Merahputih.com - Anggota Komisi VII DPR RI Putra Nababan mempertanyakan komitmen LPP TVRI dalam memfasilitasi masyarakat wilayah Indonesia Tengah dan Indonesia Timur menjelang Piala Dunia 2026.
Legislator Fraksi PDI-Perjuangan tersebut menyatakan kekecewaan mendalam karena program siaran stasiun televisi publik tersebut masih bersifat Jawa-sentris.
Baca juga:
Grup Paling Lemah di Piala Dunia 2026 Versi Superkomputer Opta
Sorotan tajam tertuju pada agenda kegiatan nonton bareng (nobar) pembukaan kompetisi sepak bola terbesar sejagat tersebut, tercatat hanya berpusat di wilayah Jakarta dan Bandung.
Kok kick-off awalnya itu Jakarta Bandung, kenapa gak dibikin di Ambon? Kenapa gak dibikin di NTT? Kenapa gak dibikin di Papua? Kenapa gak dibikin di Makassar? Kenapa? Piala Dunia ini punya kita semua, bukan ‘jawa sentris’ Pulau Jawa saja,
ujar Putra Nababan.
Ketimpangan Anggaran Penyiaran TVRI
Putra menilai antusiasme fans sepak bola di kawasan Indonesia Tengah dan Timur sangat tinggi. Momentum akbar ini seharusnya memicu peningkatan akses siaran TVRI di daerah penunjang, bukan justru memperlebar kesenjangan fasilitas.

Alokasi anggaran lembaga penyiaran publik tersebut terbukti belum berpihak pada pemerataan hak tontonan masyarakat daerah.
Sudah saya warning berkali-kali bahwa kita punya saudara-saudara ada di Indonesia Tengah, Indonesia Timur luar biasa cintanya sama bola. Kalau ini pernah disuarakan kalau TVRI ini adalah program Presiden untuk semua masyarakat Indonesia tolong lakukan, dan ini tidak tercermin dari anggaran ada,
kata Putra.
Rendahnya Serapan Dana Pusdiklat TVRI
Politisi PDI-P tersebut memaparkan data realisasi anggaran Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Pusdiklat) TVRI baru menyentuh angka 16 persen. Padahal, peningkatan kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) memegang peran krusial demi mendukung kualitas penyiaran ajang olahraga internasional kelas dunia.
Baca juga:
Grup 'Neraka' di Piala Dunia 2026 Versi Superkomputer Opta, Siapa Paling Semenjana?
TVRI tercatat hanya mampu menaikkan jangkauan siaran sebesar 2 persen, bergerak dari angka 75 persen menuju 77 persen. Putra mendesak manajemen TVRI segera melakukan langkah konkret perbaikan program menjelang waktu sepak mula bergulir.
Ini merupakan kekecewaan kita setelah kita berbusa-busa berbuih-buih rapat tertutup, rapat terbuka ternyata hasilnya itu masih berpihak pada daerah-daerah memang masih menjadi jangkauan TVRI dan penambahannya dari 75% hanya nambah 2% menjadi 77%. Waktunya tidak lama lagi kick-off sudah sebentar beberapa hari lagi,
ucap Putra.