Kesehatan

Waspadai Depresi Menyerang Saat Usia 20 Hingga 30 Tahun

P Suryo RP Suryo R - Jumat, 01 Juni 2018
Waspadai Depresi Menyerang Saat Usia 20 Hingga 30 Tahun

Tekanan mental hebat terjadi pada usia 20-30 tahun. (Foto: Pexels/Kat Jayne)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

INDUSTRI hiburan mancanegara terdapat istilah Club 27. Pernahkah kau mendengar istilah Club 27? Club 27 atau The Forever 27 Club merujuk pada istilah deretan selebriti baik musisi, aktor, atau pekerja seni lainnya yang meninggal di usia 27 tahun. Kematian mereka terkesan mendadak dan penuh misteri.

Istilah Club 27 pertama kali muncul saat Janis Joplin meninggal pada 1970 akibat overdosis heroin. Kematiannya disusul oleh Jim Morrison setahun kemudian. Keduanya mengakhiri hidup di usia yang sama yakni 27 tahun. Istilah Club 27 diperkuat dengan kematian selebriti legendaries lainnya di usia 27 tahun seperti Kurt Cobain, Amy Winehouse dan terakhir Kim Jonghyun dari grup SHINee.

Manusia mengalami tekanan mental yang dahsyat saat memasuki usia 20 tahun hingga 30 tahun. Fakta tersebut diperkuat oleh penelitian yang dilakukan oleh kelompok ilmuwan yang tergabung dalam Trust Alzheimer.

depresi
Adanya penurunan mental seiring bertambahnya usia. (Foto: Pexels/Nathan Cowley)

“Penelitian ini menunjukkan adanya penurunan kemampuan mental seiring bertambahnya usia dimulai dari usia 20 hingga 30 tahun,” ucap anggota Trust Alzheimer, Rebecca Wood. Menurutnya, penurunan ini menyebabkan gangguan mental dan berpotensi depresi hingga menimbulkan perasaan sedih, gelisah, dan hampa.

Manusia rentan mengalami depresi di usia 20 hingga 30 tahun karena itu merupakan fase peralihan dari remaja ke dewasa. “Pada usia 20 hingga 30 tahun, merupakan fase pergolakan mental dalam diri,” tutur psikolog Samantha Matt dikutip dari Huffington Post.

Sementara menurut psikolog, Rena Masri, pada usia 20 hingga 30 tahun seseorang banyak mendapat tekanan dalam hal perkuliahan, pekerjaan, pernikahan, dan lain-lain. Hal tersebut dapat memicu seseorang mengalami stres. Jika tidak ditangani dapat mengarah kepada depresi.

“Perubahan dari remaja menjadi dewasa juga bukan hal yang mudah. Di usia tersebut seseorang dituntut untuk bertanggungjawab dan memutuskan kehidupannya kelak,” ucap Rena saat ditemui MerahPutih.com di Klinik Medifa, Pondok Indah Mall 2.

depresi
Perkembangan pesat media sosial memberikan dampak mental. (Foto: Glamour)

Rentang usia 20 hingga 30 tahun masuk dalam kategori dewasa awal. Masa dewasa awal merupakan periode penyesuaian diri terhadap pola-pola kehidupan yang baru dan harapan-harapan sosial yang baru. Pada usia ini, seseorang juga mulai bekerja atau membentuk rumah tangga. Individu yang masuk kategori dewasa awal diharapkan memainkan peran baru seperti menjadi suami atau istri, orang tua, dan pencari nafkah.

“Tugas perkembangan masa dewasa awal yaitu memilih calon teman hidup, belajar hidup dengan suami atau istri, mengelola rumah tangga, mulai bekerja dalam suatu jabatan, mulai bertanggungjawab sebagai warga negara,” papar Rena. Tugas-tugas tersebut harus diatur sedemikian rupa agar tidak menimbulkan stres.

Rena menambahkan, pertumbuhan pesat sosial media juga memberi dampak pada mental seseorang. “Sosial media juga memberikan tekanan yang kuat dan dapat mempengaruhi kesehatan mental seseorang,” ujarnya.

Stress yang dialami orang-orang kategori dewasa awal diperparah dengan ketidakmampuan mereka dalam mengutarakan pendapat. Kesulitan tersebut biasanya terjadi karena mereka takut jika perasaan dan tekanan mental yang dialami akan diremehkan orang lain. Jika dibiarkan terus menerus stress akan berkembang menjadi depresi.

Gejala depresi yang mudah dikenali antara lain insomnia atau kelebihan tidur, hilangnya semangat harapan dan ketertarikan, emosi yang tak terkontrol, merasa sedih, sering murung, dan merasa tidak berharga. Mereka yang mengalami depresi juga hilang minat pada kegiatan yang sebenarnya disukai dan cenderung menarik diri dari lingkungan sosial. Jika dibiarkan terus menerus mereka akan memiliki keinginan untuk bunuh diri. “Jika sudah masuk kategori depresi, seseorang harus segera mencari pertolongan ahli,” himbaunya.

depresi
Jangan pernah membangdingkan diri dengan orang lain. (Foto: Entrepreneur)

Ada beberapa hal yang harus dilakukan untuk mengantisipasi perasaan depresi pada orang dewasa awal. Di antarnya melakukan kegiatan menyenangkan, cukup istirahat, mengatur pola makan bergizi, olahraga teratur, dan rileks dalam menghadapi masalah.

Kita juga harus bisa menerima kekurangan dan kelebihan diri sendiri serta tak membandingkan diri sendiri dengan orang lain.

Segala problematika dan tekanan hidup akan terasa lebih ringan apabila kita terbiasa terbuka terhadap orang lain. “Kebiasaan menjadi ekspresif harus dimulai sejak dini. Supaya saat dewasa seseorang terbiasa mengemukakan yang ia rasakan,” tukas Rena. (avia)

#Depresi #Kesehatan Mental
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Iftinavia Pradinantia

I am the master of my fate and the captain of my soul
Show More

Berita Terkait

Indonesia
Makin Banyak Warga Jakarta Cek Kesehatan Jiwa, Kesehatan Mental Jadi Penting
Selama ini, kesehatan mental masih belum ditempatkan sebagai salah satu prioritas dalam sistem membangun kesehatan daera
Alwan Ridha Ramdani - Kamis, 02 Juli 2026
Makin Banyak Warga Jakarta Cek Kesehatan Jiwa, Kesehatan Mental Jadi Penting
Lifestyle
Langkah Atasi Lingkungan Kerja Toksik Biar Tetap Produktif
Dari 80 persen pemicu masalah kesehatan jiwa pekerja berasal dari kondisi kerja itu sendiri, mulai dari tuntutan pekerjaan yang tidak realistis,
Alwan Ridha Ramdani - Sabtu, 23 Mei 2026
Langkah Atasi Lingkungan Kerja Toksik Biar Tetap Produktif
ShowBiz
Yacko Rilis 'Unbreakable Me', Jadi Anthem Perempuan Bangkit dan Lawan Trauma
Yacko merilis 'Unbreakable Me', anthem tentang pemulihan kesehatan mental perempuan. Lagu ini juga jadi bagian kampanye di Sydney Marathon 2026.
Ananda Dimas Prasetya - Rabu, 29 April 2026
Yacko Rilis 'Unbreakable Me', Jadi Anthem Perempuan Bangkit dan Lawan Trauma
Lifestyle
Jangan Dianggap Sepele, Stigma Menstruasi Bisa Ganggu Kesehatan Mental
Psikiater mengungkap stigma dan ejekan saat menstruasi bisa memicu tekanan mental. Perempuan didorong berani membela diri dan memahami kondisi.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 23 April 2026
Jangan Dianggap Sepele, Stigma Menstruasi Bisa Ganggu Kesehatan Mental
Lifestyle
Bukan Sekadar PMS, PMDD Bisa Berdampak Serius hingga Picu Depresi Berat
PMDD adalah gangguan menjelang haid yang lebih berat dari PMS. Psikiater ingatkan gejalanya bisa picu depresi hingga butuh penanganan serius.
Ananda Dimas Prasetya - Selasa, 21 April 2026
Bukan Sekadar PMS, PMDD Bisa Berdampak Serius hingga Picu Depresi Berat
Indonesia
Kemenkes Kritik Film ‘Aku Harus Mati’, Khawatirkan Perilaku Meniru
Menurut pihak Kemenkes, baliho itu berpotensi memicu peniruan tindakan bunuh diri, terutama di tengah tren kenaikan signifikan angka kematian di Indonesia.
Dwi Astarini - Selasa, 07 April 2026
Kemenkes Kritik Film ‘Aku Harus Mati’, Khawatirkan Perilaku Meniru
Indonesia
Promosi Film Horor "Aku Harus Mati" Dinilai Berdampak Buruk Bagi Kesehatan Mental Anak dan Remaja P
Sekitar 10 persen remaja mengalami gangguan kesehatan mental. Pada remaja dengan kerentanan psikologis seperti mereka, baliho film semacam "Aku Harus Mati" bisa memunculkan gagasan yang membahayakan.
Alwan Ridha Ramdani - Selasa, 07 April 2026
Promosi Film Horor
Indonesia
Hasil CKG, Ratusan Ribu Anak Diketahui Alami Cemas dan Depresi
Saat ini pemerintah juga mempercepat pemenuhan tenaga psikolog klinis di Puskesmas yang jumlahnya masih terbatas,
Alwan Ridha Ramdani - Senin, 09 Maret 2026
Hasil CKG, Ratusan Ribu Anak Diketahui Alami Cemas dan Depresi
Dunia
Kemenkes: 4 dari 1.000 Orang Mengalami Skizofrenia
Sekitar 2 persen orang dewasa di Indonesia mengalami masalah kesehatan mental.
Wisnu Cipto - Kamis, 08 Januari 2026
Kemenkes: 4 dari 1.000 Orang Mengalami Skizofrenia
Olahraga
Raphael Varane Ngaku Alami Depresi saat Masih di Real Madrid, Paling Parah setelah Piala Dunia 2018!
Raphael Varane mengaku dirinya mengalami depresi saat masih membela Real Madrid. Ia menceritakan itu saat wawancara bersama Le Monde.
Soffi Amira - Rabu, 03 Desember 2025
Raphael Varane Ngaku Alami Depresi saat Masih di Real Madrid, Paling Parah setelah Piala Dunia 2018!
Bagikan