Kesehatan

White Coat Hypertension, ketika Kepanikan terhadap Tenaga Medis Picu Hipertensi

Dwi AstariniDwi Astarini - Senin, 17 Juli 2023
White Coat Hypertension, ketika Kepanikan terhadap Tenaga Medis Picu Hipertensi

White coat hypertension terjadi karena kepanikan menghadapi tenaga medis.(foto: pexel/pavel danilyuk)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

KETAKUTAN akan pemeriksaan dokter atau tenaga medis lainnya bukan hal sepele. Meski terdengar sepele dan aneh, ketakutan bertemu dokter atau berhadapan dengan perawat nyata adanya. Kepanikan yang muncul akibat kondisi ini faktanya bisa menjadi pemicu lonjakan tekanan darah.

Dokter spesialis jantung Rumah Sakit Jantung Pembuluh Darah Harapan Kita (RSJPD Harapan Kita) yang juga koordinator tim penelitian dan pengabdian msyarakat RSJPD Harapan Kita Dr Bambang Widyantoro, SpJP(K), PhD mengatakan panik saat melakukan pemeriksaan tensi dapat menyebabkan seseorang mengalami hipertensi. Kondisi itu disebut dengan white coat hypertension. "Setiap ke klinik (cek tekanan darah) dia deg-degan sehingga tekanan darah naik," kata Bambang pada konferensi pers di Rumah Sakit Pusat Jantung Nasional Harapan Kita, Senin (17/7).

BACA JUGA:

Remaja Berisiko Mengalami Hipertensi

Istilah 'white coat' mengacu pada mantel putih yang dipakai para dokter. Seperti namanya, white coat hypertension, kondisi ini merupakan kenaikan tekanan darah seseorang karena panik bertemu dokter, padahal kondisi mereka sebenarnya sehat-sehat saja.

hipertensi
Dr Bambang Widyantoro, SpJP(K), PhD mengatakan panik saat melakukan pemeriksaat tensi dapat menyebabkan seseorang mengalami hipertensi.(foto: Merahputih.com/Aqil Baihaqi)

Bambang mengungkap banyak orang mengalami kondisi ini pada masa pandemi. Mereka yang harus mengecek tekanan darah sebelum menerima vaksin kerap merasa takut dengan dokter. Alhasil, tekanan darah mereka mencapai angka 140mmHg atau lebih.

"Seperti di tempat vaksin, tekanan darah mereka tinggi karena takut baru pertama kali divaksin," tambah Bambang.

Meski begitu, lanjut Bambang, ada alternatif bagi mereka yang mengalami white coat hypertension untuk mengecek tensi darah. Ia mengatakan sebaiknya mereka mengecek tensi darah di rumah. Saat itu, kondisi pasien rileks sehingga hasil pengecekan tensi darah akurat. "Kalau setelah tujuh hari tekanan darah mereka baik, berarti kondisi mereka normal," tuturnya.

BACA JUGA:

Bahaya Hipertensi Untuk Ibu Hamil dan Janin

Kondisi hipertensi bisa menyebabkan penyakit kardiovaskular yang juga membuat anak mengalami stunting. Oleh karena itu, Departemen Kardiologi dan Kedokteran Vaskular Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia bekerja sama dengan RS Jantung dan Pembulu Darah Harapan kita, RS Universitas Indonesia, dan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI-AU) Akan melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat di Kabupaten Pulau Morotai.

hipertensi
Departemen Kardiologi dan Kedokteran Vaskular Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia bekerja sama dengan RS Jantung dan Pembulu Darah Harapan kita, RS Universitas Indonesia, dan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI-AU) akan melaksanakan kegiatan pengabdian masyatakat di Kabupaten Pulau Morotai.(foto: Merahputih.com/ Aqil baihaqi

Kegiatan itu juga sebagai salah satu bentuk pengabdian dokter jantung dan pembuluh darah Indonesia pada 20 Juli 2023. Di Kabupaten Pulau Morotai yang berada di salah satu Pulau terluar di Indonesia, masih banyak tantangan yang harus di hadapi tenaga medis, antara lain kurangnya tenaga medis yang mampu melakukan pelatihan layanan kesehatan jantung hingga kendala jarak.(Aqb)

BACA JUGA:

Penyebab Pemulihan Hipertensi Terhambat

#Kesehatan
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Dwi Astarini

Editor, jurnalis, dan profesional komunikasi bilingual (Indonesia–Inggris) dengan pengalaman lebih dari 15 tahun di industri media, jurnalistik, dan pengembangan konten. Telah bekerja di berbagai media nasional dan proyek editorial, membantu menghasilkan, menyunting, serta mengelola konten yang informatif, akurat, dan relevan bagi publik. Lulusan Sastra Inggris Universitas Udayana yang kini berfokus pada penyuntingan berita dan feature, pengembangan narasi, serta memastikan setiap konten memenuhi standar jurnalistik yang tinggi. Perjalanan karier meliputi hampir satu dekade di Media Indonesia dan terlibat sebagai editor freelance untuk berbagai publikasi, termasuk proyek buku foto jurnalistik bersama Galeri Foto Jurnalistik ANTARA (GFJA).
Show More
Follow Me

Berita Terkait

Indonesia
Rabu Pagi, Kualitas Udara Jakarta tidak Sehat
Kualitas udara Jakarta berada pada poin 162 dengan tingkat konsentrasi polutan PM 2,5 sebesar 71 mikrogram per meter kubik.
Dwi Astarini - Rabu, 21 Oktober 2026
Rabu Pagi, Kualitas Udara Jakarta tidak Sehat
Fun
We Pause We Rise Ajak Perempuan Kenali Perimenopause, Ahli Ingatkan Gejala Brain Fog
We Pause We Rise menggelar Rose & Bloom untuk mengedukasi perempuan tentang perimenopause dan menopause, termasuk brain fog, kesehatan tulang, dan hipertensi.
Ananda Dimas Prasetya - Senin, 19 Oktober 2026
We Pause We Rise Ajak Perempuan Kenali Perimenopause, Ahli Ingatkan Gejala Brain Fog
Indonesia
Jakarta Catat 58 Kasus DBD per Oktober 2026
Secara kumulatif, jumlah kasus selama Januari hingga Oktober 2026 juga lebih rendah jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Dwi Astarini - Sabtu, 17 Oktober 2026
Jakarta Catat 58 Kasus DBD per Oktober 2026
Lifestyle
Inspirasi Pit Stop F1 Menyelamatkan Nyawa Pasien Rumah Sakit
Inovasi F1 telah memberikan dampak yang jauh melampaui lintasan balap.
Dwi Astarini - Kamis, 15 Oktober 2026
 Inspirasi Pit Stop F1 Menyelamatkan Nyawa Pasien Rumah Sakit
Berita Foto
Pantau Gaya Hidup Makin Personal, U by Prodia Hadirkan U-Buddy
SPG menunjukkan tampilan antarmuka (user interface/UI) aplikasi U-Buddy saat peluncurannya di Jakarta, Rabu (7/10/2026).
Didik Setiawan - Rabu, 07 Oktober 2026
Pantau Gaya Hidup Makin Personal, U by Prodia Hadirkan U-Buddy
Indonesia
Insiden Lab di Rusia, Kemenkes Tingkatkan Kesiapsiagaan
bandara dan pelabuhan internasional di Bali menerapkan peningkatan pengawasan pelaku perjalanan melalui pengawasan deklarasi kesehatan (All Indonesia - SSHP).
Dwi Astarini - Selasa, 06 Oktober 2026
Insiden Lab di Rusia, Kemenkes Tingkatkan Kesiapsiagaan
Lifestyle
Berbagi Cocolan Setara Ciuman Bibir, Rentan Menyebarkan Virus dan Bakteri
Berapa kali celupan yang dibutuhkan untuk memindahkan jumlah bakteri yang kira-kira sama banyaknya dengan ciuman berdurasi 10 detik?
Dwi Astarini - Senin, 05 Oktober 2026
 Berbagi Cocolan Setara Ciuman Bibir, Rentan Menyebarkan Virus dan Bakteri
Indonesia
Jangan Sepelekan Influenza Tipe A, Anak Batuk Demam Tinggi Segera Bawa ke Faskes!
Anak demam tinggi dan sesak napas? Peringatkan bahaya virus influenza tipe A pada anak. Segera bawa ke faskes rujukan terdekat!
Wisnu Cipto - Jumat, 02 Oktober 2026
Jangan Sepelekan Influenza Tipe A, Anak Batuk Demam Tinggi Segera Bawa ke Faskes!
Lifestyle
Bukan Cuma Soal Biaya, Dokter Ungkap 3 Alasan Pengobatan Gagal Jantung Lanjut Masih Terbatas di Indonesia
Dokter Paskah ungkap tiga tantangan pengobatan gagal jantung lanjut di Indonesia, mulai dari literasi masyarakat, keterbatasan dokter hingga mahalnya teknologi.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 01 Oktober 2026
Bukan Cuma Soal Biaya, Dokter Ungkap 3 Alasan Pengobatan Gagal Jantung Lanjut Masih Terbatas di Indonesia
Lifestyle
Teknologi LVAD Hadir di Indonesia, Jadi Harapan Baru bagi Pasien Gagal Jantung Lanjut
Teknologi LVAD atau pompa jantung artificial kini tersedia di Indonesia untuk membantu pasien gagal jantung tingkat lanjut. Ini cara kerja dan persiapannya.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 01 Oktober 2026
Teknologi LVAD Hadir di Indonesia, Jadi Harapan Baru bagi Pasien Gagal Jantung Lanjut
Bagikan