MerahPutih.com - Memasuki pekan ketiga perang Rusia dan Ukraina, Pasukan Rusia diperingatkan akan menghadapi pertempuran sampai mati jika berusaha menduduki ibu kota Kiev. Sekitar 1.300 tentara Ukraina telah tewas dan mendesak Barat untuk lebih terlibat dalam negosiasi damai.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengatakan, Moskow sedang mengirim tentara baru setelah pasukan Ukraina melumpuhkan 31 batalion taktis Rusia, yang disebutnya sebagai kekalahan militer Rusia terbesar dalam beberapa dekade.
Baca Juga:
Akui Krisis Ukraina Perang Dunia III, AS Tegaskan tak akan Ikut Bertempur
"Kami masih harus bertahan. Kami masih harus berjuang," kata Zelenskyy dalam video, Sabtu (13/3).
Ia menegaskan, jika Rusia, memutuskan untuk menjatuhkan pengeboman besar-besaran dari udara dan menghapus sejarah serta menghancurkan semua, maka Rusia bisa memasuki Kiev.
"Jika itu tujuan mereka, biarkan mereka masuk, tapi mereka akan hidup sendiri di tanah ini," kata Zelenskyy.
Presiden yang kerap tampil di media sosial dari ibu kota itu mengatakan sejumlah kota kecil sudah tidak ada lagi.
Bahkan, pengeboman dari udara telah membuat ribuan warga terjebak di kota-kota yang terkepung oleh pasukan Rusia. Jumlah warga Ukraina yang mengungsi ke negara-negara tetangga mencapai 2,5 juta orang.
Pada Sabtu Ukraina menuduh pasukan Rusia membunuh tujuh warga sipil dalam serangan terhadap pengungsi perempuan dan anak-anak di dekat Kiev.
Dinas intelijen Ukraina melaporkan bahwa ketujuh warga itu, termasuk seorang anak, tewas ketika mengungsi dari desa Peremoha dan bahwa "penjajah memaksa rombongan pengungsi untuk kembali".
Namun, klaim ini belum dapat diverifikasi serta Rusia tidak berkomentar terkiat insidem tersebut. Tetapi, Moskow membantah menjadikan warga sipil target serangan mereka sejak menginvasi Ukraina pada 24 Februari.
Zelenskyy telah membahas situasi perang dengan Kanselir Jerman Olaf Scholz dan Presiden Prancis Emmanuel Macron, yang mendesak Putin untuk memerintahkan gencatan senjata segera.
Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Ryabkov menuduh AS berupaya menambah ketegangan. Dia mengatakan situasinya menjadi semakin rumit oleh konvoi bantuan militer Barat ke Ukraina. Konvoi bantuan itu dianggap oleh Rusia sebagai "target (serangan) yang sah". (*)
Baca Juga:
Saat Jokowi Dibuat Pusing Akibat Dampak Perang Rusia-Ukraina