ORANG berusia lanjut yang mengonsumsi aspirin dosis rendah setiap hari memiliki risiko 20 persen lebih tinggi untuk mengalami anemia. Demikian ditunjukkan studi terkini.
Studi yang diterbitkan Senin (19/6) di Annals of Internal Medicine itu memeriksa konsentrasi hemoglobin di antara lebih dari 19 ribu orang dewasa sehat di AS dan Australia yang berusia 65 tahun ke atas.
BACA JUGA:
Hemoglobin adalah protein kaya zat besi dalam sel darah merah yang membawa oksigen ke seluruh tubuh. Tingkat hemoglobin yang rendah dapat menyebabkan anemia, yang umum terjadi pada orang berusia lanjut.
Kondisi itu dapat menyebabkan:
1. Kelelahan
2. Detak jantung yang cepat atau tidak teratur
3. Sakit kepala
4. Nyeri dada dan berdebar-debar
5. Suara mendesing di telinga
Selain itu, tingkat hemoglobin rendah juga dapat memperburuk kondisi seperti gagal jantung kongestif, gangguan kognitif, dan depresi pada orang berusia 65 tahun ke atas. “Kami tahu dari uji klinis besar, termasuk uji coba kami, bahwa aspirin dosis rendah setiap hari meningkatkan risiko perdarahan yang signifikan secara klinis,” kata ahli hematologi Zoe McQuilten, MBBS, PhD dari Monash University, Australia, yang menjadi penulis utama studi tersebut.
“Dari penelitian, kami menemukan bahwa aspirin dosis rendah juga meningkatkan risiko anemia selama percobaan, dan ini amat mungkin disebabkan pendarahan yang tidak tampak secara klinis,” ujarnya seperti diberitakan WebMD (20/6)
Preventive Services Task AS mengubah rekomendasinya pada aspirin sebagai pencegahan utama penyakit kardiovaskular pada tahun 2022, merekomendasikan untuk tidak memulai aspirin dosis rendah untuk orang dewasa berusia 60 tahun atau lebih. Untuk orang dewasa berusia 40 hingga 59 tahun dengan risiko penyakit kardiovaskular 10 persen atau lebih selama 10 tahun, mereka merekomendasikan pasien dan penyedia layanan kesehatan membuat keputusan untuk memulai penggunaan aspirin dosis rendah berdasarkan kasus per kasus, karena manfaat secara keseluruhan yang kecil.
BACA JUGA:
McQuilten mengatakan dokter tidak dapat menemukan penyebab banyak kasus anemia. Satu studi yang diterbitkan dalam Journal of American Geriatrics Society pada 2021 menemukan sekitar sepertiga kasus anemia tidak memiliki penyebab yang jelas.
Sekitar 50 persen orang yang terlibat dalam studi terbaru menggunakan aspirin untuk pencegahan dari 2011 hingga 2018. Angka itu kemungkinan turun setelah perubahan pedoman pada 2022, menurut McQuilten, tetapi mungkin berlanjut dalam jangka panjang di antara pasien yang lebih tua.
Para peneliti juga memeriksa kadar ferritin, yang berfungsi sebagai proksi kadar zat besi (dan dapat menandakan anemia pada kadar rendah), pada awal percobaan dan lagi setelah tiga tahun. Orang yang memakai aspirin lebih cenderung memiliki kadar feritin serum darah yang lebih rendah pada batasan tiga tahun dibandingkan mereka yang memakai plasebo.
Rata-rata penurunan ferritin di antara orang-orang dalam penelitian yang menggunakan aspirin adalah 11,5 persen lebih besar daripada mereka yang menggunakan plasebo. Perkiraan kemungkinan anemia dalam lima tahun adalah 23,5 persen pada kelompok aspirin dan 20,3 persen pada kelompok plasebo. Secara keseluruhan, terapi aspirin menghasilkan peningkatan risiko anemia sebesar 20 persen.
Studi itu perlu mendorong tenaga kesehatan untuk mendiskusikan tentang risiko mengonsumsi aspirin dengan pasien. (Foto: pexels/cottonbro studio)
Supervisory Medical Officer Basil Eldadah, MD, PhD dari National Institute on Aging AS mengatakan, temuan tersebut harus mendorong tenaga kesehatan untuk mendiskusikan tentang risiko mengonsumsi aspirin dengan pasien mereka. “Untuk seseorang yang mengonsumsi aspirin dan berusia lanjut, serta bukan untuk indikasi seperti penyakit kardiovaskular, pertimbangkan dengan serius apakah itu pilihan pengobatan terbaik,” kata Eldadah yang tidak terlibat dalam penelitian tersebut.
Studi itu tidak meneliti konsekuensi anemia pada peserta, yang menurutnya bisa menjadi subjek penelitian di masa depan. Para peneliti mengatakan satu batasan adalah tidak jelas apakah anemia cukup menyebabkan gejala yang mempengaruhi kualitas hidup orang-orang dalam penelitian, atau jika pendarahan yang tidak diketahui menyebabkan anemia.
Para peneliti juga tidak mendokumentasikan apakah pasien menemui dokter reguler mereka dan menerima pengobatan untuk anemia selama uji coba.(aru)
BACA JUGA: