Utang Tinggi Bebani Aktivitas Ekonomi Dunia
Perkantoran Jakarta. (Foto: Antara)
MerahPutih.com - Lonjakan harga komoditas baru akibat guncangan geopolitik dan gangguan pasokan diprediksi masih akan terjadi dan memperpanjang kondisi ketatnya moneter dunia.
Bahkan, masalah sektor properti yang semakin dalam di Tiongkok dan berbagai negara lainnya, kenaikan pajak dan pemotongan belanja bisa menimbulkan (risiko) penurunan pertumbuhan (growth disappointments),
Baca Juga:
Utang Luar Negeri Pemerintah Naik, Swasta Turun
Laporan World Economic Outlook (WEO) Januari 2024 dari International Monetary Fund (IMF) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global hanya sebesar 3,1 persen pada tahun 2024, naik 0,2 poin persentase dari prediksi sebelumnya yang tercatat dalam WEO Oktober 2023. Pada tahun 2025, IMF memperkirakan ekonomi dunia bertumbuh 3,2 persen.
Kepala Ekonom IMF Pierre-Olivier Gourinchas mengatakan, pihaknya memperkirakan pertumbuhan lebih lambat di Amerika Serikat, di mana kebijakan moneter ketat masih berdampak pada perekonomian.
"Di Tiongkok, di mana konsumsi dan investasi yang lebih lemah terus membebani aktivitas," katanya dikutip Antara, Rabu (31/1).
Ia memperkirakan, aktivitas di kawasan Euro diperkirakan akan sedikit pulih setelah tahun 2023 yang penuh tantangan karena harga energi tinggi dan pengetatan kebijakan moneter membatasi permintaan.
Selain itu, banyak negara lain yang terus menunjukkan ketahanan dengan percepatan pertumbuhan, seperti di Brasil, India, dan negara-negara besar di Asia Tenggara.
Ia menegaskan, proyeksi pertumbuhan global pada 2024-2025 masih di bawah rata-rata historis (2000-2019) sebesar 3,8 persen dengan tingkat suku bunga bank sentral yang tinggi untuk mengurangi laju inflasi, penarikan dukungan fiskal di tengah utang tinggi membebani aktivitas ekonomi, dan pertumbuhan produktivitas dasar yang rendah.
Selain itu, lanjut ia, inflasi menurun lebih cepat dari perkiraan di sebagian wilayah seiring masalah sisi pasokan dan kebijakan moneter yang ketat mereda.
Inflasi global diperkirakan turun menjadi 5,8 persen pada tahun 2024 dan 4,4 persen pada tahun 2025. Proyeksi inflasi global pada tahun 2025 turun dari prediksi sebelumnya. (*)
Baca Juga:
Jokowi Klaim Ratio Utang Negara Masih Aman Meski di Atas Angka Ideal
Bagikan
Alwan Ridha Ramdani
Berita Terkait
Target Purbaya Pertumbuhan Ekonomi 6 Persen Bakal Sulit Tercapai, Ini Alasanya
Penurunan Daya Beli Warga Akibat Pekerja Sektor Formal Minim
Defisit Anggaran Capai Rp 695 Triliun, Airlangga Yakin Ekonomi Kuartal 4 Tumbuh Tinggi
Ekonomi Melambat, PHK Bakal Terus Terjadi di 2026
Semikonduktor Jadi Penguat Ekonomi Kawasan, Proyeksi Pertumbuhan Indonesia Naik Jadi 5 Persen
Pengusaha Revisi Target Penjualan Mobil, Bakal Dibicarakan Seluruh Anggota Gaikindo
Purbaya Jaga Daya Beli Warga, Pertumbuhan Ekonomi Harus Ciptakan Lapangan Kerja
Alasan Aktivitas Belanja dan Perjalanan Warga Melambat di Triwulan III 2025
Ekonomi Tumbuh 5,04 Persen, Konsumsi Rumah Tangga Jadi Pendorong Utama
Kebijakan Ini Diyakini Airlangga Pada Kuartal VI 2025 Jadi Pendorong Pertumbuhan Ekonomi Tertinggi