Merahputih.com - Pengamat Intelijen dan keamanan, Stanislaus Riyanta mengkritisi kemampuan intelijen Indonesia yang terkesan 'bobol' dengan kehadiran Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) asing maupun pihak asing dalam kericuhan yang berujung ingin merdekanya Papua.
Ia mengatakan kasus ini menjadi bukti dari kelemahan Indonesia dalam menangkal propaganda yang dimainkan pihak asing.
Baca Juga
"LSM-LSM tersebut dukung kemerdekaan Papua. Dan kita tidak lakukan kontra atas propaganda itu. Ini bukti bahwa fungsi intelijen dan kontra narasi kita masih lemah,” kata Stanislaus kepada wartawan di Jakarta, Selasa (10/9).
Ia juga menilai kasus Papua tak semata-semata berkaitan dengan kasus rasisme saja.Justru banyak faktor yang melatarbelakanginya. Begitupun, tawaran solusi harus beragam.
“Perlu pendekatan keamanan (lawan propaganda), pendekatan budaya (dialog dengan tokoh masyarakat setempat) hingga pendekatan humanisme (ciptakan trust kepada masyarakat di sana). Ini harus dilakukan paralel. Perlu kerja keras,” kata dia.
Ia pun menilai soal pemblokiran jaringan internet dan komunikasi saat kerusuhan di Papua kemarin adalah kekeliruan.
Untuk melawan kontra propaganda, kata Stanislaus, pemerintah tak bisa lakukan sendirian, tapi perlu bantuan media massa dan masyarakat juga.
“Panggil saja media massa ke Papua, buka akses dan tunjukkan, biar masyarakat tahu apa yang terjadi sebenaranya. Ini upaya untuk menangkal beredarnya informasi dari pihak media asing dan LSM asing yang beredar,” ujar Stanislaus.
Baca Juga
Seperti diketahui, Polisi terus memburu tersangka provokasi kerusuhan asrama Mahasiswa Papua di Surabaya, Jawa Timur, Veronica Koman. Polisi menyebut saat ini lokasi Veronica sudah diketahui.
Polri sedang berkoordinasi dengan Interpol untuk memburu Veronica. Polisi juga terus memantau provokasi di media sosial terkait kerusuhan Papua. Adapula tokoh lain yang seperti Benny Wenda yang diduga terlibat. (Knu)