Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Berita Indonesia

Inovasi Wolbachia Dinilai Kurangi Kemampuan Nyamuk Jadi Penular Demam Berdarah

Alwan Ridha Ramdani - Selasa, 11 Juni 2024

MerahPutih.com - Penyakit demam berdarah dengue atau DBD merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus dengue. Virus itu ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus (vektor).

Nyamuk tersebut berkembang biak cepat pada genangan air bersih, sedangkan puncak dari insiden demam berdarah biasanya terjadi pada musim hujan.

Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Christina Safira Whinie Lestari mengatakan, teknologi inovasi Wolbachia yang masih dikembangkan di Indonesia dapat membantu untuk mengurangi populasi vektor dengue.

"Wolbachia adalah bakteri alami yang ada pada 60 persen serangga. Bakteri itu tidak menginfeksi manusia atau vertebrata yang lain dan tidak menyebabkan manusia atau hewan menjadi sakit,” ujarnya di Jakarta, Senin.

Baca juga:

DPRD DKI Anggap Denda Jentik Nyamuk DBD Rp 50 Juta Cuma Gertakan

Periset biomedis mengatakan, Wolbachia dalam tubuh nyamuk Aedes aegypti dapat menghambat replikasi virus dengue, sehingga mengurangi kemampuan nyamuk tersebut sebagai penular demam berdarah.

Christina menuturkan, studi kelayakan pelaksanaan teknologi Wolbachia telah dilakukan di Yogyakarta pada tahun 2022 dan hasilnya menurunkan 77 persen kasus demam berdarah serta 86 persen kasus perawatan di rumah sakit.

Beberapa gejala utama pasien terkena demam berdarah, antara lain adanya demam tinggi, nyeri kepala berat, nyeri di belakang bola mata, mual, muntah, nyeri ulu hati, rasa linu-linu pada tulang serta adanya ruam merah.

Christina mengungkapkan, seseorang memungkinkan untuk terkena demam berdarah berulang kali karena respon imun kekebalan yang dibentuk oleh tubuh tidak sepenuhnya bisa menetralkan virus tersebut.

Baca juga:

Sebar Nyamuk Wolbachia, Upaya Pemprov DKI Tekan Kasus DBD

"Ini disebabkan karena demam berdarah tidak hanya memiliki satu serotipe, melainkan memiliki beberapa serotipe," katanya. (*)

Baca Artikel Asli