Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Berita Indonesiaku Tradisi Indonesia

Berabad-abad Bawa Pesan Kesetaraan Gender, Tari Kene-Kene Diakui Jadi Kekayaan Intelektual RI

Wisnu Cipto - Selasa, 10 Februari 2026

MerahPutih.com - Tari Kene-Kene, tarian tradisional dari Halmahera Tengah (Halteng), Maluku Utara, yang telah ada sejak ratusan tahun, kini resmi tercatat sebagai kekayaan intelektual komunal kategori ekspresi budaya tradisional khas Indonesia.

Kementerian Hukum (Kemenkum) menegaskan pengakuan itu wujud perlindungan negara terhadap ekspresi budaya tradisional sebagai ragam kekayaan intelektual komunal yang telah hidup di dalam masyarakat sejak lama.

“Pelindungan ekspresi budaya tradisional ini dapat melestarikan budaya masyarakat. Selain itu dapat menarik minat pariwisata dan ekonomi kreatif melalui perlindungan kekayaan intelektual komunal,” kata Kepala Kantor Wilayah (Kanwil) Kemenkum Maluku Utara (Malut) Budi Argap Situngkir, dalam keterangannya kepada media, dikutip Selasa (10/2).

Baca juga:

Tradisi Murok Jerami Desa Namang Resmi Diakui Jadi Kekayaan Intelektual Khas Indonesia

Bawa Pesan Kesetaraan Gender

Kemenkum menegaskan pelindungan kekayaan intelektual komunal bertujuan menjaga identitas dan martabat bangsa, melestarikan warisan budaya untuk generasi mendatang, serta mencegah penyalahgunaan secara komersial oleh pihak lain.

“Kita harus bersama-sama melindungi pengetahuan tradisional, ekspresi budaya, indikasi geografis, dan potensi asal daerah,” tandasnya.

Sementara itu, Tokoh adat Gamrange, Abdul Latif Lukman (76), menambahkan Tari Kene-kene mengandung makna kesetaraan gender.

“Tarian Kene-kene mengandung makna adanya kesetaraan gender yakni antara laki-laki dan perempuan mempunyai kesempatan yang sama dalam membangun daerah ini,” katanya, dalam keterangan yang sama.

Baca juga:

Kemenkum Sahkan Kerbau Belang Tedong Bonga Kekayaan Intelektual Komunal Sumber Daya Genetik Asli Toraja

Apa Itu Tari Kene-Kene

Dalam tradisi, masyarakat menari sambil meletakkan hasil panen ke dalam wadah dengan melantunkan Saut, yakni syair berisi ungkapan rasa bahagia dan pesan moral tentang kehidupan.

Gerakan energik dalam tarian Kene-Kene ini menggambarkan semangat muda-mudi, sementara pesan moral yang disampaikan menjadi pedoman agar tidak salah dalam melangkah atau menentukan pilihan hidup.

Tari Kene-kene kemudian berkembang menjadi tarian pergaulan anak muda di Gamrange atau Tiga Negeri Maba, Patani, dan Weda, diiringi musik tradisional seperti tifa, fiol, gambus, dan juk/ukulele. (*)

Baca Artikel Asli