MerahPutih Budaya - Sepintas tak ada yang aneh dengan pernikahan dengan cara ijab qabul dan pengucapan janji sehidup semati di depan umum. Namun, bagaimana bila hal itu dilakukan di tempat umum dan terbuka?
Destiana Pramasya, 26, merasakan hal itu. Ia merupakan salah satu mempelai wanita dari 7 mempelai pengantin. Baginya, menikah di tempat umum dan terbuka tak pernah terbayangkan sebelumnya. Saat tempat pernikahan dilangsungkan di sebuah stasiun, ia pun mengaku bangga. "Senang. Tempat ini (Stasiun Tugu Yogyakarta) kan tempat bersejarah buat orang-orang Jogja," paparnya.
Begitu juga dengan Crysna Marsono. Ia pun mengaku bangga menjadi bagian dari pengantin peserta "Nikah Bareng Ning Stasiun Tugu". Baginya, hal itu menjadi pengalaman yang tak akan terlupakan.
Crysna dan Destiana merupakan dua peserta yang menjadi pengantin di hari berbahagia itu. Ada tujuh pengantin yang menikah, mereka ialah Slamet Purwanto dan Budi Murwanti, Crysna Marsono dan Restu Fauzi, Suyatni dan Rusmini, Mujiyanto dan Reni Kurniawati, Muslimin dan Susi Sunarni, Jumari dan Salimah, Iskandar dan Diah.
Mereka menikah di depan pintu masuk Stasiun Tugu, Selasa (6/9) pagi. Enam pasangan melangsungkan ijab qabul pada pagi hari tepat di depan pintu masuk Stasiun Tugu. Sementara satu pasangan lagi ijab qabul di dalam kereta api.
Usai ijab qabul, seluruh pengantin diarak menggunakan kereta api lokal Parameks, dari Stasiun Tugu ke Stasiun Maguwoharjo. Iring-iringan pasangan pengantin diikuti keluarga masing-masing, sebelum akhirnya mereka melakukan syukuran di tempat masing-masing. Bahkan, para hadirin yang ikut juga disuguhi hidangan kuliner nusantara sebagai tanda syukur.
"Nikah Bareng Ning Stasiun Tugu" merupakan gelaran nikah yang diadakan Forum Taaruf Indonesia (Fortais) dengan didukung PT KAI Daop 6. Seluruh pengantin tidak mengeluarkan uang alias menikah gratis. Nikah bareng menjadi momen peringatan HUT Kota Yogyakarta ke-260 tahun dan HUT PT KAI ke-71. (Fre)
BACA JUGA:

