MerahPutih.com - Ketegasan PSSI menghukum pemain Persiwa Wamewa larangan bermain seumur hidup menjadi memberikan sedikit harapan di tengah kasus kekerasan dalam sepak bola nasional yang terakhir memakan korban tewasnya suporter Persija Haringga Sirila karena dikoroyok oknum pendukung Persib.
Pemain Persiwa yang dihukum larangan bermain seumur hidup dalam semua laga di bawah PSSI itu Aldo Claudio. Kapten Persiwa itu harus mengakhiri karier sepak bolanya di Indonesia karena mendorong, memukul, dan menendang wasit saat laga Persegres Gresik United vs Persiwa Wamena pada 15 September lalu.
Tak hanya Aldo, Komisi Disiplin (Komdis) PSSI juga menghukum 6 pemain Persiwa lainnya dengan sanski larangan bermain 6 bulan sampai setahun karena terlibat insiden yang sama. Mereka adalah Abdul Haris Tuakia, Andreas Ado, Darus Ruspandi, Adek Edo Kurnia, Hobert Robert, dan Riyan Ardiansyah.
Adapun klub Persiwa dihukum denda 50 juta rupiah karena penganiayaan terhadap perangkat pertandingan secara bersama-sama. Persiwa pun menanggung denda sebesar 75 juta, karena juga dihukum denda 25 juta karena pelemparan ke arah bench PS Mojokerto Putra pada 10 September 2018.
Utang Sepak Bola Indonesia untuk Haringga

Sanksi hukuman tegas ini tertuang dalam keputusan Sidang Komdis PSSI yang digelar pada 22 September lalu. Semoga saja ketegasan dalam menindak aksi kekerasan dalam sepak bola ini juga merembet dalam kasus kematian anggota Jakmania Haringga.
Haringga tewas dikeroyok secara membabi-buta oleh suporter Persib di area lapangan parkir stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), Minggu kemarin, tanggal 23 September. Umur suporter setia Persija Jakarta itu ketika menghembuskan nafas terakhirnya baru 23 tahun.
Warga Cengkareng, Jakarta Barat ini dipukuli menggunakan balok kayu hingga helm. Pelaku penganiayaan itu melibatkan hingga puluhan orang. Kepolisian telah menetapkan 8 tersangka dalam kasus ini. Meski demikian, pekerjaan rumah dalam memberangus kekerasan dalam sepak bola nasional bukan berarti selesai.
Harus ada jaminan bagi para pencinta si kulit bundar di Indonesia untuk bisa mendukung tim kesayangannya di mana saja dengan aman. Untuk mewujudkannya harus ada komitmen dari seluruh elemen untuk tegas menindak para pelaku kekerasan, baik dari pemain, oficial tim, hingga para suporter demi menciptakan efek jera.
Akhir kata semoga saja idiom, "Rivalitas hanya 90 menit di atas lapangan yang sama, selebihnya kita bersaudara," tak hanya menjadi slogan kosong yang tanpa pernah terwujud nyata di alam sepak bola Tanah Air. (*/BolaSkor.com)