MerahPutih Nasional - Beberapa minggu terakhir ini muncul beberapa persepsi tentang turunnya tingkat kepercayaan publik terhadap pemerintah. Menurunnya tingkat kepercayaan publik tersebut juga dianggap mempengaruhi popularitas Presiden Joko Widodo alias Jokowi.
Namun Edelman Trust Barometer mempersepsikan sebaliknya. Berdasarkan hasil risetnya, Edelman Trust Barometer menegaskan menurunnya kepercayaan publik tersebut bukan semata-mata karena Jokowi, tapi pemerintah secara keseluruhan.
Head of Public Affairs Edelman Trust Barometer untuk Asia Tenggara, Stephen Lock, mengatakan bahwa hasil riset yang diselenggarakan pada Oktober-November 2014 lalu, bersamaan dengan pencabutan subsidi Bahana Bakar Minyak (BBM) menunjukkan pandangan masyarakat terhadap pemerintahan dalam jangka panjang.
Menurut survei, kepercayaan publik tersebut bersifat rapuh dan harus diperhatikan dengan baik. Jika masyarakat tidak melihat perubahan berarti atau pemerintah kembali terlibat skandal-skandal yang sama dengan apa yang terjadi di pemerintahan sebelumnya, kesabaran dan kepercayaan masyarakat akan menurun dengan cepat.
BACA JUGA: Tingkat Kepercayaan Publik pada Pemerintahan Jokowi Masih Tinggi
"Bahkan bila Jokowi gagal memimpin, akibatnya mungkin saja lebih membahayakan, seperti kekecewaan terhadap proses demokrasi itu sendiri," kata Stephen di Jakarta, Selasa (3/2).
Dalam kesempatan itu, Stephen menambahkan bahwa Edelman Trust Barometer adalah survei tahunan ke-15 yang mengangkat topik kepercayaan dan kredibiltas institusi di mata publik. Survei yang dilakukannya kali ini adalah yang ke tujuh dan dimotori oleh firma riset Edelmen Berland dan dilakukan dengan cara wawancara online.
Survei kali ini melibatkan 1000 responden umum dan 200 orang yang melek informasi. Sementara di tingkat dunia, survei ini melibatkan 33 ribu responden dari 27 negara. Responden yang melek informasi sudah memenuhi kriteria dalam surveinya dengan pendidikan terakhir S1, pengadilan di kuratil teratas (untuk umurnya sesuai negara asal masing-masing), rajin membaca dan menonton berita umum maupun bisnis beberapa kali dalam seminggu.
"Mereka juga mengikuti isu kebijakan publik melalui berita, setidaknya beberapa kali dalam seminggu. Hasilnya menunjukkan bahwa Indonesia terus menjadi salah satu negara dengan tingkat kepercayaan tertinggi di dunia," kata Stephen. (hur)
BERITA LAINNYA:
Rombongan Konvoi Polisi Tabrak Siswi SMK Hingga Tewas
Sprindik Keluar, Kabareskrim Pastikan Abraham Samad Bakal Jadi Tersangka