MerahPutih.com - Tari Kene-Kene, tarian tradisional dari Halmahera Tengah (Halteng), Maluku Utara, yang telah ada sejak ratusan tahun, kini resmi tercatat sebagai kekayaan intelektual komunal kategori ekspresi budaya tradisional khas Indonesia.
Kementerian Hukum (Kemenkum) menegaskan pengakuan itu wujud perlindungan negara terhadap ekspresi budaya tradisional sebagai ragam kekayaan intelektual komunal yang telah hidup di dalam masyarakat sejak lama.
“Pelindungan ekspresi budaya tradisional ini dapat melestarikan budaya masyarakat. Selain itu dapat menarik minat pariwisata dan ekonomi kreatif melalui perlindungan kekayaan intelektual komunal,” kata Kepala Kantor Wilayah (Kanwil) Kemenkum Maluku Utara (Malut) Budi Argap Situngkir, dalam keterangannya kepada media, dikutip Selasa (10/2).
Baca juga:
Tradisi Murok Jerami Desa Namang Resmi Diakui Jadi Kekayaan Intelektual Khas Indonesia
Bawa Pesan Kesetaraan Gender
Kemenkum menegaskan pelindungan kekayaan intelektual komunal bertujuan menjaga identitas dan martabat bangsa, melestarikan warisan budaya untuk generasi mendatang, serta mencegah penyalahgunaan secara komersial oleh pihak lain.
“Kita harus bersama-sama melindungi pengetahuan tradisional, ekspresi budaya, indikasi geografis, dan potensi asal daerah,” tandasnya.
Sementara itu, Tokoh adat Gamrange, Abdul Latif Lukman (76), menambahkan Tari Kene-kene mengandung makna kesetaraan gender.
“Tarian Kene-kene mengandung makna adanya kesetaraan gender yakni antara laki-laki dan perempuan mempunyai kesempatan yang sama dalam membangun daerah ini,” katanya, dalam keterangan yang sama.
Baca juga:
Apa Itu Tari Kene-Kene
Dalam tradisi, masyarakat menari sambil meletakkan hasil panen ke dalam wadah dengan melantunkan Saut, yakni syair berisi ungkapan rasa bahagia dan pesan moral tentang kehidupan.
Gerakan energik dalam tarian Kene-Kene ini menggambarkan semangat muda-mudi, sementara pesan moral yang disampaikan menjadi pedoman agar tidak salah dalam melangkah atau menentukan pilihan hidup.
Tari Kene-kene kemudian berkembang menjadi tarian pergaulan anak muda di Gamrange atau Tiga Negeri Maba, Patani, dan Weda, diiringi musik tradisional seperti tifa, fiol, gambus, dan juk/ukulele. (*)