Tsunami Bisa Datang Kapan Saja, Belajar dari Tsunami Aceh 

P Suryo RP Suryo R - Rabu, 27 Desember 2023
Tsunami Bisa Datang Kapan Saja, Belajar dari Tsunami Aceh 

Museum tsunami di Aceh mengingatkan pada becana besar. (Pixabay/saifulmulia)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

TEPAT 19 tahun lalu tsunami Aceh membelalakkan semua mata. Alam menunjukkan kekuatannya. Ada catatan yang tak boleh dilupakan dari bencana mahadahsyat tersebut, yaitu pentingnya pengurangan risiko bencana atau mitigasi bencana.

Tasya Millenia dalam tulisannya di laman resmi ITB, tsunami Aceh merupakan bencana yang dipicu gempa berkekuatan 9,1 hingga 9,3 Mw. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) saat itu menyatakan bahwa tsunami Aceh 26 Desember 2004 merupakan bencana kemanusiaan terbesar yang pernah terjadi.

Korban tsunami Aceh berdasarkan data American Association for the Advancement of Science (AAAS) setidaknya memakan 283 ribu jiwa. Kejadian ini meninggalkan pelajaran dan menginspirasi banyak pihak. Dampak tsunami 2004 terparah dilaporkan terjadi di Kota Banda Aceh, Aceh Besar, Aceh Barat, dan Aceh Jaya. Tsunami 2004 ini juga menerjang beberapa wilayah lain yang berada di sebelah timur Aceh seperti Pidie, Bireuen dan Lhokseumawe.

Baca Juga:

Belajar Dari 5 Tahun Tsunami Selat Sunda dan 19 Tahun Tsunami Aceh

tsunami
Material landaan tsunami berupa kapal terdampar di depan Hotel Medan Peunayong, Kota Banda Aceh. (PVMBG)

“Sejak kejadian ini, mitigasi bencana semakin menjadi sorotan bagi banyak pihak,” tulis Tasya Millenia, diakses Selasa (26/12). Selain korban jiwa, tsunami yang melanda Aceh ini juga memberikan dampak di beberapa sektor lain. Seperti sektor konstruksi yag berupa fasilitas kesehatan, pelabuhan, jalan, sekolah, tempat ibadah dan kantor-kantor pemerintahan.

Dampak lain dirasakan pada sektor perikanan yang mempengaruhi perekonomian para nelayan. Akibat bencana alam dan juga turunnya permukaan daratan pascagempa mengakibatkan terjadinya perubahan terhadap garis pantai.

Pada sektor pertanian, hampir seluruh wilayah perkebunan dan persawahan mengalami kerusakan. Sedangkan pada sektor non struktural, bencana ini meninggalkan trauma bagi banyak orang.

Secara geografis, Provinsi Aceh terletak di antara lempeng benua Eurasia dan lempeng benua Indo-Australia yang menjadikannya sebagai kawasan tektonik aktif. Tsunami yang terjadi diakibatkan oleh patahan di dasar laut yang menimbulkan gelombang tsunami di sepanjang lempeng Indo-Australia dan Eurasia.

Gempa bumi yang terjadi di barat perairan Aceh ini mempunyai patahan yang panjang sampai dengan Laut Andaman. Patahan tersebut termasuk patahan terpanjang dalam sejarah (The National Science Foundation, 2005).

Penjalaran dari gelombang tsunami ini dapat terpantau di beberapa Negara Asia Tenggara seperti Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Myanmar. Kemudian juga terpantau di beberapa Negara Asia Selatan seperti Sri Lanka, Maldives, dan India. Bahkan terpantau di beberapa Negara di Pantai Timur Benua AFrika, yaitu Somalia dan Seychelles.

Diperlukan langkah nyata berbasis alasan ilmiah yang cukup agar didapat gerak yang efektif dalam menanggulangi dan sekaligus bersiap mengantisipasi bencana di masa depan. Demikian catatan penting dari tsunami Aceh dari Ketua Umum Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Andang Bachtiar yang ditulis Krisna Murti di laman ITB.

Tulisan tersebut tayang di situs resmi ITB setahun setelah tsunami Aceh, namun masih relevan hingga kini di saat bencana telah terjadi 19 tahun lalu.

“Kita semua menundukkan kepala, kita semua berduka, kita semua menangis. Tapi tangisan dan keprihatinan saja tidak cukup dalam menyikapi sebuah bencana. Diperlukan langkah nyata berbasis alasan ilmiah yang cukup agar didapat gerak yang efektif dalam menanggulangi dan sekaligus bersiap mengantisipasinya lagi di masa depan,” papar Andang Bachtiar, dikutip dari laman ITB.

Baca Juga:

Prabowo Ungkap Rasa Kagumnya pada SBY saat Hadapi Krisis Tragedi Tsunami Aceh

tsunami
Dampak Tsunami di Aceh. (PVMBG)

Menurutnya, sudah saatnya kita menangani bencana tidak hanya dengan mengandalkan naluri belaka. Kondisi geologi Indonesia yg merupakan pertemuan lempeng-lempeng tektonik menjadikan kawasan Indonesia ini memiliki kondisi geologi yang sangat kompleks.

Selain menjadikan wilayah indonesia ini kaya akan sumber daya alam, salah satu konsekuensi logis kekompleksan kondisi geologi ini menjadikan banyak daerah-daerah di Indonesia memiliki tingkat kerawanan yang tinggi terhadap bencana alam. Beberapa di antaranya adalah rawan gempa bumi, tsunami serta rawan letusan gunung api disepanjang ring of fire dari Sumatra - Jawa - Bali - Nusatenggara -Banda - Maluku.

Daerah rawan bencana gempa dan tsunami Indonesia hampir semuanya berada pada daerah yang tingkat populasinya sangat padat. Daerah-daerah ini sering merupakan pusat aktivitas serta sumber pendapatan masyarakat serta negara, dan menjadi pusat pencurahan dana pembangunan.

“Namun ketika bencana gempa dan tsunami itu terjadi maka usaha-usaha pembangunan yang sudah dilakukan akan hilang dan lenyap dalam waktu yang sangat singkat dan bersifat katastropik,” kata Andang Bachtiar.

IAGI sebagai organisasi profesi dan masyarakat ilmiah perlu memberikan pendapat ilmiah dari sisi ilmu kegeologian dan cabang ilmu geologi yang terkait.

Kejadian serupa dengan gempa Aceh sangat mungkin terjadi di sebelah selatan dari rangkaian zona penunjaman yang sekarang menjadi pusat gempa dalam hitungan seminggu, sebulan, setahun, atau 10 tahun kedepan; artinya dapat sewaktu-waktu terjadi dalam skala waktu geologi.

“Untuk itu kita tidak boleh hanya menunggu, kita semua harus proaktif melakukan mitigasi, pemantauan, pembangunan sistim peringatan dini, dan sosialisasi-sosialisasi SEKARANG JUGA,” kata Andang Bachtiar.

Kemudian bencana gempa bumi Aceh ini merupakan salah satu gejala alam yang 'wajar' terjadi untuk daerah yang memiliki kondisi geologi yang kompleks ini. Namun perlu diketahui bahwa peramalan gempa bumi dan tsunami dari segi sains adalah yang paling sulit dilakukan dibanding dengan gunung meletus, longsoran tanah, dan banjir.

“Dengan kajian geologi, bencana ini bukanlah hal yang tidak dapat diramalkan, namun rentang waktu ketidaktentuan terjadiannya mempunyai derajat ketidakpastian cukup besar. Akurasi peramalan terjadinyapun berkisar dari 10-50 (?) tahun, sehingga yang perlu dilakukan adalah selalu bersiap diri untuk mengalaminya (keep on alert!!),” lanjut Andang Bachtiar.

Lalu HARUS disadari penuh oleh pemerintah dan masyarakat Indonesia bahwa kita hidup di daerah rawan bencana alam. Juga perlu disadari bahwa bencana alam hampir selalu datang tiba-tiba. Dengan demikian bangsa Indonesia HARUS pandai menyiasati cara-cara hidup berdampingan dengan kondisi alam yang rawan bencana tersebut.

Baca Juga:

Bersiap Hadapi 4 Skenario Ancaman Tsunami Besar Samudera Hindia

tsunami
Museum tsunami di Aceh. (ANTARA FOTO/Irwansyah Putra)

Contohnya: Jepang dan California, mereka dapat hidup maju di daerah rawan bencana. Tetapi mereka dapat menyiasati bencana sehingga meminimalkan jumlah korban dan kerugian setiap kali bencana datang. Dalam hal ini kewaspadaan (keep on alerted) lebih berguna daripada prediksi.

Yang tak kalah penting adalah kesadaran dan kesiapan menghadapi bencana alam perlu ditanamkan kepada masyarakat melalui sosialisasi pengenalan kondisi lingkungan geologi serta kesiapan dalam menghadapi bencana alam di lingkungannya.

Hampir semua bencana ini di awali dengan gejala-gejala yang perlu diketahui oleh masyarakat sehingga ada kesempatan untuk dapat menghindarinya. Misalnya: surutnya muka air-laut yg tidak wajar (secara tiba-tiba) setelah terasa gempa merupakan tanda-tanda akan datangnya tsunami.

Kemudian gempa bumi dan tsunami tak sama seperti gunung meletus, longsoran tanah, dan banjir adalah peristiwa geologi yang dari waktu kewaktu terjadi di seluruh mukaBbumi sebagai keniscayaan tanpa ada manusia yang dapat mencegahnya.

Karena ada aktivitas manusia di daerah yang mengalami peristiwa geologi tersebut, maka timbulah BENCANA. Mitigasi bencana dan tindakan-tindakan antisipasinya adalah syarat mutlak untuk dapat hidup berdampingan dengan bencana alam geologi.

Selain kondisi kritis sesar-sesar atau patahan Sumatera, gempa ini sering juga menjadi pemicu aktivitas gunung api (ring of fire Sumatra - Jawa - Nusa Tenggara) yang tentu saja memicu dan memacu gejala-gelaja katastropik yang lain-lainnya (domino effect).

Efeknya mungkin memang tidak akan langsung tetapi sangat mungkin mengakselerasi dan mengubah status-status gunung api, kelongsoran dan lain sebagainya. Artinya harus ada evaluasi ulang tentang status kerawanan bencana di daerah-daerah ini.

Perlu political will pemerintah untuk segera memprioritaskan program mitigasi bencana alam geologi. Seperti gempa dan tsunami, pembangunan sistim peringatan dini, dan sosialisasi, latihan-latihan tindakan penyelamatan manusia dalam bencana.

Implikasi dari political will pemerintah adalah alokasi biaya/anggaran untuk melaksanakan program-program mitigasi, pemantauan, sistem peringatan dini, dan sosialisasi-sosialisasi.

Apabila pemerintah tidak mampu secara materi, ada baiknya meminta bantuan luar negeri. Ini demi keselamatan ribuan dan bahkan puluhan ribu nyawa bangsa Indonesia yang beresiko mengalami bencana. Bantuan ini dapat berupa kerja sama penelitian ilmiah, peralatan peringatan dini atau dana untuk sosialisasi ke masyarakat yang rawan terhadap bencana ini.

Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) HARUS BENAR-BENAR disesuaikan dengan kondisi daya dukung alam termasuk potensi kebencanaan daerah. Pemda, DPRD, LSM, dan masyarakat luas HARUS mengontrol benar-benar penerapan prinsip-prinsip pembangunan dan pengembangan wilayah daerah rawan bencana.

“Saat ini masih sering dijumpai RTRW di daerah-daerah yang sama sekali tidak memperhitungkan hal tersebut. Tsunami sebagian besar memakan korban bukan karena gempa yang memang belum terpantau secara seksama melainkan karena ketidakpedulian kita akan konsep tata ruang pantai/teluk, pemetaan bathymetric wilayah dan tidak adanya pemasangan alat pantau dini alun panjang yang terintegrasi,” papar Andang Bachtiar. (Imanha/Jawa Barat)

Baca Juga:

Museum Tsunami Aceh, Mengenang Bencana Besar di Bumi Serambi Mekah

#Teknologi #Tsunami
Bagikan
Ditulis Oleh

P Suryo R

Stay stoned on your love

Berita Terkait

Lifestyle
Amazfit Rilis Seri Cheetah 2 Series di Indonesia, Pilihan Pas untuk Pelari Serius dan Atlet Endurance
Amazfit memperkuat komitmen mereka dalam menghadirkan smartwatch sport-performance yang membantu pengguna berlatih lebih terarah.
Dwi Astarini - Rabu, 10 Juni 2026
Amazfit Rilis Seri Cheetah 2 Series di Indonesia, Pilihan Pas untuk Pelari Serius dan Atlet Endurance
Indonesia
Peringatan Tsunami di Sangihe Dicabut, Kepala BMKG : Tak ada lagi Kenaikan Muka Air Laut
Hasil pemantauan menunjukkan tidak ada lagi kenaikan muka air laut yang signifikan dan membahayakan masyarakat pesisir.
Dwi Astarini - Senin, 08 Juni 2026
Peringatan Tsunami di Sangihe Dicabut, Kepala BMKG : Tak ada lagi Kenaikan Muka Air Laut
Indonesia
Gempa M 7.7 Sangihe, BNPB Catat Adanya Sejumlah Tsunami ‘Kecil’
Berdasarkan hasil evaluasi alat pemantau muka air laut, gelombang tsunami minor telah terdeteksi di beberapa stasiun pemantau pantai.
Dwi Astarini - Senin, 08 Juni 2026
Gempa M 7.7 Sangihe, BNPB Catat Adanya Sejumlah Tsunami ‘Kecil’
Indonesia
BMKG Catat Tsunami Gelombang Pertama Gempa M 7,7 di 3 Lokasi, Tingginya Belasan
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi gelombang tsunami pertama pascagempa tektonik magnitudo 7,7 di Laut Sulawesi, Senin (8/6) pagi, telah tiba.
Wisnu Cipto - Senin, 08 Juni 2026
BMKG Catat Tsunami Gelombang Pertama Gempa M 7,7 di 3 Lokasi, Tingginya Belasan
Tekno
Vivo X500 Ultra Batal Pakai Kamera Telefoto 10x, OPPO Find X10 Ultra Makin tak Tertandingi
OPPO Find X10 Ultra kini makin tak tertandingi. Sebab, Vivo X500 Ultra mundur dari kamera telefoto 10x.
Soffi Amira - Senin, 08 Juni 2026
Vivo X500 Ultra Batal Pakai Kamera Telefoto 10x, OPPO Find X10 Ultra Makin tak Tertandingi
Indonesia
Warga Kepulauan Sangihe Mulai Mengungsi Imbas Peringatan Tsunami Gempa M 7,7
Gempa 7,7 SR di Pantai Selatan Mindanao, Filipina, memicu kepanikan warga Kepulauan Sangihe.
Wisnu Cipto - Senin, 08 Juni 2026
Warga Kepulauan Sangihe Mulai Mengungsi Imbas Peringatan Tsunami Gempa M 7,7
Indonesia
Gempa M 7,7 Mindanao-Filipina Picu Peringatan Tsunami, Subduksi Lempeng Biang Keladinya
Gempa 7,7 SR mengguncang Pantai Selatan Mindanao, Filipina, Senin (8/6) memicu peringatan tsunami. BMKG menyebut gempa akibat subduksi lempeng dengan potensi tsunami di sejumlah wilayah pesisir Indonesia.
Wisnu Cipto - Senin, 08 Juni 2026
Gempa M 7,7 Mindanao-Filipina Picu Peringatan Tsunami, Subduksi Lempeng Biang Keladinya
Indonesia
Daftar 22 Wilayah Pesisir 5 Provinsi Berpotensi Tsunami, Imbas Gempa M 7,7 Sangihe
Episenter gempa berada di laut lepas timur Pulau Sangihe, berbatasan langsung dengan Filipina, pada kedalaman 105 km. Lokasi episenter tercatat di koordinat 5,69° LU dan 125,05° BT.
Wisnu Cipto - Senin, 08 Juni 2026
Daftar 22 Wilayah Pesisir 5 Provinsi Berpotensi Tsunami, Imbas Gempa M 7,7 Sangihe
Tekno
Xiaomi 18 Gegerkan Pasar Flagship, Jadi HP Pertama yang Pakai Snapdragon 8 Elite Gen 6!
Xiaomi 18 akan meluncur September 2026. HP itu akan menjadi yang pertama menggunakan chipset Snapdragon 8 Elite Gen 6.
Soffi Amira - Kamis, 04 Juni 2026
Xiaomi 18 Gegerkan Pasar Flagship, Jadi HP Pertama yang Pakai Snapdragon 8 Elite Gen 6!
Tekno
OPPO Reno 16, Reno 16 Pro, dan Reno 16 FS Segera Meluncur Global, Berikut Spesifikasinya
OPPO Reno 16 global kini mulai muncul. Kabarnya, HP tersebut akan segera meluncur dalam waktu dekat.
Soffi Amira - Rabu, 03 Juni 2026
OPPO Reno 16, Reno 16 Pro, dan Reno 16 FS Segera Meluncur Global, Berikut Spesifikasinya
Bagikan