Warga Korea Selatan Dinominasikan untuk Hadiah Nobel Perdamaian, Bersatu Bela Demokrasi atas Darurat Militer

Dwi AstariniDwi Astarini - Jumat, 20 Februari 2026
Warga Korea Selatan Dinominasikan untuk Hadiah Nobel Perdamaian, Bersatu Bela Demokrasi atas Darurat Militer

Lightstick warnai aksi menuntut pemakzulan Presiden Korea Selatan Yoon Suk-yeol.(foto: Allkpop)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MERAHPUTIH.COM — DESEMBER 2024, ribuan warga Korea Selatan turun ke jalan. Tua, muda, laki-laki, perempuan, hingga penggemar K-pop larut dalam gerakan yang menentang deklarasi darurat militer oleh mantan Presiden Yoon Suk-yeol. Gerakan kolektif tersebut sukses memaksa Suk-yeol mencabut kembali deklarasi darurat militer hanya dalam hitungan beberapa jam. Tak berhenti di sana, gerakan kolektif itu bahkan menjungkalkan Suk-yeol dari kursi keprsidenan.

Setahun berselang, gerakan kolektif warga Korea Selatan itu mendapat penghormatan dalam sebuah nominasi Hadiah Nobel Perdamaian. Ini menjadi sebuah gestur yang oleh para akademisi disebut sebagai pengakuan tegas atas ketahanan demokrasi negara tersebut.

Seperti dilansir The Korea Times, sekelompok ilmuwan politik, termasuk pemimpin saat ini dan mantan pemimpin Asosiasi Ilmu Politik Internasional (International Political Science Association/IPSA) , menominasikan warga Republik Korea, yang digambarkan sebagai sebuah ‘kolektif warga’, untuk Hadiah Nobel Perdamaian. Nominasi itu disampaikan bulan lalu. Mereka mengutip perlawanan damai warga selama krisis darurat militer 2024, ketika dekret darurat yang singkat,tapi luas mengguncang pemerintahan sipil dan memicu protes nasional sebelum akhirnya dicabut.

Profesor ilmu politik Universitas Nasional Seoul Kim Eui-young, yang mengoordinasikan Kongres Dunia IPSA di Seoul pada Juli 2025, menyebut para pengusul nominasi menggambarkan protes warga terhadap deklarasi darurat militer sebagai sebuah ‘Revolusi Cahaya’. Istilah itu merujuk pada protes lilin yang sebagian besar berlangsung damai dan memobilisasi masyarakat di seluruh negeri.

Istilah tersebut berakar pada adegan warga sipil Korea yang turun ke jalan di tengah suhu di bawah nol derajat, mengangkat light stick dan senter ponsel mereka sambil mengelilingi gedung-gedung pemerintah utama dan mendukung upaya para anggota parlemen untuk menegakkan kembali aturan konstitusional. Itu merupakan aksi massa yang besar, tapi damai, yang berlangsung tanpa pertumpahan darah meskipun terjadi gejolak.

Baca juga:

Rakyat Korsel Gugat Presiden Yoon Suk-yeol karena Kekacauan Darurat Militer



Dalam dokumen yang diajukan kepada Komite Nobel Norwegia, Eui-young menelusuri peristiwa yang mengarah pada krisis tersebut, merinci upaya enam bulan untuk mengatasi apa yang ia sebut sebagai upaya pemberontakan, dan berargumen bahwa pengalaman Korea menawarkan pelajaran bagi demokrasi di seluruh dunia yang menghadapi ketegangan serupa. “Di saat kemunduran demokrasi global, dunia menyaksikan dengan takjub bagaimana Korea mengatasi pemberontakan dan memulihkan demokrasi dalam waktu enam bulan,” ujarnya sambil menekankan bahwa inti dari pencapaian itu ialah apa yang ia sebut sebagai ketahanan demokratis publik.

Para akademisi di balik nominasi tersebut berpendapat Korea menghadirkan contoh modern yang langka dari krisis konstitusional yang berhasil diredam bukan melalui perang saudara atau represi kekerasan, melainkan melalui keterlibatan sipil yang berkelanjutan dan tanpa kekerasan.

Presiden Lee Jae-myung menyambut kabar tersebut di X, menyebut Korea sebagai bangsa besar yang akan tetap menjadi teladan bagi sejarah umat manusia. Dalam pidato khusus untuk menandai peringatan satu tahun ‘Revolusi Cahaya’ pada Desember 2025, jae-myung mengatakan warga Korea sangat layak menerima Hadiah Nobel Perdamaian dan menyatakan bahwa pengakuan tersebut akan menjadi titik balik bagi negara-negara yang terguncang oleh polarisasi dan konflik.

Komite Nobel menutup pendaftaran nominasi Hadiah Nobel Perdamaian tahun ini pada 31 Januari dan diperkirakan akan menyaring daftar kandidat pada awal Maret, dengan pemenang akan diumumkan pada Oktober.

Menurut aturan Hadiah Nobel, hanya kategori orang tertentu, termasuk kepala negara, anggota parlemen, dan profesor universitas di bidang terkait, yang berhak mengajukan nominasi.(dwi)

Baca juga:

Mantan Presiden Korea Selatan Yoon Suk-yeol Dipenjara Seumur Hidup, Lolos dari Tuntutan Hukuman Mati

#Hadiah Nobel #Korea Selatan #Darurat Militer
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Dwi Astarini

Editor, jurnalis, dan profesional komunikasi bilingual (Indonesia–Inggris) dengan pengalaman lebih dari 15 tahun di industri media, jurnalistik, dan pengembangan konten. Telah bekerja di berbagai media nasional dan proyek editorial, membantu menghasilkan, menyunting, serta mengelola konten yang informatif, akurat, dan relevan bagi publik. Lulusan Sastra Inggris Universitas Udayana yang kini berfokus pada penyuntingan berita dan feature, pengembangan narasi, serta memastikan setiap konten memenuhi standar jurnalistik yang tinggi. Perjalanan karier meliputi hampir satu dekade di Media Indonesia dan terlibat sebagai editor freelance untuk berbagai publikasi, termasuk proyek buku foto jurnalistik bersama Galeri Foto Jurnalistik ANTARA (GFJA).
Show More
Follow Me

Berita Terkait

Indonesia
Penulis Utama Makalah Nobel MBG Pakai Gelar Palsu, Minta Maaf Catut Nama Prabowo
Menteri Brian Yuliarto ungkap penulis makalah Nobel MBG akui catut nama Presiden Prabowo Subianto dan tokoh lain tanpa izin.
Wisnu Cipto - Senin, 10 Agustus 2026
Penulis Utama Makalah Nobel MBG Pakai Gelar Palsu, Minta Maaf Catut Nama Prabowo
Indonesia
Jejak AI di Makalah Ilmiah Pengusung MBG Nominasi Nobel Perdamaian 2026
Makalah Nobel Peace Prize 2026 yang mengusung Program MBG diduga menggunakan AI. Publik menemukan jejak prompt AI dalam dokumen, sementara pemerintah menginvestigasi pencatutan nama Presiden Prabowo.
Wisnu Cipto - Kamis, 06 Agustus 2026
Jejak AI di Makalah Ilmiah Pengusung MBG Nominasi Nobel Perdamaian 2026
Indonesia
Kepala Bakom Investigasi Nama Prabowo Dicatut Jadi Penulis Makalah Usung MBG Masuk Nominasi Nobel
Pemerintah Indonesia investigasi dugaan pencatutan nama Presiden Prabowo Subianto dalam makalah Nobel Peace Prize 2026 terkait Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Wisnu Cipto - Kamis, 06 Agustus 2026
Kepala Bakom Investigasi Nama Prabowo Dicatut Jadi Penulis Makalah Usung MBG Masuk Nominasi Nobel
Dunia
Keiko Fujimori Langsung Berlakukan Darurat Militer dan Perang Lawan Kartel Narkoba Usai Jadi Presiden Peru
Dalam pidato perdananya di Istana Parlemen, Lima, Fujimori secara terbuka menyuarakan "perang" terhadap kartel narkoba
Angga Yudha Pratama - Kamis, 30 Juli 2026
Keiko Fujimori Langsung Berlakukan Darurat Militer dan Perang Lawan Kartel Narkoba Usai Jadi Presiden Peru
Olahraga
Shin Tae-yong Disanksi Berat oleh Federasi Sepak Bola Korea, Dugaan Kekerasan terhadap Pemain
Shin Tae-yong terseret kasus dugaan kekerasan terhadap pemain saat masih menangani Ulsan HD pada musim lalu.
Frengky Aruan - Jumat, 24 Juli 2026
Shin Tae-yong Disanksi Berat oleh Federasi Sepak Bola Korea, Dugaan Kekerasan terhadap Pemain
Indonesia
Kemenlu Tangani WNI Kabur Dari Rombongan Wisata di Korea Selatan
Kabar mengenai seorang WNI berinisial F asal Madiun, Jawa Timur yang diduga kabur dalam perjalanan tur di Korea Selatan menjadi sorotan masyarakat
Alwan Ridha Ramdani - Kamis, 23 Juli 2026
Kemenlu Tangani WNI Kabur Dari Rombongan Wisata di Korea Selatan
Indonesia
Dubes Korsel Bertemu Megawati di Teuku Umar, Bahas Upaya Perdamaian Korea
Dubes Korea sangat mengapresiasi perhatian Megawati atas persoalan di Semenanjung Korea.
Dwi Astarini - Senin, 13 Juli 2026
Dubes Korsel Bertemu Megawati di Teuku Umar, Bahas Upaya Perdamaian Korea
Olahraga
Pulang ke Korea, Son Heung-min Minta Maaf atas Hasil Buruk di Piala Dunia
Ia mengakui kata-kata maafnya tidak akan mampu menggambarkan besarnya kekecewaan dan kepedihan yang dirasakan para pendukung timnas Korea.
Dwi Astarini - Rabu, 01 Juli 2026
Pulang ke Korea, Son Heung-min Minta Maaf atas Hasil Buruk di Piala Dunia
Olahraga
Gagal Bawa Korsel Bersinar di Piala Dunia 2026, Pelatih Hong Myung-bo Mundur
Satu-satunya kemenangan Korea Selatan diraih saat mengalahkan Republik Ceko dengan skor 2-1.
Alwan Ridha Ramdani - Senin, 29 Juni 2026
Gagal Bawa Korsel Bersinar di Piala Dunia 2026, Pelatih Hong Myung-bo Mundur
Dunia
2 WNI Hilang dalam Kecelakaan Kapal Nelayan di Lepas Pantai Busan
Kapal nelayan berbobot 79 ton tersebut tenggelam setelah bertabrakan dengan kapal pengangkut LPG seberat 992 ton.
Dwi Astarini - Jumat, 26 Juni 2026
  2 WNI Hilang dalam Kecelakaan Kapal Nelayan di Lepas Pantai Busan
Bagikan