KEMARIN, tepat pada tanggal 10 November, seluruh rakyat Indonesia sedang memperingati Hari Pahlawan. Penetapan ini dibuat untuk mengenang jasa pahlawan khususnya di Pertempuran Surabaya tahun 1945 silam. Saat itu para pejuang Indonesia berperang melawan tentara Britania Raya dan Belanda.
Kini puluhan tahun telah berlalu. Perjuangan yang dilakukan oleh para tentara dan milisi Indonesia saat itu tak bisa diterapkan lagi. Kini perjuangan bisa melalui apa saja, misalnya yang dilakukan Syamsudin Ilyas, mantan pewarta foto Antara yang mengabadikan dirinya untuk anak-anak pesisir Jakarta Utara.
Baca juga:
Bocah Pesisir Jakarta Bermain Sambil Belajar di Museum Nasional Indonesia
Syamsudin Ilyas adalah salah satu penggagas Kelas Jurnalis Cilik (KJC), yakni sekolah lapangan gratis yang diperuntukan bagi anak-anak SD kelas 3 hingga 6. Materi yang diberikan berdasarkan pengalamannya sebagai wartawan. Pembelajarannya sangat terstruktur, terdiri dari 60 persen praktek dan 40 persen teori.
Selama empat bulan peserta didik akan diberi materi. Di bulan pertama diajarkan teknik dasar penulisan 5W 1H. Di bulan ke dua peserta akan mendapatkan materi teknik dasar fotografi. Kemudian di bulan ketiga dan keempat anak didik langsung hunting kelapangan untuk merekam kampung halaman. Kelas kemudian ditutup dengan pameran fotografi.
"Pertemuan berlangsung setiap minggunya selama 16 kali pertemuan (empat bulan). Setiap bulannya akan ada tamu dari berbagai profesi, fotografer, penulis, bloger, dokumenter, dan videografer untuk menularkan ilmunya," kata Ilyas kepada merahputih.com.
Saat ini KJC sudah melahirkan dua angkatan. Pertama 33 anak dan angkatan kedua berjumlah 34 anak. Menariknya, meski berfokus pada anak-anak pesisir Jakarta tepatnya di daerah Cilincing, anak-anak di luar daerah tersebut dipersilakan untuk ikut.
Baca juga:
"Sangat boleh (peserta di luar Cilincing), karena di angkatan pertama ada murid yang berasal dari Warakas Tanjung Priuk sementara di angkatan ke dua 4 orang peserta berasal dari Tebet," tutur pria yang kerap memakai topi flat cap ini.
Perjalanan panjang Ilyas dan beberapa rekan lainnya dalam membuat KJC ini tak mudah. Ia harus menghadapi pertanyaan-pertanyaan miring dari warga tentang program yang ia buat. Begitupun saat Ilyas meminta ketua RT dan RW untuk mengajak anak-anak di kampungnya untuk ikut KJC.
Seiring berjalannya waktu, masyarakat mulai terenyuh dengan keikhlasan Ilyas mengajak anak-anak pesirir untuk belajar jurnalistik. Terlebih ketika anak-anak didiknya mengikuti pameran foto di Jakarta Internasional Photo Festival (Jipfest).
Saat itu ia sempat menolak karena membutuhkan biaya yang cukup besar. Namun setelah melakukan penggalangan dana di media sosial, secara mengejutkan banyak warga ikut menyumbang. Dalam dua hari terkumpul uang sebesar Rp5.200.000.
Baca juga:
"Responnya positif dan mendukung kegiatan ini, meskipun awalnya kurang mendukung karena teasuk program baru bagi masyarakat pesisir," kata Ilyas.
Ilyas adalah satu dari banyak orang yang berjuang untuk kemajuan masyarakat Indonesia. Niat tulus mantan pewarta foto harian Rakyat Merdeka ini patut ditiru oleh kita. Ia rela mengorbankan waktu, tenaga hingga materi agar anak-anak masyarakat pesisir Jakarta bisa tercerdaskan.