Merahputih.com - 300 kapal tanker dilaporkan terjebak di pintu masuk Selat Hormuz, Teluk Oman, Selasa (3/3) setelah eskalasi militer antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel menutup total jalur pelayaran minyak paling vital di dunia tersebut.
Data dari MarineTraffic yang dianalisis RIA Novosti menunjukkan penumpukan kapal meningkat drastis dari hari sebelumnya, menghentikan seluruh distribusi energi global dari Teluk Persia menuju Laut Arab.
Baca juga:
Iran Bersumpah akan Tembaki Kapal yang Melintas Selat Hormuz, Pasokan Minyak Global Terancam
Dampak Serangan Militer terhadap Jalur Energi
Kemacetan total ini merupakan imbas langsung dari serangan udara Amerika Serikat dan Israel ke sejumlah titik di Iran, termasuk Teheran, pada 28 Februari lalu.
Iran merespons tindakan tersebut dengan meluncurkan serangan balasan ke pangkalan militer AS di Timur Tengah dan wilayah Israel, yang secara otomatis mengubah Selat Hormuz menjadi zona merah yang tidak bisa dilalui.
"Saat ini tidak ada satu pun kapal tanker yang berani melintasi Selat Hormuz karena risiko keamanan yang sangat tinggi," tulis analisis data dari MarineTraffic.
Padahal, wilayah yang secara geografis berbatasan dengan Iran di utara serta Uni Emirat Arab dan Oman di selatan ini merupakan urat nadi pasokan Liquefied Natural Gas (LNG) dan minyak mentah dunia.
Baca juga:
Tangker di Selat Hormuz Jadi Target Serangan Balasan Iran, Kapal AS dan Inggris Terbakar
Gagalnya Diplomasi Nuklir di Jenewa
Situasi kian memanas karena serangan tetap terjadi di tengah upaya mediasi Oman dalam pembicaraan nuklir antara Washington dan Teheran di Jenewa.
Upaya diplomasi tersebut seakan tidak berarti saat jet tempur dan rudal mulai mendominasi langit Timur Tengah.
data-path-to-node="12">