Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Hiburan & Gaya Hidup ShowBiz

Akademisi 10 Negara Kumpul di Konferensi Global BTS, Ngobrolin Gelombang Korea

Dwi Astarini - Rabu, 01 Juli 2026

MERAHPUTIH.COM — PARA akademisi dari berbagai penjuru dunia akan berkumpul di Korea Selatan untuk mengkaji pengaruh budaya BTS melalui perspektif fandom, teknologi, politik, dan globalisasi. Konferensi 'The Fifth BTS: A Global Interdisciplinary Conference' dijadwalkan berlangsung pada Kamis dan Jumat (2-3 Juli) di International Convention Center, Jeonbuk National University. Tema yang diangkat tahun ini yakni The Next Generation Hallyu & BTS. Hallyu merupakan istilah yang merujuk pada gelombang budaya Korea yang menyebar secara global.

Konferensi yang diselenggarakan International Society for BTS Studies (ISBS) ini akan menghadirkan 50 pemakalah dari 10 negara, yakni Korea Selatan, Amerika Serikat, Indonesia, Filipina, Vietnam, Mongolia, Republik Ceko, Kanada, Australia, dan Jepang. Acara ini juga diselenggarakan bersama oleh Namwon Glocal Campus Administration, Center for Glocal University Project, Department of K-entertainment, serta Big Movement dari Jeonbuk National University.

Konferensi selama dua hari ini akan menghadirkan 11 sesi akademis yang membahas berbagai topik, mulai dari komunitas penggemar dan teknologi digital hingga filsafat, keberlanjutan, dan agama.

Profesor Lee Ji-haeng, dosen K-entertainment di Jeonbuk National University, akan menyampaikan pidato utama yang membahas makna budaya dari ‘babak baru’ BTS setelah menyelesaikan wajib militer. Presentasinya akan mengulas bagaimana fandom, teknologi digital, komunikasi global, dan keterlibatan warga terus membentuk pengaruh BTS di dunia.

Baca juga:

K-Pop Menang Besar di AMAs 2026, Menginvasi Amerika lewat BTS hingga KATSEYE



Sesi pembukaan khusus akan menampilkan wawancara dengan sutradara Bao Nguyen, pembuat film dokumenter Netflix BTS: The Return. Nguyen menggambarkan masa jeda aktivitas BTS akibat wajib militer dan reuni mereka sebagai sebuah odyssey modern. Ia juga menegaskan dokumenter tersebut sengaja tidak menyederhanakan budaya Korea maupun BTS agar lebih mudah dipahami penonton Barat.

Sesi-sesi lainnya akan membahas bagaimana K-pop terus berkembang lintas budaya. Salah satu panel akan mengkaji kembali hubungan antara lokalitas dan globalisasi melalui BTS dan bahasa, sedangkan panel lain akan membahas identitas Amerika Latin dalam grup global HYBE Santos Bravos, serta fenomena gelombang Korea di Mongolia pada era pascanomaden. Presentasi lain akan mengulas konten yang dihasilkan akal imitasi (AI) di komunitas penggemar, teknologi digital, identitas gender, serta perubahan bentuk partisipasi penggemar.

Sesi khusus yang diselenggarakan Hallyu Convergence Academy dari Dongguk University juga akan membahas keberlanjutan era post-Hallyu, dengan fokus pada ekosistem budaya yang digerakkan masyarakat lokal, penggunaan AI generatif di platform seperti TikTok, serta bentuk-bentuk baru kreativitas digital.

Selain presentasi akademik, peserta juga akan menyaksikan Forever We Are Young, sebuah film dokumenter yang berpusat pada para penggemar BTS, yang kemudian dilanjutkan dengan diskusi bersama sutradara Grace Lee dan para akademisi.

Konferensi akan ditutup dengan pertunjukan pansori, seni opera rakyat tradisional Korea, oleh seorang penyanyi asal Jeonju yang akan membawakan interpretasi baru dari album ARIRANG. Seperti dilansir The Korea Times, pertunjukan tersebut mencerminkan identitas kota tuan rumah yang dikenal sebagai pusat warisan budaya tradisional Korea, sekaligus menggambarkan keterlibatan kembali BTS dengan identitas budaya Korea.

Setelah konferensi berakhir, para peserta akan mengikuti ARMY Tour yang mencakup kunjungan ke sejumlah lokasi terkait dengan BTS di Wanju, Provinsi Jeolla Utara, serta pengalaman langsung membuat kipas dari hanji, yaitu kertas tradisional Korea.

Konferensi tahunan ini pertama kali diselenggarakan pada 2020 di Kingston University, Inggris. Sejak saat itu, acara tersebut telah digelar bekerja sama dengan California State University, Northridge, Hankuk University of Foreign Studies, dan University of Malaya, serta berkembang menjadi jaringan akademik internasional yang didedikasikan untuk kajian mengenai BTS dan fenomena gelombang Korea kontemporer.(dwi)

Baca Artikel Asli