MerahPutih.com - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia mulai mengkhawatirkan. Selain terjadi di wilayah yang selama ini menjadi titik rawan seperti Sumatra dan Kalimantan, kebakaran merambah kawasan hutan sensitif, termasuk wilayah konservasi.
Ketua MPR RI Ahmad Muzani mengatakan kondisi tersebut menjadi tantangan serius bagi pemerintah dan aparat yang berada di lapangan. Terlebih, penanganan karhutla berlangsung di tengah musim kemarau panjang yang membuat sumber air semakin sulit ditemukan.
Ini agak tidak gampang, tapi saya melihat semangat dari aparat-aparat, baik TNI, Polri, ataupun mereka yang menangani persoalan karhutla ini dengan sungguh-sungguh,
kata Muzani dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (29/8).
Menurut Muzani, perluasan wilayah terdampak membuat penanganan karhutla tidak bisa dilakukan secara biasa.
Baca juga:
BNPB Minta Warga Waspada Karhutla, Jangan Buka Lahan dengan Cara Membakar
Risiko Besar Mengintai
Risiko semakin besar ketika api mulai mendekati kawasan hutan yang memiliki fungsi penting bagi lingkungan dan konservasi.
Ia menyebut karhutla kini tidak hanya menjadi persoalan di Sumatra dan Kalimantan. Kebakaran juga mulai ditemukan di sejumlah wilayah Jawa hingga Papua.
Muzani pun mengapresiasi para petugas yang terus berjibaku memadamkan api. Ia mengingatkan seluruh personel yang terlibat agar mengutamakan keselamatan mengingat kondisi medan yang luas dan penuh risiko.
Saya berterima kasih kepada semua yang terlibat dalam penanganan karhutla ini, yang tentu saja juga penuh risiko,
ujarnya.
Muzani sekaligus mengajak masyarakat ikut mengambil peran dalam membantu penanganan kebakaran hutan dan lahan. Dukungan masyarakat dinilai penting untuk membantu petugas menjalankan tugas di tengah kondisi yang tidak mudah.
Di tengah kondisi tersebut, data BNPB menunjukkan adanya peningkatan titik panas di sejumlah wilayah Kalimantan.
Baca juga:
Asap Karhutla Kalimantan Bisa Sampai Malaysia, Puan Minta Kemlu Segera Berkoordinasi
Pusdatin BNPB mencatat Kalimantan Tengah menjadi wilayah dengan peningkatan hotspot paling banyak, dengan 1.837 titik panas baru terdeteksi.
Angka tersebut menjadi sinyal bahwa ancaman karhutla masih perlu diwaspadai, terutama ketika musim kemarau belum berakhir dan kondisi lapangan membuat upaya pemadaman semakin sulit. (Knu)