Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Berita Indonesia

BNPT Ungkap Strategi Penanganan Terorisme di Singapura

Luhung Sapto - Rabu, 05 April 2017

Penanganan teroris di Indonesia dengan soft approach dan hard approach menjadi role model dalam penanganan terorisme di negara lain. Yakni dengan deradikalisasi dan kontra radikalisasi, sedangkan penindakan menggunakan aturan hukum yang berlaku di Indonesia dengan tetap menjunjung tinggi Hak Azasi Manusia (HAM).

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Pol. Suhardi Alius memaparkan soft approach dan hard approach dalam penanganan teroris di Indonesia saat berbicara di forum International Exhibition of Home Land Security 7th Edition di Singapura.

"Kami menggunakan dua langkah dalam penanggulangan terorisme yaitu soft approach (pencegahan) dan hard approach (penindakan)," ujar Suhardi di depan peserta dari berbagai negara itu, Rabu (5/4).

Selain itu, BNPT juga melibatkan para mantan kombatan yang sudah bertobat untuk menyempurnakan program deradikalisasi, baik bagi napi terorisme di dalam Lembaga Pemasyarakat (Lapas) maupun mereka yang sudah bebas. BNPT juga memberikan pelatihan keterampilan kewirausahaan bagi keluarga mantan teroris, beasiswa bagi anak-anak mereka. Itu dilakukan agar mereka tidak terpinggirkan dan bisa diterima di masyarakat sehingga tidak kembali lagi ke jaringan lamanya.

"Kami juga merangkul organisasi kemasyaratan (Ormas) moderat terbesar di Indonesia, NU dan Muhammadiyah untuk meluruskan pemahaman keagamaan yang selama ini keliru ditafsirkan para mantan tersebut," tutur Suhardi.

Suhardi juga menyinggung pentingnya kerjasama dalam penanganan ancaman terorisme global. Menurutnya, tak satu pun negara yang kebal. Terbukti tahun lalu, aksi terorisme menghantam beberapa penjuru dunia seperti di Dacca (Bangladesh), Bangkok (Thailand), Nice (Prancis), Istanbul (Turki), Brussel (Belgia), New York (Amerika Serikat), London (Inggris), dan ibukota Indonesia, Jakarta.

Namun sejauh ini, papar Suhardi, aparat Indonesia berhasil melakukan deteksi dini untuk meminimalisasi aksi terorisme. Contohnya, pengungkapan rencana bom panci di Bekasi dan beberapa hari lalu, 8 anggota teroris di 5 tempat berbeda di Jawa Barat dan Banten berhasil dibekuk aparat. Kelompok ini terkait dengan teror bom di Samarinda yang tengah berencana membuat kamp pelatihan di Maluku Utara.

Baca Artikel Asli