Ketum, Cabang Masih Miliki Kewenangan Ajukan 5 Calon
Pesan itu disampaikan Gus Yahya langsung kepada massa aksi pada Sabtu, di tengah desakan agar panitia dan jajaran Pengurus Besar Nahdlatul Ulama tidak memakai aturan idah politik maupun sanksi organisasi untuk mengeliminasi kader potensial menjelang pemilihan lewat mekanisme Ahlul Halli Wal Aqdi (AHWA).
Gejolak ini mencuat setelah sejumlah Nahdliyyin Muda menilai jalannya persidangan sarat kepentingan kelompok tertentu, sehingga nama-nama seperti Gus Yusuf Chudlori dan Gus Salam Sohib berpotensi tersingkir dari bursa calon Ketua Umum PBNU.
Gus Yahya tidak tinggal diam melihat suasana yang mulai memanas. Ia memilih menyapa langsung massa aksi lewat pesan yang isinya lebih menenangkan ketimbang membela satu pihak.
Saya mohon agar lebih tenang. Saya pribadi, berjanji akan berusaha ikut mencari jalan keluar yang bijaksana dari ini yang bisa membuat tenang semua,
ujarnya.
Nada bicaranya terkesan hati-hati, bukan menutup persoalan, melainkan membuka ruang dialog agar situasi tidak makin memanas menjelang penentuan Ketua Umum PBNU.
Gus Yusuf Chudlori Diakui Sebagai Kader Unggul

Menariknya, Gus Yahya tidak menutup mata soal kapasitas sosok yang jadi pusat polemik ini. Ia justru secara terbuka mengakui rekam jejak Gus Yusuf.
"Terkait dengan Gus Yusuf Chudlori, sebetulnya saya mengakui bahwa beliau adalah kader yang unggul dan aktif, termasuk yang unggul dibanding yang lain," katanya.
Pengakuan ini penting dicatat karena datang langsung dari Ketua Umum PBNU yang tengah menjabat, bukan sekadar komentar pihak luar.
Semua Ingin Diakomodasi, Tapi Keputusan Sudah di Tangan Muktamirin
Gus Yahya juga blak-blakan soal posisinya yang serba dilematis. Secara personal ia berharap tidak ada kader yang tersisih, namun keputusan akhir tetap berada di tangan peserta sidang.
"Seandainya tergantung saya pribadi, saya ingin semua bisa diakomodasi, semua mendapat kesempatan. Tapi para muktamirin sudah membuat keputusan," tuturnya.
Jangan Lupakan Gus Yusuf
Tak berhenti di situ, Gus Yahya turut menitip pesan khusus untuk siapa pun yang bakal terpilih lewat mekanisme AHWA sebagai Ketua Umum PBNU periode berikutnya.
"Apa pun, siapa pun yang akan dipilih oleh Ahlul Halli Wal Aqdi, yang nanti diputuskan untuk menjadi ketua umum periode mendatang, tidak boleh melupakan Gus Yusuf Chudlori sebagai potensi besar yang harus bisa diunduh manfaatnya untuk jam'iyyah ini," tegasnya.
Pesan ini seolah jadi sinyal bahwa siapa pun pemenangnya, ruang kontribusi bagi Gus Yusuf tetap harus dijaga demi keutuhan organisasi.
Akar Masalah: Perkum Dituding Jadi Alat untuk Menjegal Pencalonan

Di balik aksi protes ini, ada kegelisahan yang lebih mendasar soal aturan main di tubuh PBNU. Koordinator aksi, Fathoni, menilai dinamika persidangan muktamar sarat kepentingan kelompok tertentu, bukan murni penegakan aturan organisasi.
"Pengesahan penggunaan Perkum yang memuat syarat ketua umum dimainkan sedemikian rupa. Ketentuan masa idah politik satu tahun dan sanksi organisasi dibahas kembali sehingga mengeliminasi beberapa kader terbaik menjadi calon ketua umum PBNU, baik itu Gus Yusuf Chudlori maupun Gus Salam Sohib," ungkap Fathoni.
Menurutnya, ketentuan idah politik dan sanksi organisasi yang tiba-tiba dibahas ulang di tengah persidangan itulah yang memicu kecurigaan bahwa aturan sedang "diarahkan" untuk menyingkirkan calon-calon tertentu.
Baca juga:
Tuntutan Nahdliyyin Muda dalam Aksi Muktamar NU
Aksi yang digelar kelompok yang menamakan diri Nahdliyyin Muda ini membawa tujuh tuntutan resmi. Dari poin-poin yang disampaikan di lapangan, berikut beberapa yang paling disorot:
- Menolak penggunaan Perkum secara sepihak dan diskriminatif untuk menghalangi pencalonan Gus Yusuf Chudlori dan Gus Salam Sohib.
- Menegaskan Perkum semestinya menjadi instrumen penataan organisasi, bukan alat politik untuk menyingkirkan calon tertentu.
- Mendesak panitia dan seluruh jajaran PBNU menerapkan aturan secara adil, terbuka, dan konsisten, tanpa berlaku surut atau ditafsirkan sesuai kepentingan kelompok tertentu.
- Meminta penjelasan resmi serta ruang klarifikasi yang setara bagi Gus Yusuf sebelum keputusan soal kelayakan pencalonannya diambil.
Ke Mana Arah Muktamar NU Selanjutnya?
Situasi di Tambakberas menunjukkan bahwa perhelatan Muktamar Ke-35 NU bukan sekadar ajang seremonial pergantian kepengurusan, melainkan arena tarik-menarik kepentingan yang cukup tajam.
Sikap Gus Yahya yang memilih jalan menenangkan sekaligus mengakui kapasitas Gus Yusuf Chudlori bisa dibaca sebagai upaya menjaga soliditas NU pascamuktamar, apa pun hasil akhirnya nanti.