BADAN Ekonomi Kreatif (Bekraf) meluncurkan perjalanan kopi Indonesia sejak dikenalkan di era kolonial Belanda hingga jadi bagian gaya hidup masa kini. Semuanya dimaut dalam buku Kopi: Indonesian Coffee Craft & Culture.
Buku ini nantinya bisa diakses secara digital lewat aplikasi iPusnas milik Perpustakaan Nasional. Isinya juga bisa diunduh melalui portal Bekraf.
1. Indonesia baru sekedar mengekspor biji kopi, hanya sebagai komoditas
Triawan Munaf, Kepala Badan Ekonomi Kreatif dalam sambutannya di Jakarta, seperti yang dilansir dari Antara, mengatakan Indonesia saat ini masih menjadikan kopi sebagai komoditas, sekadar mengekspor biji kopi.
"Negara lain yang tidak punya kebun kopi bisa mengolahnya sedemikian rupa sehingga mereka yang dapat nilai tambahnya. Yang ingin Bekraf lakukan, memperjuangkan nilai tambah itu agar bisa kita dapatkan di Indonesia," kata Triawan.
Kelak Indonesia tak cuma mengekspor biji kopi, tapi juga menawarkan kopi yang sudah diolah sehingga meningkatkan perekonomian. Triawan mengatakan, kopi Indonesia sangat kaya dari segi varian. Tercatat ada 21 kopi Indonesia yang memiliki indikasi geografis.
2. Apresiasi pada Bondan Winarno yang ikut berkontribusi pada buku ini
Dalam peluncuran buku ini, Bekraf juga mengungkapkan rasa terima kasih pada mendiang Bondan Winarno. Ikon dunia kuliner Indonesia ini berkontribusi dalam pembuatan buku Kopi: Indonesian Coffee Craft & Culture.
"Kecintaan dan passion almarhum terhadap kopi Indonesia yang termuat dalam buku ini akan menjadi warisan yang berharga bagi kita dan generasi mendatang," kata Triawan.
3. Buku yang membahas sejarah dan keunikan dalam dunia kopi Indonesia
Buku ini terdiri dari 260 halaman penuh warna dihiasi foto-foto menarik seputar kopi. Buku berbahasa Inggris ini membahas sejarah kopi, cara-cara unik menyeduh kopi di Indonesia hingga para wirausaha di bidang kopi. (*)