Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Berita Indonesia

Mayoritas Warga Jabar Sudah Tahu Vaksin COVID-19, tapi Sebagian Masih Ragu-ragu

Zulfikar Sy - Selasa, 15 Desember 2020

MerahPutih.com - Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mengungkap hasil survei soal vaksin COVID-19.

Mayoritas warga Jawa Barat memang sudah tahu soal vaksin penangkal virus corona. Namun, sebagian masih ragu-ragu menerima suntik vaksin.

“Saya laporkan juga, kami survei, 93 persen warga Jabar sudah mengetahui tentang vaksinasi. Saya kira ini sosialiasi baik,” kata Ridwan Kamil di Bandung, Senin (14/12).

Baca Juga:

IDI Jawab Tudingan Tolak Vaksin COVID-19

Menurutnya, ada 9 persen warga yang tidak bersedia divaksin. Jumlah ini menurutnya sangat kecil.

Meski demikian, jumlah yang ragu-ragu atau belum memutuskan juga tidak sedikit, yakni 43,8 persen.

“43,8 persen belum memutuskan. Kebanyakan karena ingin dapat informasi mendalam sebelum berkeyakinan untuk divaksin,” katanya.

Angka tersebut beda tipis dengan jumlah orang yang mau divaksin, yakni 47,1 persen. Mereka yakin ingin divaksin.

Selain itu, dari 100 persen warga disurvei sebanyak 73,4 persen menginginkan vaksin produk dalam negeri.

Untuk itu, Ridwan Kamil mengajak semua pihak agar mendoakan produksi vaksin dalam negeri berjalan lancar.

Petugas memindahkan kontainer berisi vaksin COVID-19 setibanya di Kantor Pusat Bio Farma, Bandung, Jawa Barat. ANTARA FOTO/HO/Setpres-Muchlis Jr/wpa/hp./pri
Petugas memindahkan kontainer berisi vaksin COVID-19 setibanya di Kantor Pusat Bio Farma, Bandung, Jawa Barat. ANTARA FOTO/HO/Setpres-Muchlis Jr/wpa/hp./pri

Ridwan Kamil juga menyinggung 1,2 juta dosis vaksin yang didatangkan dari Tiongkok. Vaksin ini masih menunggu keputusan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

“Setelah pengumuman BPOM akan dilaksanakan buat prioritas tenaga kesehatan, TNI, Polri, profesi rawan dan warga di zona merah,” terangnya.

Sementara itu, Bio Farma merilis sampai saat ini uji klinis fase 3 masih berlangsung. Sebanyak 1.620 relawan telah mendapatkan suntikan kedua per 6 November 2020.

Data-data dari tim uji klinis Fakultas Kedokteran Unpad nantinya akan diserahkan langsung ke BPOM untuk dilakukan evaluasi proses persetujuan penggunaan darurat.

Baca Juga:

Pekerjaan Besar Vaksinasi COVID-19

Saat ini, uji klinis sudah mulai memasuki tahap pemantauan efikasi dan monitoring pasca-tiga bulan penyuntikan untuk melihat imunogenisitas dan efikasi, serta pengambilan darah setelah tiga bulan.

Tim peneliti sejauh ini tidak mendapat laporan kejadian ikutan pasca-imunisasi (KIPI) serius yang diduga berhubungan dengan vaksin atau vaksinasi. Sampel darah dari para relawan sudah dikirimkan juga ke Balitbangkes untuk diuji netralisasi terhadap COVID-19.

Tim uji klinis sudah mengumpulkan data-data yang diperlukan untuk membuat laporan interim ke BPOM seperti data efikasi pasca-tiga bulan penyuntikan dan data pengambilan darah setelah tiga bulan.

Sekretaris Perusahaan Bio Farma Bambang Heriyanto mengatakan, efikasi yang ada pada calon vaksin COVID-19 dari Sinovac belum dapat ditentukan, dan harus menunggu sampai datanya cukup. (Iman Ha/Jawa Barat)

Baca Juga:

Soal Anggaran Vaksin COVID-19, Ini Kata Wagub DKI Jakarta

Baca Artikel Asli