Merahputih.com - China mengutuk keras serangan militer Amerika Serikat (AS) dan Israel yang menghantam fasilitas publik serta menewaskan ratusan warga sipil di wilayah Iran pada Selasa (3/3).
Tragedi memilukan ini terjadi di Kota Minab, Provinsi Hormozgan, di mana serangan udara pada Sabtu (28/2) menyasar Sekolah Dasar Khusus Putri Shajareh Tayyebeh dan mengakibatkan sedikitnya 165 orang meninggal dunia.
"China sangat sedih atas banyaknya korban sipil yang disebabkan oleh serangan AS dan Israel terhadap Iran. Kami mengutuk keras hal itu. Perlindungan warga sipil dalam konflik bersenjata adalah garis merah dan tidak boleh dilanggar," tegas Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning, dalam konferensi pers di Beijing.
Baca juga:
Kemlu Qatar Tegaskan Tidak Ambil Bagian dalam Serangan ke Iran, Hanya Gunakan Hak
Pelanggaran Hukum Internasional dan Kedaulatan
Pemerintah China menilai penggunaan kekuatan militer tanpa izin Dewan Keamanan PBB ini merupakan bentuk pelanggaran nyata terhadap hukum internasional. Mao Ning menyebutkan bahwa serangan tersebut tidak hanya merusak fasilitas sipil, tetapi juga mengancam stabilitas keamanan di seluruh kawasan Teluk.
"Penggunaan kekuatan tanpa pandang bulu tidak dapat diterima. China menyerukan kepada semua pihak untuk memenuhi kewajiban mereka berdasarkan hukum internasional, secara efektif memastikan keselamatan warga sipil, dan menghindari serangan terhadap fasilitas sipil," tambah Mao Ning.
Balasan Iran dan Evakuasi Warga AS
Situasi kian memanas setelah laporan mengonfirmasi tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dalam serangan tersebut. Sebagai respons cepat, Teheran meluncurkan gelombang serangan rudal yang menargetkan wilayah Israel dan pangkalan militer Amerika Serikat di Timur Tengah.
Baca juga:
Menyikapi eskalasi yang tidak terkendali, Departemen Luar Negeri AS melalui Menteri Luar Negeri Marco Rubio memberikan pembelaan bahwa serangan tersebut bersifat "preemptif" atau pencegahan.
Namun, pengarahan tertutup Pentagon justru mengungkapkan fakta berbeda, di mana tidak ditemukan intelijen kuat bahwa Iran berencana menyerang pasukan AS lebih awal.
Kini, Washington telah mengeluarkan perintah evakuasi bagi seluruh warga negaranya di 15 negara kawasan Timur Tengah.