Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Hiburan & Gaya Hidup Fun

Kebalikan dari FOMO, Ini Alasan Orang-Orang Memilih JOMO

Ananda Dimas Prasetya - Selasa, 11 April 2023

DING.. Bunyi notifikasi ponselmu memecah keheningan. Saat kamu cek ternyata itu adalah pesan undangan buka puasa bersama dari grup SMA dulu. Satu persatu kawan lamamu membalas. Namun alih-alih membalas, kamu justru mematikan ponselmu dan memilih tidak menghiraukannya.

Kebalikan dari fear of missing out (FOMO), kondisi seperti itu bisa disebut dengan sindrom joy of missing out (JOMO). Menurut Science Daily, JOMO adalah kenikmatan yang sehat dari kesendirian yang bertentangan langsung dengan FOMO. Biasanya perasaan ini dimiliki seseorang ketika melihat orang lain mengalami pengalaman menyenangkan tanpa mereka.

Baca juga:

Ketergantungan Media Sosial Menimbulkan Sindrom FOMO

JOMO muncul ketika melihat orang lain lebih bahagia tannpa kehadirannya. (Foto: Unsplash/Anthony Tran)

Studi yang dilakukan Washington State University menemukan beragam alasan di dalam JOMO, dan salah satunya terbukti adalah kecemasan di balik joy yang dimaksud dalam JOMO.

“Secara umum, banyak orang suka terhubung. Saat mencoba menilai JOMO, kami menemukan bahwa beberapa orang menikmati rasa tertinggal, bukan karena kesendirian atau pengalaman menenangkan seperti Zen karena dapat berkumpul kembali, melainkan lebih untuk menghindari interaksi sosial,” kata Chris Barry, seorang profesor psikologi WSU.

Untuk membuktikan ini ia melakukan survei ke dua kelompok berbeda. Barry mengajukan serangkaian pertanyaan seputar menikmati menghabiskan waktu sendirian dan terputus hubungan, seperti “Apakah peserta menyukai waktu untuk refleksi diri dan apakah mereka senang melihat teman bersenang-senang meskipun tidak bersama mereka?”

Survei tersebut juga mencakup pertanyaan yang dirancang untuk menilai kesepian, kecemasan sosial, penggunaan media sosial, ciri kepribadian, dan kepuasan hidup.

Studi pertama mengungkapkan adanya hubungan antara mereka yang memiliki JOMO tinggi dengan penggunaan media sosial dan kepuasan hidup, tetapi kecemasan sosial memiliki korelasi yang paling kuat.

Baca juga:

Suka Flexing tak Jamin Banyak Teman

Seorang yang JOMO lebih suka mencari kesenangannya sendiri. (Foto: Pexels/Tim Douglas)

Sementara, di studi kelompok kedua Barry mencoba menemukan sekelompok orang yang memiliki JOMO tinggi tanpa kecemasan sosial. Ia berhasil menemukannya, tetapi kelompok itu kecil hanya 10% dari total 500 peserta. Meskipun tidak cemas secara sosial, kelompok JOMO yang tinggi ini masih melaporkan perasaan kesepian yang sedang.

Barry memiliki konklusi bahwa JOMO mungkin bukan keadaan stabil atau terkait dengan ciri-ciri kepribadian, melainkan fase sesaat yang membutuhkan pemutusan hubungan atau jauh dari interaksi sosial sesaat.

“Ada banyak pertanyaan yang belum terjawab seperti 'berapa dosis interaksi sosial yang baik?' Aku pikir itu akan berbeda untuk semua orang. Motif itu penting, mengapa orang sengaja gak ikut? Kalau karena mereka perlu recharge diri, itu alasan yang baik. Jika mereka mencoba menghindari sesuatu, itu mungkin tidak sehat dalam jangka panjang,” tutup Barry. (kmp)

Baca juga:

5 Cara untuk Mengatasi Kesepian

Baca Artikel Asli