Candei Senandungkan Bahasa Besemah lewat Mini Album Terbaru
Sabtu, 14 Desember 2024 -
MERAHPUTIH.COM – DI wilayah Sumatra Selatan, geliat kelompok musik masa kini untuk kembali menggubah narasi tradisi lokal sedang marak-maraknya. Perkembangan ini dibuka oleh Semakbelukar, kemudian muncul beberapa nama dengan membawa semangat yang sama.
Candei menjadi salah satunya. Satu kelompok asal Muara Enim yang memainkan musik folk/melayu dengan muatan ekspresi kekinian. Bekerja sama dengan label rekaman Bahasa Ibu Records, Candei merilis sebuah album mini bertajuk Self Titled.
Secara resmi, kelompok Candei terdiri dari Fram Prasetyo (gitar akustik, vokal), Putra Kusuma (gitar akustik nilon), Syahlan Loebis (perkusi), Triwibowo SP (suling), dan Fajrin Ramadani (akordeon). Seluruh syair dalam lagu-lagu Candei ditulis oleh Fram dalam bahasa Besemah, yaitu bahasa dari suku Melayu Besemah yang mendiami beberapa wilayah Sumatra Selatan. “Awalnya ingin menggunakan Bahasa Indonesia, tetapi rekan-rekan mendorong saya untuk mengangkat bahasa daerah sebagai identitas,” ucap Fram dalam keterangan resminya.
Baca juga:
Indonesia Kaya Kembali Sajikan #MusikalDiRumahAja Bertajuk 'Barong Landung'
EP ini sendiri terdiri dari lima lagu dengan syair berbahasa Melayu Besemah, yaitu Ghimbe, Sendari, Titah Raje, Cerite Baghe, dan Tikate Tuwe.
Formula musik Candei diinspirasi oleh Batanghari Sembilan, irama musik petikan gitar tunggal lengkap dengan tradisi bertuturnya. Dikenal juga sebagai tradisi Rejung atau Merejung, memberikan warna khas dalam setiap karya mereka.
“Bedanya dengan umumnya Rejung adalah secara tema, lagu-lagu Candei lebih personal dan kontemporer, respons pribadi saya yang resah akan politik atau kehidupan adat di desa,” tambah Fram menjelaskan syair-syair yang dibuatnya.
Setiap lagu dalam album mini Self Titled ini bercerita tentang tradisi yang menyimpang dan mengarah ke hal-hal negatif, menyoroti pentingnya mempertahankan nilai-nilai budaya yang baik.(far)
Baca juga: