Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Berita Indonesia

Beda Sama Ahok, Pengamat Sindir Anies Jaga Jarak dan Antikritik

Wisnu Cipto - Kamis, 13 September 2018

MerahPutih.com - Pengamat Kebijakan Publik Universitas Trisakti, Trubus Rahadiansyah buka suara terkait soal agenda Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yang dinilai tertutup kepada media massa.

Apalagi, belakangan ini Anies lebih banyak menggunakan media sosialnya untuk mempublikasikan kegiatannya sebagai Gubernur kepada masyarakat.

"Balai Kota jadi seperti kuburan. Apa yang dilakukan (Anies) itu publik banyak yang engga tahu, menurut saya bisa dieksploitasi," kata Trubus saat dihubungi wartawan, Kamis (13/9).

Trubus pun menyayangkan sikap alumnus Universitas Gadjah Mada (UGM) itu yang terkesan menjaga jarak dengan awak media. Menurut dia, situasi ini jauh berbeda dengan beberapa waktu lalu ketika Anies masih didampingi oleh Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno.

Sandiaga
Sandiaga Uno bersama masyarakat dalam sebuah kegiatan di Maluku (Foto: Twitter @sandiuno)

Anies kala itu, kata Trubus, secara rutin mengadakan pers konferens bersama awak media untuk mengkomunikasikan seluruh permasalahan di Jakarta, tetapi saat ini kegiatan itu jarang dilakukan. Trubus pun menganggap mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ini anti kritik.

"Kalau saya lihat, beliau anu apa belakangan banyak menghindar pertanyaan-pertanyaan media. Saya melihat satu bahwa kalau (Anies) antikritik. Itu sikapnya ya," imbuh dia.

Ahok
Ahok menghadiri acara malam pergantian tahun baru 2016 di Ancol. Foto: MP

Trubus pun membandingkan suasana Balai Kota saat dipimpin Anies dengan era Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok. Trubus menyarankan, agar Anies bisa lebih terbuka agar sistem demokrasi yang baik dapat berjalan sebagaimana mestinya.

"Menurut saya ini menyangkut etika pejabat publik, ini jadi kurang bagus kurang baik, seorang etika penyelenggara negara kan dia harus dekat dengan masyarakat. Seperti apa yang dulu Pak Ahok lakukan dengan menerima keluhan di Balai Kota itu adalah salah satu cara bagaimana demokrasi itu berlangsung," tutupnya. (Asp).

Baca Artikel Asli