Waspadai! Bayi Juga Bisa Terkena Kanker Getah Bening

Alwan Ridha RamdaniAlwan Ridha Ramdani - Selasa, 20 Februari 2024
Waspadai! Bayi Juga Bisa Terkena Kanker Getah Bening

Sejumlah anak penyandang kanker bersiap menaiki LRT Jakarta saat berlangsungnya kegiatan pemberdayaan komunitas rentan

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MerahPutih.com - Data Global Cancer Statistics (Globocan) tahun 2020, jumlah penderita kanker pada anak (0-19 tahun) sebanyak 11.156 kasus. Dari angka itu, leukemia menempati posisi pertama dengan 3.880 (34,8 persen), sedangkan kanker getah bening sekitar 640 (5,7 persen).

Dokter spesialis anak di RSUD Tanjung Priok Dian Rosita Devy menyarankan anak-anak yang mendadak lebam pada bagian tubuh perlu segera dibawa ke dokter untuk diperiksa karena bisa jadi mengalami kanker darah atau leukemia.

Baca Juga:

[HOAKS atau FAKTA]: Vaksin COVID-19 Sebabkan Kanker dan Tumor Otak

"Kanker paling banyak kan leukemia. Itu gejalanya misalnya anak pucat tapi kayak pelan-pelan kok pucat anaknya, atau kadang tiba-tiba ada lebam-lebam kalau bisa konsultasikan ke dokter," ujarnya di Jakarta, Selasa (20/2).

Selain lebam dan wajah yang pucat, gejala leukemia juga bisa meliputi pembesaran kelenjar atau perut dan demam yang berlangsung lama namun tidak diketahui penyebabnya. Orangtua sebaiknya mewaspadai gejala-gejala leukemia pada anak bahkan sejak dia lahir karena kanker bahkan bisa dialami sejak seseorang masih bayi.

"Bayi bisa kena kanker? Bisa saja, walau kasusnya lebih jarang. Jadi aware dari lahir, kapan kelihatan pucat, lebam-lebam itu kita harus waspada. Jadi enggak ada batasan mulai umur segini harus rajin," katanya.

Dian mengatakan, leukemia atau kanker darah menjadi yang paling banyak dialami anak-anak di Indonesia, diikuti kanker kelenjar getah bening dan kanker mata atau retinoblastoma.

Di RSUD Tanjung Priok, Dian mengatakan pernah menemukan kasus leukemia anak sejak bertugas di rumah sakit itu pada tahun 2020.


"Ketemu di kami pernah, lalu kami rujuk. Memang ada yang sudah diterapi, kalau terapi karena saya di RSUD, (penanganan) di RSUD yang lebih lanjut," katanya.

Kanker darah, seperti halnya beberapa jenis kanker lainnya, kata iam bisa disebabkan lebih dari satu faktor seperti genetik dan lingkungan, serta faktor yang belum bisa diketahui. Sehingga, belum ada cara untuk mencegah kanker khususnya pada anak. Namun, dia menyarankan orangtua dan masyarakat mengutamakan deteksi dini. (*)

Baca Juga:

Jangan Takut Deteksi Dini Kanker, Peluang Sembuh Lebih Besar

#Kesehatan #Anak #Kanker
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Alwan Ridha Ramdani

Alwan Ridha Ramdanu adalah Jurnalis kelahiran di Bandung, Jawa Barat. Sudah 20 tahun menjadi jurnalis dengan mayoritas fokus pada liputan atau menulis terkait ekonomi makro. Selain jurnalis, Alwan juga adalah pendamping petani sawit swadaya dan juga berpengalaman dalam communication dan community terkait isu keberlanjutan dan lingkungan hidup.
Show More

Berita Terkait

Berita Foto
Pantau Gaya Hidup Makin Personal, U by Prodia Hadirkan U-Buddy
SPG menunjukkan tampilan antarmuka (user interface/UI) aplikasi U-Buddy saat peluncurannya di Jakarta, Rabu (7/10/2026).
Didik Setiawan - Rabu, 07 Oktober 2026
Pantau Gaya Hidup Makin Personal, U by Prodia Hadirkan U-Buddy
Indonesia
Insiden Lab di Rusia, Kemenkes Tingkatkan Kesiapsiagaan
bandara dan pelabuhan internasional di Bali menerapkan peningkatan pengawasan pelaku perjalanan melalui pengawasan deklarasi kesehatan (All Indonesia - SSHP).
Dwi Astarini - Selasa, 06 Oktober 2026
Insiden Lab di Rusia, Kemenkes Tingkatkan Kesiapsiagaan
Lifestyle
Berbagi Cocolan Setara Ciuman Bibir, Rentan Menyebarkan Virus dan Bakteri
Berapa kali celupan yang dibutuhkan untuk memindahkan jumlah bakteri yang kira-kira sama banyaknya dengan ciuman berdurasi 10 detik?
Dwi Astarini - Senin, 05 Oktober 2026
 Berbagi Cocolan Setara Ciuman Bibir, Rentan Menyebarkan Virus dan Bakteri
Indonesia
Jangan Sepelekan Influenza Tipe A, Anak Batuk Demam Tinggi Segera Bawa ke Faskes!
Anak demam tinggi dan sesak napas? Peringatkan bahaya virus influenza tipe A pada anak. Segera bawa ke faskes rujukan terdekat!
Wisnu Cipto - Jumat, 02 Oktober 2026
Jangan Sepelekan Influenza Tipe A, Anak Batuk Demam Tinggi Segera Bawa ke Faskes!
Lifestyle
Bukan Cuma Soal Biaya, Dokter Ungkap 3 Alasan Pengobatan Gagal Jantung Lanjut Masih Terbatas di Indonesia
Dokter Paskah ungkap tiga tantangan pengobatan gagal jantung lanjut di Indonesia, mulai dari literasi masyarakat, keterbatasan dokter hingga mahalnya teknologi.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 01 Oktober 2026
Bukan Cuma Soal Biaya, Dokter Ungkap 3 Alasan Pengobatan Gagal Jantung Lanjut Masih Terbatas di Indonesia
Lifestyle
Teknologi LVAD Hadir di Indonesia, Jadi Harapan Baru bagi Pasien Gagal Jantung Lanjut
Teknologi LVAD atau pompa jantung artificial kini tersedia di Indonesia untuk membantu pasien gagal jantung tingkat lanjut. Ini cara kerja dan persiapannya.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 01 Oktober 2026
Teknologi LVAD Hadir di Indonesia, Jadi Harapan Baru bagi Pasien Gagal Jantung Lanjut
Indonesia
Kemenkes Klaim 99,1 Juta Orang Telah Ikut Program Cek Kesehatan Gratis
Pemerintah mengatakan manfaat program CKG berpotensi mencegah satu dari empat kasus stroke dan penyakit kardiovaskular pada 2035.
Dwi Astarini - Kamis, 01 Oktober 2026
Kemenkes Klaim 99,1 Juta Orang Telah Ikut Program Cek Kesehatan Gratis
ShowBiz
Susu Rahasia Jisoo BLACKPINK untuk Jaga Berat Badan
Tanpa ragu, Jisoo mengambil sekotak susu kedelai.
Dwi Astarini - Rabu, 30 September 2026
Susu Rahasia Jisoo BLACKPINK untuk Jaga Berat Badan
Indonesia
Dalam Satu Dekade 172,3 Juta Kasus Penyakit Jantung Pakai BPJS Kesehatan, Biaya Capai Rp 100 Triliun
Pada rentang waktu yang sama, katanya, gagal ginjal menduduki urutan kedua, dengan total biaya sebesar Rp 83,8 triliun yang dikeluarkan untuk membayar pelayanan kesehatan 81,2 juta kasus.
Alwan Ridha Ramdani - Selasa, 29 September 2026
Dalam Satu Dekade 172,3 Juta Kasus Penyakit Jantung Pakai BPJS Kesehatan, Biaya Capai Rp 100 Triliun
Indonesia
Asap Karhutla Mengancam Anak, DPR Minta Sekolah tak Nekat Gelar Aktivitas Luar Ruangan
Sekolah diminta tidak menjalankan aktivitas luar ruangan seolah kualitas udara dalam kondisi normal.
Dwi Astarini - Selasa, 29 September 2026
Asap Karhutla Mengancam Anak, DPR Minta Sekolah tak Nekat Gelar Aktivitas Luar Ruangan
Bagikan