DPD Tolak Danais untuk Program Kebudayaan Impor

Kamis, 28 Juli 2016 - Noer Ardiansjah

MerahPutih Budaya - Hafidh Asrom, anggota DPD menyatakan bahwa penggunaan dana istimewa (danais) harus tepat. Ia mengingatkan, jangan sampai danais justru digunakan untuk program kebudayaan impor.

Belakangan, festival jazz di Yogyakarta kian marak. Padahal, musik jazz merupakan musik impor yang memang belakangan sering dikumandangkan.

Hafidh menyatakan, penyelenggaraan festival seperti ini tidak tepat bila menggunakan danais. "Pemerintah harus bisa memilih program untuk danais. Yang harus diperhatikan itu adalah kebudayaan kita sendiri, budaya Indonesia, budaya Yogyakarta seperti apa. Misalnya festival gamelan, kan cocok. Jangan sampai malah digunakan untuk kebudayaan luar," katanya kepada wartawan, usai mengadakan pertemuan dengan Gubernur DI Yogyakarta, di Kepatihan, Jalan Malioboro, Kota Yogyakarta, Rabu (27/7).

Hafidh, sesuai hasil pertemuan dengan Gubernur, menyatakan terkait danais pihaknya akan melakukan evaluasi setiap minggu. Dengan adanya evaluasi per minggu, imbuhnya, diharapkan masyarakat dapat merasakan dampak dari penggunaan danais.

Salah satu hal yang harus diperhatikan di Yogyakarta saat ini ialah tata kota. Hafidh menjelaskan, tata kota Yogyakarta perlu perbaikan agar Yogyakarta benar-benar terasa istimewa. Menurutnya, banyaknya papan reklame di pinggir jalan justru membuat kesan Yogyakarta jauh dari kata istimewa. (Fre)

BACA JUGA:

  1. Ribuan Pengunjung Kirab Budaya Prawirotaman Berebut Gunungan
  2. Festival Budaya Prawirotaman Yogyakarta
  3. Seni Tradisi dan Modern Hiasi Festival Budaya Prawirotaman
  4. SBC Tahun Ini Usung Tema Kekayaan Warisan Budaya Jawa
  5. Libur Lebaran, Kebyar Seni Budaya Minang Ramaikan TMII

Bagikan

Baca Original Artikel
Bagikan