Emmanuel Macron, 39, memenangi pemilihan presiden (pilpres) Prancis pada Minggu (7/5) setelah mengalahkan rivalnya Marine Le Pen, 48, dengan selisih suara sekira 30 persen.
Macron, politisi tengah pro-Eropa, meraih sekitar 65 persen suara, sementara calon dari kanan jauh, Le Pen, meraih kurang lebih 35 persen suara.
Untuk pertama kalinya sejak Perang Dunia II, presiden terpilih bukan berasal dari dua partai utama, Sosialis dan Republik yang berhaluan kanan tengah.
Dahulu, Macron adalah politisi Partai Sosialis. Dia juga pernah menjadi menteri ekonomi Presiden Francois Hollande, politisi Partai Sosialis. Pada April 2016 ia mendirikan En Marche!, gerakan berhaluan tengah yang ia gunakan sebagai kendaraan politik di pemilihan presiden.
Dalam pidato kemenangan, Macron mengatakan halaman baru tengah dimulai dalam sejarah Prancis.
"Saya ingin ini menjadi halaman tentang harapan dan rasa saling percaya," katanya seperti dikutip BBC Indonesia.
Pada usia 39 tahun, Macron akan menjadi presiden Prancis termuda dalam sejarah.
Dengan kemenangan Macron sebagai presiden terpilih, maka rencana Prancis keluar dari keanggotaan Uni Eropa yang dikampanyekan Le Pen pun kandas.
Semasa kampanye, Le Pen, politisi Front Nasional, pernah berjanji melakukan Frexit alias mengeluarkan Prancis dari Uni Eropa.