Jokowi ke Afghanistan di Tengah Serangan Taliban, Pengamat: Super Berani!
Senin, 29 Januari 2018 -
MerahPutih.com - Peneliti terorisme Ridlwan Habib menilai kunjungan Presiden Joko Widodo ke Kabul, Afghanistan, pasca serangan bom mobil di wilayah tersebut merupakan tindakan sangat berani. Serangan bom yang diklaim Taliban pada Sabtu (27/1) itu menewaskan 103 orang.
Kabar terbaru dari Afghanistan, sebuah penembakan terjadi di akademi militer, di Ibu Kota Kabul, Senin (29/1) pagi. Korban belum diketahui dan belum ada juga yang mengaku bertanggung jawab.
Sementara itu, kepastian Presiden Jokowi tetap ke Afghanistan disampaikan Sekretaris Kabinet Pramono Anung lewat akun Twitter-nya @pramonoanung.
"Presiden @jokowi hari ini ke Cox ‘s Bazar, tempat pengungsi Rohingnya dan Besuk tetap akan ke Afganistan, walau banyak yg menyarankan utk menunda kunjungannya krn adanya ledakan bom di Kabul. Presiden ngga ada takutnya #Bismillah," tulis Pramono pada Sabtu (28/1) kemarin.
Kunjungan Jokowi ke Afghanistan merupakan rangkaian kunjungan setelah sebelumnya ke Pakistan dan Bangladesh.
"Pertimbangan Presiden Jokowi untuk tetap mengunjungi Kabul adalah langkah yang super berani, karena negara-negara besar lain di dunia justru mengeluarkan travel warning (peringatan berhati-hati) ke Afghanistan," ujar Ridlwan Habib di Jakarta, Senin (29/1), dilansir Antara.
Presiden Joko Widodo direncanakan mengunjungi Kabul, Afghanistan Senin padahal Kabul baru saja diserang bom mobil tiga hari yang lalu. Serangan itu diklaim dilakukan oleh Taliban.
Serangan itu adalah serangan mematikan kedua, setelah pekan lalu terjadi insiden serangan teror di sebuah hotel di Kabul. Ridlwan menilai kunjungan ini cukup berisiko secara keamanan.
Menurut Ridlwan, tujuh negara besar telah mengeluarkan travel warning ke Afghanistan yaitu Amerika Serikat, Inggris, Prancis, Australia, Swiss, Selandia Baru dan Denmark.
"Mereka melarang warga negaranya mengunjungi Afghanistan karena menduga akan ada serangan terorisme bersenjata," ujar alumnus S2 Kajian Intelijen Universitas Indonesia itu.
Ridlwan menjelaskan, sejak Oktober 2017 hingga Januari 2018, Afghanistan terus diguncang aksi terorisme. Serangan dilakukan oleh dua kelompok yaitu ISIS dan Mujahiddin Taliban .
"Serangan Taliban dilakukan di kota Ghazni, Kandahar, Gardez, Paktia, Ghor dan bulan ini Taliban menyerang Kabul, dalam teori keamanan situasinya merah, sangat berbahaya," ujarnya.
Ridlwan berharap keberanian Jokowi ini diikuti dengan persiapan matang oleh Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres).
"Grup A Paspampres yang melekat pada Jokowi harus menyiapkan contingency plan atau rencana darurat bahkan skenario evakuasi jika saat kunjungan ke Kabul ada serangan terorisme," katanya.
Grup A Paspampres adalah salah satu di antara tiga grup di Paspampres yang bertanggung jawab terhadap keamanan seorang presiden beserta keluarganya. Grup B bertanggung jawab terhadap keselamatan wakil presiden dan keluarganya sedangkan grup C bertanggung jawab terhadap setiap tamu negara bagi presiden.
Keselamatan Presiden harus jadi prioritas utama. Paspampres harus sudah mengukur jarak waktu menuju bandara yang paling aman. Selain itu, saat kunjungan dilakukan Paspampres perlu menambah peralatan keamanan.
Dia menilai sikap Jokowi yang bersikeras tetap mengunjungi Kabul ditengah ancaman besar aksi terorisme itu adalah simbol perlawanan terhadap aksi aksi teror.
"Pak Jokowi memberi kode pada seluruh pemimpin besar dunia bahwa terorisme adalah musuh bersama, Jokowi memberi contoh agar tidak tunduk dan diam pada terorisme," kata Ridlwan. (*)